Wednesday, September 28, 2016

Inseminasi Buatan pada Unggas

Pendahuluan
Inseminasi buatan (IB) pada unggas sebenarnya sudah dikenal sebelum tahun 1926 di daratan China dimana pada saat itu IB dilaksanakan untuk ternak itik. 25 tahun kemudian IB dipraktekkan di Eropa Timur dan Israel pada angsa. Namun dalam perkembangannya hingga saat ini sudah jauh dikenal untuk mengembangkan unggas terutama untuk ayam pembibit.

Teknik perkawinan secara IB mutlak diperlukan untuk mempercepat peningkatan populasi ayam, khususnya ayam petelur, pedaging dan ayam kesayangan lainnya. Teknik IB merupakan bagian dari tatalaksana ternak unggas dengan tujuan utama adalah memproduksi anak ayam semaksimal mungkin. Disini ada keterkaitan antara fertilitas, daya tetas dan kemampuan memproduksi anak ayam. Keberhasilan untuk menghasilkan anak ayam yang berkualitas tinggi tidak terlepas dari jumlah anak ayam yang menetas (daya tetas), sedangkan daya tetas selalu berhubungan dengan fertilitas telur. Tatalaksana yang baik dari induk yang meliputi; perkandangan, pemberian pakan, pemilihan bibit dan teknik perkawinan yang betul akan menghasilkan fertilitas yang tinggi. Dengan manajemen yang baik maka anak ayam yang dihasilkan kemudian akan digunakan sebagai pengganti induk.

Tujuan inseminasi buatan pada ayam dan ayam kesayangan adalah:

1. Mempercepat proses regenerasi
Regenerasi pada makhluk hidup selalu terjadi terus menerus dan merupakan fenomena alam. Siklus dari regenerasi pada unggas relative cepat dibandingkan dengan ternak mamalia. Namun apabila dibandingkan dengan perkawinan alam ternyata regenerasi ini dapat dipercepat dengan cara perkawinan secara alam tidak dapat dikontrol umlah sperma yang digunakan dan kurang efisien untuk unggas. Dengan adanya IB maka kemampuan induk (pejantan dan betina) untuk berkembang biak akan lebih leluasa.

2. Mempertahankan sifat keturunan yang baik
Keberhasilan IB tidak hanya menurunkan jumlah biaya untuk pemeliharaan ayam pembibit tetapi dengan perkawinan ini peternak dapat mempertahankan sifat genetic yang baik dari unggas (ayam) yang dimilikinya. Sifat yang baik dari pejantan dapat dipertahankan kemudian dikembangkan dan disebarluaskan kepada peternak lain yang membutuhkan.

Disamping itu dapat mengurangi dan menanggulangi adanya kesulitan kawin karena perbedaan berat badan antara pejantan dan betina, pada perkawinan secara alam dengan system pemeliharaan dengan lantai letter (tanah). Pejantan yang unggul tetapi mempunyai berat badan yang besar dan dapat mengawini betina yang proporsi badannya lebih ringan dengan jalan IB. Hal ini berarti sifat genetic yang baik masih tetap dapat disebarluaskan tanpa adanya hambatan perkawinan.

Apabila dibandingkan dengan perkawinan secara alam ternyata IB pada unggas memberikan beberapa keuntungan, yaitu:

1. Menurunkan jumlah pejantan
Sungguh tidak efisien apabila beternak unggas tidak merencanakan pejantan dan betina yang dipelihara. Perbandingan antara jumlah jantan dan betina mementukan jumlah keuntungan dari peternak unggas. Pada perkawinan alam setiap 100 ekor betina membutuhkan 8-10 ekor pejantan, tetapi pada perkawinan secara IB hanya membutuhkan 3-4 ekor pejantan, ini disesuaikan dengan kebutuhan sperma untuk jumlah tertentu dari ayam betina yang dipelihara.

2. Menghemat pakan
Dengan mengurangi jumlah pejantan yang dipelihara berarti akan mengurangi jumlah pakan yang diberikan dan keuntungan yang diperoleh akan lebih besar. Pemeliharaan pejantan pada kandang battery ternyata mampu menghemat pakan 10% dibandingkan dengan pemeliharaan secara letter.

3. Menghemat tempat untuk pemeliharaan ayam pejantan
Mengurangi jumlah pejantan yang dipelihara berarti mengurangi jumlah kebutuhan ruangan dan kandang, sehingga ruangan tersebut dapat digunakan untuk memelihara induk.

4. Meningkatkan fertilitas telur
Perkawinan secara IB dapat meningkatkan fertilitas telur. Hal ini karena kebutuhan optimal sperma untuk menghasilkan fertilitas yang maksimal dapat dekat secara pasti sejak awal. Penggunaan sperma 100 juta/ml sudah cukup menghasilkan fertilitas lebih dari 95%. Sedangkan dengan kawin alam adalah 78%.

5. Meningkatkan harga DOC
Karena fertilitas meningkat maka jumlah anak ayam (DOC) yang dihasilkan meningkat pula. Metode perkawinan secara IB dapat meningkatkan jumlah DOC antara 8-10%.
Meskipun perkawinan secara IB banyak memberikan keuntungan namun terdapat juga beberapa kerugian, antara lain:

1. Membutuhkan tenaga kerja yang terampil. IB merupakan teknologi baru di dunia peternakan unggas sehingga mau tidak mau harus dipersiapkan tenaga terampil untuk menangani IB.
2. Membutuhkan peralatan ekstra sehingga peternak mengeluarkan biaya tambahan.
3. Kemungkinan penyebaran penyakit melalui sperma yang bercampur feses.

Kerugian ini tidaklah seberapa bila dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh.
Alat kelamin ayam jantan secara anatomi dan fungsinya terbagi dalam tiga bagian yaitu, testes dengan epididimis, sepasang saluran deferens dan alat kopulatoris.

Testes terlihat di rongga badan deret pada tulang belakang yaitu bagian belakang paru-paru atau bagian depan dari ginjal. Testes berbentuk seperti biji buah buncis dengan warna putih krem. Testes berfungsi untuk menghasilkan spermatozoa pada tubulus semeniferus dan hormone testosterone pada sel Laydig. Setelah tubulus semeniferus kemudian ke saluran epididimis lalu diperpanjang oleh saluran deferens dan berakhir di kloaka. Saluran deferens ini merupakan tempat transit dari sperma.

Bila dibandingkan dengan mamalia maka saluran deferens pada unggas merupakan tempat pemasakan dan terjadi pada epididimis. Saluran deferens ini berakhir pada kloaka. Alat kopulasi pada ayam berupa penis (papila) yang rudimenter. Pada itik dan angsa papila ini lebih panjang berbentuk spiral.

Organ reproduksi unggas betina secara normal memiliki hanya satu ovarium dan satu saluran telur, yaitu sebelah kiri. Ovarium terletak di ujung cranial ginjal dan agak ke kiri dari garis tengah daerah sublumbal cavum abdominal, ia tergantung pada dinding dorsal abdomen oleh suatu lipatan peritoneum. Saluran telur dapat dibagi atas lima bagian, masing-masing dengan fungsi tertentu. Infundibulum yang berbentuk corong, menampung kuning telur yang diovulasikan dari ovarium. Kuning telur diteruskan ke magnum yang menghasilkan albumin atau putih telur. Selanjutnya ke isthmus yang mensekresikan selaput kulit ke uterus atau kelenjar kulit yang menghasilkan kulit telur, dan akhirnya ke vagina yang membantu pengeluaran telur.
Dalam penerapan teknologi IB ada faktor yang berpengaruh terhadap fertilitas telur, yaitu: konsentrasi sperma, interval antara waktu indeminasi, waktu inseminasi, deposisi semen, umur, dan strain ayam. Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk keberhasilan IB pada ayam:

1. Konsentrasi spermatozoa 100 juta/ml cukup untuk menghasilkan fertilitas lebih dari 95% dari telur yang dikumpulkan dari hari ke 2-9 setelah IB. Konsentrasi kurang dari 100 juta/ml menurunkan fertilitas telur.

2. Interval antara waktu inseminasi sangat dipengaruhi oleh kemampuan sperma untuk hidup transit dan disimpan pada alat reproduksi ayam betina. Spermatozoa ini disimpan dalam glandula oviduct. Waktu ideal untuk memperoleh fertilitas yang tinggi adalah 6-10 hari (rata-rata 7 hari), oleh karena itu IB dilakukan sekali dalam seminggu.

3. Transit dan penyimpanan spermatozoa di dalam saluran reproduksi dipengaruhi oleh aktivitas dari oviduct antara lain ada atau tidaknya telur di uterus, sekresi bagian telur, sekresi cairan uterus. Keberhasilan IB berkorelasi dengan saat prooses pembentukan telur. Di dalam industry peternakan ayam pembibit, IB dilakukan 8 jam setelah matahari terbit atau memakai penerangan buatan. Hal ini karena sebagian besar ayam bertelur 4 jam setelah mendapatkan cahaya.

4. Secara teoritis tempat untuk IB dapat dilakukan pada alat reproduksi ayam pada bagian vagina, uterus atau magnum. Tempat terbaik untuk IB sebenarnya pada utero-vaginal junction tetapi sulit pelaksanaannya karena tempatnya masuk ke dalam alat reproduksi kira-kira 3-4 cm dari kloaka. Biasanya IB sering dilakukan pada pertengahan vagina yaitu kira-kira 1-2 cm dari kloaka agar sperma tidak kembali karena adanya kontraksi oviduct atau erosi dari uterovaginal junction. Erosi sperma yang masuk menyebabkan terjadinya infertilitas.

Ayam yang berumur lebih dari 40 minggu mempengaruhi fertilitas yang rendah ini disebabkan karena kemampuan original dari ayam betina itu sendiri di dalam menghasilkan telur yang fertil.

Pelaksanaan IB
disnak.jatimprov.go.id
 Sebelum melaksanakan inseminasi spermatozoa ayam pejantan ke ayam betina, persiapan-persiapan yang dilakukan adalah:

a. Persiapan alat-alat IB
- Corong plastic atau gelas dilapisi paraffin pada bagian lobangnya.
- Tabung penampung.
- Tuberculine pipet/spuite 1 cc.
Pejantan harus dipisahkan sekurang-kurangnya 1 hari dari betina sebelum diambil air maninya. Ayam pejantan harus diperlakukan secara halus dan perlakuan yang kasar dapat mengakibatkan kegagalan memperoleh air mani. Makanan ayam jantan yang dipakai harus terdiri dari banyak makanan butir-butiran.

b. Cara pengambilan air mani
Cara terbaik untuk mengambil air mani pada ayam jantan dengan cara mengurut pada bagian sekitar anus. Untuk itu diperlukan 2 orang yaitu untuk memegang ayamnya, dan yang lainnya mengadakan urutan pada bagian sekeliling anus dan menampung air mani yang keluar dengan corong beserta tabung penampungnya.
Orang pertama memegang ayam jantan pada bagian diantara kedua kaki dengan tangan kiri, sambil menarik ke bawah kedua sayapnya dengan tangan kanan. Orang kedua dengan tangan kiri mengangkat ekornya ke atas, sambil mengadakan urutan ke muka dan ke belakang pada bagian sekeliling anus, dengan corong yang berisi tabung penampung pada tangan kanan menampung air mani yang keluar. Urutan pada anus dilakukan dengan jari telunjuk dan ibu jari secara teratur dan terus-menerus sampai ayam jantan member respon dengan keluarnya penis dari kloaka dan pada saat ini akan diejakulasikan air maninya.
Kadang-kadang air mani yang diperoleh terkontaminasi oleh darah, ini disebabkan oleh adanya luka pada papilla penis, ayam jantan harus segera diistirahatkan.
c. Evaluasi semen
d. Pengenceran air mani

Air mani pada ayam akan mengalami banyak kerusakan di dalam bahan pengencer daripada air mani mamalia. Bahan pengencer untuk sapi bukanlah bahan pengencer yang baik untuk air mania yam. Sel spermatozoa akan lebih lama hidup di dalam oviduct bagian anterior karena di bagian itu banyak terdapat albumin. Sel-sel spermatozoa hanya dapat hidup beberapa menit di dalam bahan pengencer. Oleh karena itu penambahan bahan pengencer air mani ayam hanya mempunyai arti penambahan volume air mani dan bukan untuk penyimpanan. Air mani yang diencerkan harus segera diinseminasikan.

e. Cara inseminasi pada ayam betina
Dalam melakukan inseminasi pada ayam diperlukan 2 orang, pertama pemegang betina yang akan diinseminasi pada bagian antara kedua paha dengan tangan kiri dan ditaruh diantara badan dan tangan kiri dengan bagian kepala menghadap ke belakang.

Tangan kanan mencari vagina dan kloaka dengan mengadakan penekanan pada bagian abdomen sekeliling anus dengan ibu jari dan jari telunjuk. Lubang sebelah kiri dalam kloaka adalah vagina, lubang kedua sebelah kanan adalah anus. Segera setelah vagina keluar dari kloaka orang kedua memasukkan pipet tuberculin ke dalam vagina kira-kira sedalam 2 cm. sementara itu tekanan pada abdominal dikurangi untuk mencegah keluarnya air mani dari vagina, tetapi mengalir ke depan dan masuk ke oviduct.

f. Evaluasi hasil IB
Untuk mengetahui keberhasilan IB dapat dilakukan dengan pemeriksaan telur (peneropongan telur) mulai hari ke-3 setelah pengeraman.

Sumber: Wayan Bebas, FKH Universitas Udayana-Bali

No comments: