Wednesday, September 28, 2016

Sejarah Perkembangan Inseminasi Buatan

Inseminasi buatan pada hewan peliharaan telah dilakukan sejak beberapa abad yang lampau. Seorang pangeran Arab yang berperang melawan pangeran lain (tetangganya) pada permulaan abad ke-14, dengan menggunakan suatu tampon kapas, telah mencuri semen dari dalam vagina seekor kuda betina musuhnya yang baru saja dikawinkan dengan pejantan terkenal yang cepat larinya. Tampon tersebut kemudian dimasukkan ke dalam vagina kudanya sendiri yang sedang birahi, dan ternyata kuda betina tersebut menjadi bunting dan melahirkan anak yang tampan dan cepat larinya. Sesudah itu tidak ada catatan mengenai pelaksanaan inseminasi buatan atau penelitian kea rah penggunaan teknik tersebut.

Tiga abad kemudian, yaitu pada tahun 1677, Anton Van Leeuwenhoek, sarjana Belanda penemu mikroskop dan muridnya Johan Hamm merupakan orang pertama yang melihat sel-sel kelamin jantan dengan mikroskop buatannya sendiri. Mereka menyebut sel-sel kelamin jantan yang tidak terhitung banyaknya itu sebagai “animalculae” yang berarti jasad-jasad renik hewani yang mempunyai daya gerak maju progresif. Di kemudian hari sel-sel kelamin jantan tersebut dinamakan spermatozoa. Pada tahun berikutnya, 1678, seorang dokter dan anatom Belanda, Reijnier (Regner) de Graaf menemukan folikel dalam ovarium kelinci.

Penelitian ilmiah yang pertama dalam inseminasi buatan pada hewan peliharaan dilakukan oleh fisiolog dan anatom Italia terkenal yaitu Lazaro Spallanzani pada tahun 1780. Setelah berhasil menginseminasi amphibian ia memutuskan untuk melanjutkan percobaannya pada anjing. Anjing-anjing betina dikandangkan dalam rumahnya sendiri dan sesudah lewat 20 hari, seekor anjing betina memperlihatkan tanda-tanda birahi yang nyata. Anjing tersebut diinseminasi dengan semen (pada suhu tubuh) yang dideposisikan langsung ke dalam uterus dengan menggunakan spuit lancip. 62 hari sesudah inseminasi induk anjing tersebut melahirkan 3 anak yang kesemuanya bukan saja serupa dengan induknya tetapi juga mirip anjing buatan yang dipakai semennya.

Pada tahun 1782 percobaan Spallanzani diulangi oleh P. Rossi (Italia) dengan hasil memuaskan. Semua percobaan ini membuktikan bahwa kebuntingan dapat terjadi dengan menggunakan inseminasi dan menghasilkan turunan yang normal.
Spallanzani selanjutnya membuktikan bahwa daya membuahi semen terletak pada spermatozoa, bukan pada cairan semen. Hal ini dibuktikan dengan menyaring semen yang baru ditampung, cairan yang melewati saringan tidak mempunyai daya membuahi sedangkan yang tertinggal di atas filter mempunyai daya fertilisasi yang tinggi.

Inseminasi buatan pertama kali digunakan pada peternakan kuda di Eropa pada tahun 1890 ketika seorang dokter hewan Prancis, Repiquet menasehatkan pemakaian teknik tersebut sebagai suatu cara untuk mengatasi kemajiran. Pada waktu itu dalam beberapa peternakan kuda di Eropa persentase konsepsinya sangat rendah sehingga dilakukan penelitian-penelitian dalam usaha untuk mengatasinya.
Profesor Hoffman dari Stuttgart, Jerman menganjurkan inseminasi buatan sesudah perkawinan alam. Setelah perkawinan alam, vagina dikuakkan dengan speculum dan semen diambil dengan spuit, kemudian dicampur dengan susu sapi dan diinseminasikan lagi ke dalam uterus hewan tersebut.

Pada tahun 1902, Sand dan Stribolt dari Denmark, setelah berhasil memperoleh 4 konsepsi dari 8 kuda betina yang diinseminasi, menganjurkan inseminasi buatan sebagai suatu cara yang ekonomis dalam penggunaan dan penyebaran semen dari kuda jantan yang berharga dan untuk memajukan peternakan pada umumnya.

Dalam perkembangan selanjutnya tercatat Rusia menjadi Negara pertama yang menggunakan metode inseminasi buatan secara serius sebagai suatu cara untuk memajukan peternakan. Peneliti Rusia yang terkenal dan pelopor terkemuka di bidang inseminasi buatan adalah Profesor Elia Ivannoff. Ivannoff yang pertama kali berhasil melakukan inseminasi buatan pada sapi dan domba. Selain inseminasi pada kedua ternak tersebut, inseminasi pada kuda juga berhasil di bawah pengawasannya. Di Askaniya-Nova pada tahun 1912 inseminasi pada 39 ekor kuda betina menghasilkan 31 konsepsi, sedangkan dengan perkawinan alam hanya diperoleh 10 konsepsi dari 23 kuda betina. Dengan keberhasilan inseminasi buatan oleh Ivannoff tersebut telah mengundang banyak perhatian dan kemudian mendorong pemerintah Rusia mendirikan laboratorium kedokteran hewan pada Departemen Pertanian dengan tujuan utama untuk mempelajari fisiologi pembuahan dan melatih dokter-dokter hewan dalam teknik inseminasi buatan.

Pada tahun 1914 seorang guru besar fisiologi manusia di Roma, Giuseppe Amantea melakukan penelitian-penelitian mengenai spermatologi. Ia menggunakan anjing, ayam dan burung merpati sebagai hewan percobaan. Dan penemuan terbesarnya yang membantu perkembangan inseminasi buatan adalah vagina buatan (artifisian vagina) pertama pada anjing, dan selanjutnya vagina buatan tersebut dapat digunakan dan dikembangkan banyak peneliti di Rusia untuk membuat vagina buatan untuk sapi, kuda dan domba. Penemuan vagina buatan ini merupakan suatu sumbangan yang sangat berharga dan satu langkah maju dalam inseminasiu buatan, karena dengan menggunakan vagina buatan semen yang diejakulasikan dapat ditampung seluruhnya dan juga dapat menghindari kontaminasi dan kemungkinan infeksi dari vagina hewan betina.

Penggunaan inseminasi buatan secara besar-besaran pada sapi dilakukan oleh Milovanov (Rusia) sejak tahun 1931. Sampai tahun 1936 di Rusia telah dilakukan inseminasi buatan pada 6,45 juta ekor domba dan 230.000 ekor sapi. Pada tahun 1938, angka-angka ini meningkat menjadi 120.000 kuda, 1,2 juta sapid an 15 juta domba. Di Rusia, inseminasi pada domba telah menjadi sangat popular dan kebanyakan peternakan dan kawanan domba inilah satu-satunya cara beternak yang digunakan.

Di luar Rusia, Denmark menjadi negara yang pertama-tama memulai dan menganjurkan pekerjaan-pekerjaan secara sistemik mengenai inseminasi buatan. Professor Eduard Sorensen dan Jens Gylling-Holm mengorganisir koperasi inseminasi buatan yang pertama di Denmark pada tahun 1936.

Pada tahun 1949 ditemukan teknik pembekuan semen sapi oleh C. Polge, A.U. Smith dan A.S. Parker di Inggris. Penemuan ini mempercepat kemajuan inseminasi buatan. Mereka berhasil menyimpan semen untuk jangka panjang dengan membekukannya sampai -79 ⁰C dengan menggunakan CO₂ padat (dry ice) sebagai pembeku dan glycerol sebagai pengawet. Penggunaan nitrogen cair kemudian ternyata lebih praktis dan semen dapat lebih tahan lama hidup dengan suhu penyimpanan -196 ⁰C.

Kemajuan inseminasi buatan dilaporkan pada tahun 1970 telah berhasil menginseminasi lebih dari 30 juta ekor sapi di Eropa, 20 juta di Rusia, 10 juta di Amerika Utara dan 2 juta di Amerika Selatan.

Sejarah dan Perkembangan inseminasi Buatan di Amerika dan di daerah Tropis
Inseminasi buatan di Amerika Serikat diperkenalkan pada tahun 1937 dan koperasi inseminasi buatan yang pertama didirikan pada tahun 1938, namun teknik inseminasi buatan ini baru dapat diterima oleh masyarakat peternak pada tahun 1945. Sampai pada tahun 1950 barulah terlihat pengaruh-pengaruh genetic terhadap populasi ternak sapi. Pada tahun 1956 sebanyak 21 % sapi perah di Amerika Serikat diinseminasi secara buatan, pada 1969 meningkat menjadi 52 % atau 8 juta sapi.

Selain bertujuan untuk meningkatkan populasi, perkembangan inseminasi buatan di Amerika juga dimanfaatkan sebagai alat untuk mengendalikan penyakit dan menaikkan mutu genetik. Meski demikian inseminasi buatan ini tidak dipakai secara luas untuk menaikkan mutu ternak sapi perah di Amerika Serikat. Perkembangan inseminasi buatan komersial pada sapi perah di Amerika Serikat merupakan hasil sumbangan dari Institut Pertanian dan Universitas-universitas di seluruh negeri itu.

Sedangkan perkembangan inseminasi buatan pada beberapa negara berkembang sesudah tahun 1960 atau setelah informasi tentang inseminasi buatan diketahui. Selama periode 1960-1970 banyak publikasi yang menyarankan pentingnya peningkatan persediaan makanan, terutama makanan yang berasal dari ternak untuk memenuhi kebutuhan konsumsi populasi manusia yang bertambah banyak. Sebagai akibatnya banyak perhatian yang dicurahkan untuk pengembangan dan penerapan teknik-teknik beternak modern, seperti inseminasi buatan untuk mengintensifkan produksi ternak.

Perkembangan yang menonjol dalam periode 10 tahun tersebut adalah: inseminasi buatan pada babi telah berkembang di Hongkong, Srilanka, Tiongkok Selatan, Thailand, Filipina, Jamaica, Australia dan Burma. Selain itu berkembang inseminasi buatan pada kerbau di India dan Pakistan.

Inseminasi buatan pada babi di Burma, Jamaika, Thailand dan Taiwan menunjukkan hasil-hasil positif. Perkembangan inseminasi buatan pada babi sangat pesat terjadi di Hongkong dimulai sejak tahun 1958-1959. Inseminasi buatan pada domba tidak mempunyai arti praktis di daerah-daerah tropis demikian pula inseminasi buatan pada kambing tidak mendapat perhatian.

Di India, inseminasi buatan pada kerbau mencapai 54,2 % konsepsi, sedangkan di Pakistan persentase kerbau betina yang tidak kembali minta kawin mencapai 80,9 %. Di jamaika, pelayanan inseminasi buatan berkembang atas usaha dan rangsangan program pengembangan peternakan dari pihak pemerintah. Target program tersebut adalah meningkatkan produksi susu menjadi 3 kali lipat pada tahun 1975. Sebagian besar pelaksanaan inseminasi buatan masih menggunakan semen cair. Semen beku dan nitrogen cair sebagai bahan pengawet baru diperkenalkan pada tahun 1962.

Kenya memberikan suatu gambaran perkembangan inseminasi buatan pada sapi secara mantap. Antara tahun 1948-1958 jumlah sapi yang diinseminasi menanjak dari 10.503 menjadi 101.345 dan mencapai 259.219 pada tahun 1967. Peningkatan ini dari 6 kali lipat selama 10 tahun meningkat menjadi 18 kali lipat dalam masa 18 tahun.

No comments: