Saturday, July 30, 2016

Kerusuhan Tanjung Balai Trending Topik

ALAM ZHU FACEBOOK l ANTO bbc.com
Hari ini saya iseng buka https://www.google.com/trends/hottrends#pn=p19 trending topik google untuk wilayah indonesia. Saya agak kaget saat muncul judul "kerusuhan berbau sara di Tanjung Balai". setelah saya klik kata kunci "tanjung balai" wow amazing ada data 2,300,000 dalam 0,39 detik. Berati kata ini benar-benar menjadi kata kunci yang populer hari ini 29 Juli 2016. Saya pun iseng mencari tau dimanakah Tanjung Balai itu. Saya klik search engine dengan kata kunci dimanakah Tanjung Balai? Profil Tanjung Balai.

Pada kata kunci "dimanakah tanjung balai" munculah https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Tanjungbalai diperingkat teratas yang membahas tentang tanjung balai. Saya kutip darai wikipedia.org
Kota Tanjungbalai adalah salah satu kota di provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Luas wilayahnya 60,52 km² dan penduduk berjumlah 154.445 jiwa. Kota ini berada di tepi Sungai Asahan, sungai terpanjang di Sumatera Utara. Jarak tempuh dari Medan lebih kurang 186 KM atau sekitar 5 jam perjalanan kendaraan.

Sebelum Kota Tanjungbalai diperluas dari hanya 199 ha (2 km²) menjadi 60,52 km², kota ini pernah menjadi kota terpadat di Asia Tenggara dengan jumlah penduduk lebih kurang 40.000 orang dengan kepadatan penduduk lebih kurang 20.000 jiwa per km². Akhirnya Kota Tanjungbalai diperluas menjadi ± 60 Km² dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 20 Tahun 1987, tentang perubahan batas wilayah Kota Tanjungbalai dan Kabupaten Asahan.Secara Demografi Tanjung Balai terdiri dari 6 kecamatan dengan jumlah penduduk 154.445 jiwa yang terdiri atas 77.933 jiwa laki-laki dan 76.512 jiwa perempuan.Secara geografi Tanjungbalai terletak di antara 2° 58' LU dan 99° 48' BT, dengan luas wilayah 60,52 km² (6.052 ha), dikelilingi oleh wilayah Kabupaten Asahan dengan batas-batas sebagai berikut:
Utara     Kecamatan Tanjung Balai
Selatan Kecamatan Simpang Empat
Barat     Kecamatan Simpang Empat
Timur     Kecamatan Sei Kepayang

Tanjung balai terkenal dengan kuliner berupa  kerang daguk (kerang batu), kerang bulu, ikan asin mayung, ikan teri Medan (Teri Putih), udang asin (udang pukul), belacan (Rm.Ratu), gulai asam, sayur daun ubi tumbuk, sombam ikan, anyang pakis, dan anyang Kepah, saksang (es ka es ge).

Sedangkan untuk kata kunci Profil "Tanjung Balai" ternyata memberikan hasil yang sama dengan kata kunci "dimanakah tanjung balai".

Selanjutnya tentang berita kerusuhan ini saya coba telaah berita teratas dengan kata kunci "kerusuhan tanjung balai" dari situs http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/07/160730_indonesia_rusuh_tanjung_balai yang mengupas kejadian kerusuhan tanjung balai ini. "Ada enam vihara dan kelenteng yang diserang beberapa ratus warga. Namun kebanyakan, pembakarannya dilakukan pada alat-alat persembahyangan, dan bangunannya sendiri tidak terbakar habis," kata juru bicara Kepolisian daerah Sumatera Utara, Kombes Rina Sari Ginting kepada Ging Ginanjar dari BBC Indonesia.

atau darihttp://www.jawapos.com/read/2016/07/30/42071/rusuh-di-tanjung-balai-ini-ternyata-pemicunya yang memuat :

Aksi pengrusakan sejumlah tempat ibadah terjadi di Kota Tanjung Balai, Sumatera Utara. Aksi ini dilakukan sejumlah pemuda pada Jumat (29/7) malam sekitar pukul 23.00 WIB.

Kabid Humas Polda Sumatera Utara Kombes Rina Sari Ginting mengatakan, aksi pengrusakan ini terjadi begitu saja.

"Awalnya ada seorang warga Tionghoa bernama Meliana (41) meminta untuk menegur Nazir Almakshum yang ada di Jalan Karya dengan maksud agar mengecilkan volume mikrofon yang ada di masjid.  Menurut Nazir, teguran itu disampaikan  beberapa kali," beber Rina kepada JawaPos.com, Sabtu (30/7).

Lalu sekitar pukul 20.00 WIB, Nazir menemui Meliana di kediamannya. Ketika itu terjadi cek-cok mulut sehingga suasana memanas.

"Saat itu sudah memanas, Nazir diamankan ke kantor lurah setempat dan Meliana dan suaminya dibawa ke Polsek Tanjung Balai Selatan," tutur dia.

Setibanya di Polsek Tanjung Balai Selatan dilakukan pertemuan yang melibatkan Ketua Majelis Ulama Indonesia Tanjung Balai, Ketua FPI Tanjung Balai, Camat dan sejumlah tokoh masyarakat.

apapun alasanya kebebasan beragama harus dikedepankan. saling menghargai harus menjadi sifat setiap warga. tindakan melawan hukum harus diproses sesuai aturan yang berlaku dan semoga kerusuhan Tanjung Balai segera teratasi. amin

Sunday, July 10, 2016

Brexit aka brebes exit pengingat Kemacetan di Padang Mahsyar

Assalamualaikum wrwb,

Sahabat...

Hari Raya 'Idul Fitri 1437 H tahun ini trending topiknya adalah Brexit/Brebes Exit. Pelajaran atas kondisi ini bagi saya adalah mengingatkan pada *Kemacetan di Padang Mahsyar*.

Kemacetan di Pejagan mencapai 30 km dan Brebes 6 km, cukup melelahkan, menelangsakan dan konon sampai menelan korban jiwa. Saya tidak kebayang betapa lelahnya berada di tengah kemacetan berjam-jam, maju tidak bisa mundur tidak bisa, sulit memperoleh supply air dan makanan, minimnya oksigen untuk bernafas. Kondisi Brexit ini memberi ilham keakhiratan : saya begitu takut jika saya mengalami kemacetan di Padang Mahsyar...!!

Sahabat rahimakumulllah, coba hadirkan suasana Yaumil Mahsyar kelak, saat Allah SWT menghimpun puluhan bahkan ratusan milyar manusia dalam satu lokasi. Saat kaki tidak bisa bergerak kesana kemari kecuali hanya bisa menunggu dan menunggu giliran, saat amalnya dihisab. Saat itulah gambaran macet total milyaran manusia tak berpakaian tak beralasan kaki dimungkinkan terjadi. Subhaanallaah....

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

«لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ»

“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan kemana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya”. (HR Tirmidzi dan ad Darimi)

Ingatlah dan berwaspadalah saat hari mengerikan itu tiba : *peradilan yang adil tanpa suap dan gratifikasi, hari di mana seluruh wajah tertunduk, berhadapan hanya sang hamba dengan Rabb-nya saja*.

Contoh dua pertanyaan seputar harta yang tidak akan meleset perhitungannya : Apakah yakin didapat dan dibelanjakan dengan cara yang halal dan baik ? Adakah garansi ia bebas dari riba, gharar, maisir, menipu, korupsi, dusta, mark up anggaran, mengurangi timbangan dan bentuk bentuk kezaliman lainnya..?

Mengurai pertanyaan hadist tersebut tentang umur, ilmu dan harta tentu butuh kajian yang komprehensif dan kontribusi. Saya mencintai kalian para sahabat semua karena Allah, saya mengajak kalian para sahabat jangan pernah lelah dan bosan untuk terus belajar dan menghadiri majlis-majlis ilmu Al Quran dan Sunnah.

_Ya Allah ampunilah dosa-dosa hamba, atas kelalaian menghabiskan umur, kelalaian mengamalkan ilmu, kelalaian memperoleh dan membelanjakan harta, dan kelalaian menggunakan tubuh ini... Bimbinglah hamba di dunia dengan taufiq dan hidayahmu, mudahkanlah hamba dari ketatnya hisab yaumil mahsyar, selamatkan hamba dari fitnah dunia dan fitnah dajjal, selamatkanlah hamba dari siksa api neraka._

Aamiin yaa Rabbal 'alamiin.....

Repost :
by dr. Eny _ RS. Islam Bogor

Cerita Horor Mudik Lebaran 2016

*MUDIK “HOROR” LEBARAN 2016* _Catatan Kecil Perjalanan Mudik Idul Fitri 1437 H_ Oleh: Hafidz Abdurrahman Saya sebenarnya tidak tertarik untuk menuturkan kisah ini kepada orang lain. Tetapi, melihat sikap penguasa yang cenderung arogan, tidak merasa bersalah, dan bahkan cenderung mengabaikan hak-hak masyarakat, maka hati saya terusik untuk menceritakan pemandangan mata dan pengalaman selama mudik lebaran tahun ini. Saya berangkat dari Bogor menuju kampung halaman isteri di Malang, pukul 08.15 WIB. Kebetulan, hari Senin, 4 Juli 2016 itu saya masih ada jadual mengisi Kuliah Subuh di Bogor, maka saya harus menunaikan amanah ini, baru kemudian berangkat mudik. Kira-kira pukul 08.15 WIB, kami meninggalkan rumah, karena ada putri teman yang juga jamaah saya sedang sakit, dan dirawat di RS Hermina, maka kami menyempatkan diri membesuknya. Kebetulan jaraknya tidak jauh dari rumah. Setelah itu, kami benar-benar berangkat mudik, ke kampung halaman isteri. Kami mengendarai mobil Honda CRV, 2000 cc. Kami meniggalkan tol Sentul City, menuju tol Cikampek via Lingkar Luar, sekitar pukul 09.00 WIB. Perjalanan dari Bogor via Cipali benar-benar lancar. Tetapi, begitu melewati Exit Tol Kuningan, dan mulai masuk Kanci, kemacetan itu benar-benar tak terelakkan. Ribuan orang dengan mobilnya harus antri, berdesak-desakan, ditambah pemandangan ribuan manusia menepi di bahu-bahu jalan. Waktu itu panas menyengat, karena sudah tengah hari. Jalur tol yang terpanjang itu tidak dilengkapi dengan rest area yang memadai, dengan fasilitas MCK, dan pom bensin. Maka, ada buang air di bahu jalan, ada yang membuat bedeng-bedeng sederhana untuk MCK, ada yang terpaksa harus memandikan anaknya yang masih kecil karena panas dengan air kemasan. Kami pun berencana menjamak qashar shalat Dhuhur-Ashar di waktu Ashar, tetapi karena kondisi panas dan mobil yang sudah kelelahan, terlebih tidak bisa diprediksi, akhirnya kami harus menepi. Mobil kami istirahatkan, sekaligus mengistirahatkan badan. Kami akhirnya shalat jamak qashar, Dhuhur-Ashar di waktu Dhuhur, sekitar pukul 14.00 an. Sambil menggelar gelaran alakadarnya, kami shalat berjamaah dua gelombang dengan anak-anak. Karena kami tidak membatalkan puasa, termasuk anak kami yang paling kecil, Salma, yang masih duduk di SD Tahfidz al-Qur’an, kelas 1, maka kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Melihat kondisi kemacetan yang parah itu, ditambah tidak adanya rest area, maka kami terpaksa harus menahan tidak buang air. Begitu waktu buka puasa tiba, kami hanya bisa makan dan minum secukupnya, dengan air, kurma dan roti Lapis Bogor. Selebihnya, makan nasi dan rendang yang sudah disiapkan dari rumah terpaksa ditahan dulu. Sekaligus “menjamak” buka hari ke-29, dan sahur untuk puasa hari berikutnya, ke-30. Kira-kira pukul 22.oo WIB, saat benar-benar sudah mulai lapar dan lelah, kami pun menepi dan makan, untuk buka yang tertunda, sekaligus sahur. Kebetulan putra pertama saya, Mas Falah, sudah bisa nyetir, sehingga bisa menggantikan saya. Kira-kira sekitar 4 jam, setelah dilakukan rekayasa Kontra-flow, kepadatan itu mulai terurai. Kira-kira pukul 02.00 WIB, kami tiba di Exit Tol Brebes Timur. Berharap bisa segera keluar, ternyata harus rela macet. Yang lebih membuat stress, karena persediaan bensin yang sudah diisi full dari Bogor, tinggal 4 baris. Tapi, karena macet tidak bisa diprediksi, maka saat macet di Exit Tol Brebes Timur, saya berinisiatif untuk mengisi bensin, dengan membeli bensin eceran. Meski harga sangat tidak rasional, Rp. 25,000/liter, terpaksa harus dibeli juga. Itu pun hanya mendapat jatah 5 liter. Kata para penduduk setempat, di Exit Tol Brebes Timur, “Macet seperti ini sudah empat hari, Pak.” Sepanjang perjalanan mulai dari berangkat sampai di rumah, kami tidak berhenti berdoa. Terutama saat macet. Kami pun bersama-sama membaca wirid, ijazah dari kyai saya, “Ya Fattah, Ya Razzaq, Ya Kafi, Ya Mughni..” [Wahai Dzat yang Maha Membuka, Wahai Dzat yang Maha Memberi Rizki, Wahai Dzat yang Maha Mencukupi, Wahai Dzat yang Maha Mengayakan..] agar Allah membuka jalan yang macet untuk kami, yang membuka rizki, termasuk jatah bensin untuk kami, yang mencukupkan termasuk bensin yang tinggal 3 atau 4 baris, begitu terus.. wirid Asmaul Husna dilantunkan, dengan keras maupun pelan. Begitu keluar dari Exit Tol Brebes Timur, harapan bertemu pom bensin pun sirna, setelah rekayasa dan penutupan jalan terjadi. Beberapa usaha untuk mengisi bensir akhirnya tidak bisa dilakukan. Ketika Subuh tiba, kami harus menepi dan mencari tempat shalat, sambil buang air. Hampir sepanjang jalan di Tegal, masjid sudah penuh dengan mobil, sehingga susah mencari parkir. Sampai akhirnya kami mendapatkan masjid di tengah-tengah kampung, yang jauh dari jalan raya. Alhamdulillah, kami pun bisa mengerjakan shalat Subuh berjamaah dengan anak-anak di Masjid kecil itu. Meski, dengan tetap harus menahan sakit perut, karena belum bisa buang hajat. Karena di masjid kecil itu kebetulan tidak mempunyai WC. Kami harus melanjutkan perlananan, sambil mencari pom bensin. Ada sekitar 6 kali usaha sudah dilakuan, dan gagal. Karena akses jalan selalu ditutup dan dialihkan. Dua kali yang terakhir sempat antri, tetapi setelah antri berdua dengan Mas Falah selama 2 jam, itu pun untuk mendapatkan Pertamax, karena Premium sudah habis, begitu giliran hampir sampai, Pertamax yang diharapkan itu pun habis. Akhirnya, kami harus istirahat, sambil buang air di rumah penduduk, sambil mencari bensin tambahan. Mengingat Jl. Pantura Tegal macet total. Kami pun akhirnya mendapatkan Pertalite, 6 liter, sebanyak 4 botol Aqua besar. Per botolnya dihargai Rp. 30,000. Meski keruh, terpaksa harus tetap diisikan ke mobil, sambil terus berdoa dan tawakkal kepada Allah SWT. Sepanjang perjalanan, sembari untuk menghemat bensir, kami harus mematikan AC. Di tengah terik panas yang luar biasa itu, putri kami yang paling kecil akhirnya harus membatalkan puasanya, karena dehidrasi. Sementara abangnya yang pertama, hampir pingsan, setelah mukanya sudah pucat pasi, dan matanya gelap, saat mengantri di pom selama 2 jam berdiri dan berdesak-desakan. Tetapi, Mas Falah, tidak sampai membatalkan puasanya, karena masih bisa bertahan. Alhamdulillah, kami akhirnya bisa memperpanjang nafas. Ketika sudah sampai di perbatasan Pemalang, kami berusaha lagi antri di pom bensin. Tetapi, antrian sudah panjang. Karena khawatir bensin tidak mencukupi, akhirnya kami segera memacu kendaraan kami ke Pemalang, hingga akhirnya benar-benar sampai di pom yang lebih representatif. Kami bisa bergantian shalat Dhuhur-Ashar dengan dijamak qashar di waktu Dhuhur. Lega rasanya, ketika mendapatkan giliran mengisi Pertamax, meski dibatasai hanya Rp. 250,000. Senang bercampur marah, dan kesal, karena antrian panjang itu diwarnai insiden kecil, yang mengusik puasa kami. Jalan Pantura Pamulang itu pun longgar, sehingga kami harus memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi. Alhamdulillah, Maghrib tiba, kami sudah tiba di Kendal. Saat itu, ada rumah makan dengan rest area yang memadai, mushalla, toilet, kamar mandi dan parkir yang cukup. Setelah fisik segar kembali, kami pun melanjutkan perjalanan ke Semarang. Sekitar pukul 20.00 WIB, kami masuk kota Semarang. Setelah itu, kami pacu mobil dengan kecepatan tinggi, hingga sampai di Malang pukul 01.45 WIB. Kami menghabiskan 39 jam untuk sampai di Malang. Bahkan, yang berangkat hari Jum’at, Sabtu dan Ahad, lebih parah lagi. Sampai ada yang 64 jam. Kesan kami, Jalur Tol “Cipali” memang benar-benar menjadi neraka, ketika tidak ada rest area yang memadai, tak satu pun pom bensir tersedia, di saat macet dan antrean panjang, dan tak pasti kapan akan sampai ke pintu tol.. Lebih stress lagi, ketika naik kendaraan umum, saat kita tidak bisa mengendalikan sendiri kemauan kita, kecuali mengikuti kemauan orang lain. Tidak bisa berhenti sewaktu-waktu, dan memenuhi hajat kita, kapan kita mau.. Sayangnya, “neraka” itu seolah diciptakan saat umat Islam harus merayakan Hari Raya Idul Fitri 1437 H. Ketika kepemimpinan dan manajemen yang bertanggungjawab terhadap semua “tragedi” ini gagal mengantisipasi semuannya. Betapa tidak, jalur tol yang sudah dibuka setahun lebih, tetapi tetap tidak ada perbaikan fasilitas umum. Pom bensin tidak ada, toilet, KM kotor dan jorok, mushalla ala kadarnya. Bahkan, yang lebih menyesakkan hati, ketika semuanya justru tidak mau mengakui kesalahan, sembari terus menyalahkan orang lain.. Mereka boleh saja terus berkelit, dan melemparkan kesalahan pada orang lain, tetapi di hadapan Allah, *kami dan jutaan rakyat yang menjadi korban “tragedi” ini akan menuntut mereka.* Semoga semuanya ini segera menyadarkan kita, bahwa kita membutuhkan Islam dan pemimpin Muslim yang bertakwa, yang takut kepada Allah SWT, jika kelak ada rakyatnya yang menuntut di hadapan-Nya. Karena hanya dengan kesadaran seperti itulah mereka akan mempertanggungjawabkan semua amanahnya, dan terus berbenah, agar bisa meringankan dirinya di hadapan mahkamah Allah SWT.

Sunday, June 26, 2016

Hari Ini Pengumuman Sbmptn 2016

Gan hari ini trending topik google indonesia tentang Pengumuman Sbmptn 2016.
dari web sbmptn,ac.id dapat diketahui bahwa :

Latar Belakang


Seleksi bersama dalam penerimaan mahasiswa baru di lingkungan PTN melalui ujian tertulis secara nasional yang selama ini telah dilakukan menunjukkan berbagai keuntungan dan keunggulan, baik bagi peserta, PTN, maupun bagi kepentingan nasional. Bagi peserta, seleksi bersama menguntungkan karena lebih efisien, murah, dan fleksibel. Hal ini dikarenakan adanya mekanisme lintas wilayah.
Berdasarkan pengalaman dalam melaksanakan SBMPTN, yaitu seleksi penerimaan mahasiswa baru melalui ujian tertulis atau kombinasi hasil ujian tertulis dan ujian keterampilan, maka pada tahun 2016 Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) melaksanakan Ujian tertulis yang terdiri dari Paper Based Testing (PBT) dan Computer Based Testing (CBT), yang dapat diikuti oleh siswa lulusan tahun 2014, 2015, dan 2016 dari pendidikan menengah (SMA/MA/SMK) dan sederajat, termasuk Paket C.
Ujian tertulis yang terdiri dari PBT dan CBT menggunakan soal-soal ujian yang dirancang mengikuti kaidah-kaidah akademik pengembangan tes. Ujian tertulis SBMPTN dirancang untuk mengukur kemampuan dasar yang dapat memprediksi keberhasilan calon mahasiswa di semua program studi, yakni kemampuan penalaran tingkat tinggi (higher order thinking), yang meliputi potensi akademik, penguasaan bidang studi dasar, bidang sains dan teknologi (saintek) dan/atau bidang sosial dan humaniora (soshum). Selain mengikuti ujian tertulis (PBT atau CBT), peserta yang memilih program studi Ilmu Seni dan/atau Keolahragaan diwajibkan mengikuti ujian keterampilan.



Tujuan


Tujuan SBMPTN adalah sebagai berikut:
  1. Menyeleksi calon mahasiswa yang diprediksi mampu menyelesaikan studi di perguruan tinggi dengan baik.
  2. Memberi peluang bagi calon mahasiswa untuk memilih lebih dari satu PTN lintas wilayah.



Ketentuan Umum dan Persyaratan


  1. Ketentuan Umum :
    • SBMPTN 2016 merupakan seleksi yang dilakukan oleh  PTN secara bersama di bawah koordinasi Panitia Pusat dengan seleksi berdasarkan hasil ujian tertulis dalam bentuk cetak (PBT) atau menggunakan komputer (CBT), atau kombinasi hasil ujian tertulis dan ujian keterampilan calon mahasiswa.
  2. Persyaratan :
    1. Pendaftaran :
      1. Bagi siswa lulusan tahun 2014 dan 2015  harus sudah memiliki ijazah.
      2. Bagi siswa lulusan tahun 2016 telah memiliki Surat Keterangan Lulus Pendidikan Menengah, sekurang-kurangnya memuat informasi jati diri dan foto terbaru yang bersangkutan serta dibubuhi cap yang sah.
      3. Memiliki kesehatan yang memadai sehingga tidak mengganggu kelancaran proses pembelajaran di program studinya.
    2. Penerimaan :
      • Lulus pendidikan menengah, lulus SBMPTN 2016, sehat, dan memenuhi persyaratan lain yang ditentukan oleh masing-masing PTN penerima.



Pendaftaran


  1. Pendaftaran dilakukan secara online dan tata cara pendaftaran secara lengkap dapat dilihat pada laman http://pendaftaran.sbmptn.ac.id.
  2. Tata cara pengisian borang pendaftaran ujian tertulis dan keterampilan dapat diunduh (download) dari laman http://download.sbmptn.ac.id.  mulai tanggal 18 April 2016.
  3. Pendaftaran online Paper Based Testing (PBT) maupun Computer Based Testing (CBT) dibuka dari tanggal 25 April 2016 pukul 08.00 WIB sampai dengan 20 Mei 2016 pukul 22.00 WIB.



Jenis Ujian


  1. Ujian Tertulis (PBT atau CBT)
  2. Materi Ujian Tertulis terdiri atas:
    1. Tes Kemampuan dan Potensi Akademik (TKPA).
    2. Tes Kemampuan Dasar Sains dan Teknologi (TKD Saintek) terdiri atas mata uji Matematika, Biologi, Kimia, dan Fisika.
    3. Tes Kemampuan Dasar Sosial dan Humaniora (TKD Soshum) terdiri atas mata uji Sosiologi, Sejarah, Geografi, dan Ekonomi.

  1. Ujian Keterampilan
  2. Ketentuan Ujian Keterampilan sebagai berikut.
    1. Ujian Keterampilan diperuntukkan bagi peminat program studi bidang Ilmu Seni dan Keolahragaan.
    2. Ujian Keterampilan bidang Ilmu Seni terdiri atas tes pengetahuan dan keterampilan bidang Ilmu Seni terkait.
    3. Ujian Keterampilan bidang Ilmu Keolahragaan  terdiri atas pemeriksaan kesehatan dan tes keterampilan motorik.
    4. Ujian Keterampilan dapat diikuti di PTN terdekat yang memiliki program studi yang sesuai dengan pilihan peserta. Daftar PTN penyelenggara ujian keterampilan secara lengkap dapat dilihat di laman http://www.sbmptn.ac.id.



Kelompok Ujian


Kelompok ujian SBMPTN terbagi menjadi 3 (tiga), yaitu:
  1. Kelompok Ujian Saintek  dengan materi ujian TKPA dan TKD Saintek.
  2. Kelompok Ujian Soshum  dengan materi ujian TKPA dan TKD Soshum.
  3. Kelompok Ujian Campuran  dengan materi ujian  TKPA, TKD Saintek, dan TKD Soshum.
Setiap peserta dapat mengikuti kelompok ujian Saintek, Soshum, atau Campuran.
Khusus untuk peserta CBT hanya dibolehkan mengikuti kelompok ujian Saintek saja atau kelompok ujian Soshum saja


Kelompok Program Studi dan Jumlah Pilihan


  1. Program Studi yang ada di PTN dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok Saintek  dan kelompok Soshum.
  2. Peserta dapat memilih program studi sebanyak-banyaknya 3 (tiga) program studi dengan ketentuan sebagai berikut:
    1. Jika program studi yang dipilih semuanya dari kelompok Saintek, maka peserta mengikuti kelompok ujian Saintek.
    2. Jika program studi yang dipilih semuanya dari kelompok Soshum, maka peserta mengikuti kelompok ujian Soshum.
    3. Jika program studi yang dipilih terdiri dari kelompok Saintek dan Soshum, maka peserta mengikuti kelompok ujian Campuran.
  3. Urutan dalam pemilihan program studi menyatakan prioritas pilihan.
  4. Peserta ujian yang hanya memilih 1 (satu) program studi dapat memilih program studi di PTN manapun.
  5. Peserta ujian yang memilih 2 (dua) program studi atau lebih, salah satu pilihan program studi tersebut harus di PTN yang berada dalam satu wilayah pendaftaran dengan tempat peserta mengikuti ujian. Pilihan program studi yang lain dapat di PTN di luar wilayah pendaftaran tempat peserta mengikuti ujian.
  6. Daftar wilayah pendaftaran, program studi, daya tampung per PTN tahun 2016, dan jumlah peminat  program studi per PTN tahun 2016 dapat dilihat di laman http://www.sbmptn.ac.id mulai tanggal 11 April 2016.



Biaya Seleksi Ujian Tertulis dan Keterampilan


  1. Biaya seleksi yang ditanggung oleh peserta sebesar Rp. 200.000,00 (dua ratus ribu rupiah).
  2. Biaya seleksi dapat dibayarkan melalui salah satu bank berikut ini: Bank Mandiri atau Bank BNI.
  3. Biaya seleksi yang sudah dibayarkan tidak dapat ditarik kembali dengan alasan apa pun.



Jadwal Ujian


  1. Jadwal  Ujian Tertulis
    • Ujian tertulis baik untuk Paper Based Testing (PBT) maupun Computer Based Testing (CBT) dilaksanakan secara serentak pada tanggal 31 Mei 2016
  1. Jadwal Ujian Keterampilan
    • Ujian  Keterampilan dilaksanakan pada hari Rabu dan/atau Kamis, tanggal 1 dan/atau 2 Juni 2016.


Pengumuman Sbmptn 2016 dapt dicek pada webmasing-masing:
http://sbmptn.unsyiah.ac.id/ http://sbmptn.undip.ac.id
http://sbmptn.unand.ac.id http://sbmptn.ugm.ac.id
http://sbmptn.unsri.ac.id http://sbmptn.its.ac.id
http://sbmptn.ui.ac.id http://sbmptn.unair.ac.id
http://sbmptn.ipb.ac.id http://sbmptn.untan.ac.id
http://sbmptn.itb.ac.id http://sbmptn.unhas.ac.id

Saturday, June 25, 2016

Serba-Serbi I'Tikaf

Assalamu'alaikum wrwb
Kali ini saya copas kan informasi tentang I'tikaf..semoga bermanfaat
 https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/625866537562832:0



 Pertama: Makna I’tikaf
I’tikaf maknanya adalah,
لزوم مسجد جماعةٍ، بنيةٍ لعبادة الله فيه، من شخص مخصوص، بشروط مخصوصة، على صفة مخصوصة، في زمن مخصوص
“Berdiam diri di masjid umum yang diadakan padanya sholat berjama’ah dengan niat beribadah kepada Allah ta’ala di masjid tersebut, yang dilakukan oleh orang tertentu, dengan syarat-syarat tertentu, tata cara tertentu, di waktu tertentu.” [Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 450-451]
Akan datang insya Allah penjelasan lebih detail di poin-poin berikut tentang orang tertentu, dengan syarat-syarat tertentu, tata cara tertentu dan waktu tertentu.
 Kedua: Syarat-Syarat I’tikaf
 Syarat Pertama: Islam, karena ibadah orang kafir tidak sah, sebagaimana firman Allah ta’ala,
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاء مَّنثُورًا
“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka (orang-orang kafir) kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.” [Al-Furqon: 23]
Dan firman Allah ta’ala,
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” [Al-An’am: 88]
 Syarat Kedua: Berakal, karena orang yang gila tidak disyari’atkan beribadah, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,
رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ، عَنِ الْمَجْنُونِ الْمَغْلُوبِ عَلَى عَقْلِهِ حَتَّى يَفِيقَ، وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ
“Pena diangkat dari tiga golongan, yaitu dari orang gila yang tertutup akalnya sampai ia sadar, dari orang yang tidur sampai ia bangun dan dari anak kecil sampai ia baligh.” [HR. Abu Daud dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, Al-Irwa’, 2/5]
 Syarat Ketiga: Mumayyiz, yaitu berumur minimal 7 tahun dan telah memahami ibadah yang ia kerjakan. Tidak sah i’tikaf anak kecil yang belum mumayyiz.
 Syarat Keempat: Berniat i’tikaf, karena setiap amalan bergantung kepada niat, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,
إنَّمَا الأعْمَالُ بَالْنيَاتِ، وَإنَّمَا لِكل امرئ مَا نَوَى، فمَنْ كَانَتْ هِجْرَتهُ إلَى اللّه وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتهُ إلَى اللّه وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرتُهُ لِدُنيا يُصيبُهَا، أو امْرَأة يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُه إلَى مَا هَاجَرَ إليهِ
“Sesungguhnya amalan-amalan manusia tergantung niat, dan setiap orang mendapatkan balasan sesuai niatnya. Maka barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka ia mendapatkan pahala hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya karena dunia yang ingin ia raih, atau wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia niatkan.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Umar Bin Khaththab radhiyallahu’anhu]
 Faidah Penting tentang Pensyaratan Niat dan Tiga Macam Keluar dari Masjid Saat I’tikaf
Ulama mengkiaskan i’tikaf dengan haji dalam masalah pensyaratan niat, karena adanya kesamaan dalam pengharaman hal-hal yang sebelumnya dibolehkan seperti berhubungan suami istri dan lain-lain. Maka boleh seseorang mensyaratkan dalam niatnya ketika memulai i’tikaf bahwa ia akan keluar dari masjid karena suatu hajat, dengan memperhatikan tiga jenis keluar dari masjid berikut ini:[1]
1) Keluar yang dibolehkan dengan pensyaratan dan tanpa persyaratan niat, yaitu keluar untuk melakukan sesuatu yang harus dilakukan seperti buang hajat, sakit, berwudhu’ yang wajib, mandi wajib atau selainnya, demikian pula makan dan minum, apabila tidak disediakan di masjid.
2) Keluar yang tidak dibolehkan kecuali dengan melakukan pensyaratan niat sejak awal i’tikaf, yaitu menjenguk orang sakit, mengunjungi orang tua dan mengantar jenazah. Ini adalah keluar untuk melakukan ketaatan yang tidak diwajibkan, maka tidak boleh dilakukan kecuali apabila telah melakukan pensyaratan dalam niat di awal i’tikaf.
Perhatian: Keluar jenis ini juga dibolehkan apabila ada hal yang darurat walau tanpa pensyaratan, seperti membantu orang yang sakit keras dan tidak ada orang lain yang membantunya, atau mengurus jenazah yang tidak ada orang lain yang mengurusnya, atau orang sakit dan jenazah tersebut adalah orang yang wajib bagi orang yang beri’tikaf untuk membantu dan mengurus seperti orang tuanya, istrinya, anak-anaknya dan lain-lain.
3) Keluar yang tidak dibolehkan sama sekali, tidak dengan pensyaratan dan tidak pula tanpa pensyaratan niat, jika dilakukan maka batal i’tikafnya, seperti keluar untuk jual beli di pasar dan berhubungan suami istri, maka seperti ini tidak boleh dengan atau tanpa pensyaratan dalam niat.
Pensyaratan ini penting karena pada asalnya keluar masjid itu terlarang bagi orang yang beri’tikaf kecuali dengan pensyaratan atau karena darurat, sebagaimana dalam hadits Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha, beliau berkata,
السُّنَّةُ عَلَى الْمُعْتَكِفِ: أَنْ لَا يَعُودَ مَرِيضًا، وَلَا يَشْهَدَ جَنَازَةً، وَلَا يَمَسَّ امْرَأَةً، وَلَا يُبَاشِرَهَا، وَلَا يَخْرُجَ لِحَاجَةٍ، إِلَّا لِمَا لَا بُدَّ مِنْهُ، وَلَا اعْتِكَافَ إِلَّا بِصَوْمٍ، وَلَا اعْتِكَافَ إِلَّا فِي مَسْجِدٍ جَامِعٍ
“Sunnah bagi orang yang beri’tikaf untuk tidak menjenguk orang yang sakit, tidak menghadiri jenazah, tidak menyentuh wanita, tidak pula berhubungan badan, tidak keluar karena satu keperluan kecuali yang mau tidak mau harus dilakukan, dan tidak ada i’tikaf (yang lebih afdhal) kecuali dengan puasa, dan tidak ada i’tikaf selain di masjid yang digunakan sholat berjama’ah.” [HR. Abu Daud, Shahih Abi Daud: 2135]
 Syarat Kelima: I’tikaf dilakukan di masjid, sebagaimana firman Allah ta’ala,
وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
“Dan kalian beri’tikaf di masjid.” [Al-Baqoroh: 187]
 Syarat Keenam: I’tikaf di masjid yang dilakukan padanya sholat berjama’ah, ini syarat khusus bagi laki-laki, sebab sholat berjama’ah wajib bagi laki-laki, apabila ia harus keluar masjid untuk melakukan sholat berjama’ah di masjid lainnya maka itu menafikan tujuan i’tikaf, yaitu berdiam diri di masjid, tidak banyak keluar. Dan tidak dipersyaratkan masjid tersebut harus diadakan padanya sholat Jum’at, karena keluar ke masjid lain untuk sholat Jum’at tidak sering dilakukan. Namun yang afdhal beri’tikaf di masjid yang diadakan sholat Jum’at sehingga tidak perlu keluar lagi ke masjid lain.[2]
Oleh karena itu ulama dahulu mengingkari secara keras terhadap orang yang menyendiri dengan tujuan beribadah dan tidak ikut sholat berjama’ah dan Jum’at di masjid. Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata,
سئل ابن عباس عن رجل يصوم النهار و يقوم الليل و لا يشهد الجمعة و الجماعة قال : هو في النار, فالخلوة المشروعة لهذه الأمة هي الإعتكاف في المساجد خصوصا في شهر رمضان خصوصا في العشر الأواخر منه كما كان النبي صلى الله عليه و سلم يفعله
“Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma pernah ditanya tentang seorang (laki-laki) yang (menyendiri) berpuasa di siang hari dan sholat tahajjud di malam hari, namun tidak ikut sholat Jum’at dan sholat jama’ah, beliau berkata: ‘Dia di neraka’. Maka menyendiri yang disyari’atkan bagi umat ini adalah i’tikaf di masjid, secara khusus di bulan Ramadhan, yaitu di sepuluh hari terakhirnya sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.” [Lathooiful Ma’aarif: 207]
Adapun bagi wanita boleh i’tikaf di masjid yang tidak dilakukan padanya sholat berjama’ah, karena wanita tidak wajib sholat berjama’ah, tetapi dengan syarat itu adalah masjid umum, bukan masjid khusus di rumahnya, dan syarat lain bagi wanita adalah izin suami atau wali dan aman dari ‘fitnah’ (seperti godaan antara laki-laki dan wanita, atau memunculkan mudarat seperti menimbulkan prasangka buruk dan pembicaraan yang tidak baik).[3]
Demikian pula orang yang diberi keringanan untuk tidak sholat berjama’ah seperti karena sakit maka boleh baginya beri’tikaf di masjid umum mana saja walau tidak diadakan sholat berjama’ah.[4]
Dan musholla-musholla khusus wanita baik di rumah, di sekolah atau di kantor tidak termasuk kategori masjid, maka tidak boleh digunakan untuk i’tikaf.[5]
Adapun pensyaratan i’tikaf hanya di tiga masjid, yaitu Masjidil Harom, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsho maka haditsnya diperselisihkan para ulama tentang keshahihannya. Andai shahih, maka maknanya yang benar adalah lebih afdhal beri’tikaf di tiga masjid tersebut, bukan sebagai pembatasan syari’at I’tikaf hanya di tiga masjid tersebut.[6]
 Ketiga: Hukum I’tikaf
Hukum i’tikaf sunnah (kecuali karena nazar maka wajib) berdasarkan dalil Al-Qur’an, As-Sunnnah dan ijma’. Allah ta’ala berfirman,
وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
“Dan janganlah kalian bercampur dengan istri-istri kalian, sedang kalian beri’tikaf di masjid.” [Al-Baqoroh: 187]
Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha berkata,
أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِه
“Bahwasannya Nabi shallallahu’alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadhan sampai Allah mewafatkan beliau, kemudian istri-istri beliau masih melakukan beri’tikaf sepeninggal beliau.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,
الاعتكاف سنة بالإجماع، ولا يجب إلا بالنذر بالإجماع
I’tikaf hukumnya sunnah berdasarkan ijma’, dan tidak diwajibkan kecuali karena nazar, juga berdasarkan ijma’.” [Al-Majmu’, 6/407]
وأجمع المسلمون على أنه قربة وعمل صالح
“Dan sepakat kaum muslimin bahwa i’tikaf adalah ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan amal shalih.” [Syarhul ‘Umdah, 2/711]
 Keempat: Tujuan dan Hikmah I’tikaf
Tujuan dan hikmah i’tikaf adalah,
تسليم المعتكف: نفسه، وروحه، وقلبه، وجسده بالكلية إلى عبادة الله تعالى، طلباً لرضاه، والفوز بجنته، وارتفاع الدرجات عنده تعالى، وإبعاد النفس من شغل الدنيا التي هي مانعة عما يطلبه العبد من التقرب إلى الله – عز وجل –
“Orang yang beri’tikaf menyerahkan dirinya, ruhnya, hatinya dan jasadnya secara totalitas untuk beribadah kepada Allah ta’ala, demi mencari ridho-Nya, menggapai kebahagian di surga-Nya, terangkat derajat di sisi-Nya dan menjauhkan diri dari semua kesibukan dunia yang dapat menghalangi seorang hamba untuk berusaha mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla.” [Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 459]
Al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullah berkata,
فمعنى الاعتكاف وحقيقته: قطع العلائق عن الخلائق للاتصال بخدمة الخالق وكلما قويت المعرفة بالله والمحبة له والأنس به أورثت صاحبها الإنقطاع إلى الله تعالى بالكلية على كل حال
“Makna i’tikaf dan hakikatnya adalah memutuskan semua interaksi dengan makhluk demi menyambung hubungan dengan khidmah (focus beribadah ibadah) kepada Al-Khaliq, dan setiap kali menguat pengenalan seseorang kepada Allah, kecintaan kepada-Nya dan kenyamanan dengan-Nya maka akan melahirkan baginya keterputusan dari makhluk untuk berkosentrasi secara totalitas kepada Allah ta’ala di setiap keadaan.” [Lathooiful Maarif, hal. 191]
Dan sungguh menakjubkan, di tengah-tengah kesibukan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam untuk mendakwahi seluruh umat manusia, memimpin negara dan mengurus istri-istri, keluarga dan berbagai permasalahan kaum muslimin, beliau masih beri’tikaf setiap tahun; memfokuskan diri untuk beribadah kepada Allah ta’ala di sepuluh hari terakhir Ramadhan dan memutuskan diri dari segala kesibukan dunia serta mengurangi interaksi dengan makhluk.
Bahkan apabila beliau tidak sempat melakukannya maka beliau akan meng-qodho’ di bulan Syawwal atau di bulan Ramadhan berikutnya beliau akan beri’tikaf 20 hari, ini semuanya menunjukkan pentingnya i’tikaf dan termasuk sunnah mu’akkadah, sunnah yang sangat ditekankan.
Beliau beri’tikaf demi meningkatkan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala di sepuluh hari terakhir Ramadhan, karena inilah hari-hari yang paling afdhal di bulan Ramadhan, terutama waktu malamnya, lebih utama lagi pada lailatul qodr yang lebih baik dari 1000 bulan.
Namun sangat disayangkan banyak kaum muslimin justru kehilangan semangat dan ruh ibadah di akhir-akhir Ramadhan, apabila di awal Ramadhan masjid-masjid penuh sesak, di akhir Ramadhan pasar-pasar, mall-mall, jalan-jalan hingga tempat-tempat hiburan yang ramai dikunjungi, mereka menyelisihi petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ
“Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersungguh-sungguh dalam beribadah di sepuluh hari terakhir Ramadhan melebihi waktu yang lainnya.” [HR. Muslim]
Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha juga berkata,
كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
“Nabi shallallahu’alaihi wa sallam apabila masuk sepuluh hari terakhir Ramadhan maka beliau mengencangkan sarungnya (tidak berhubungan suami istri dan mengurangi makan dan minum), menghidupkan malamnya (dengan memperbanyak ibadah) dan membangun keluarganya (untuk ibadah).” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
 Kelima: Waktu I’tikaf
Waktu i’tikaf adalah di sepuluh hari terakhir Ramadhan, inilah yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallahu’anhum, tidak ada satu riwayat pun anjuran beri’tikaf di selain sepuluh hari terakhir Ramadhan, tidak di awal dan pertengahan Ramadhan, tidak pula di bulan-bulan yang lain, kecuali karena qodho’ atau nazar, maka boleh dikerjakan di bulan yang lain. Dan nazar itu sendiri hukum asalnya adalah makruh menurut pendapat terkuat insya Allah, namun apabila sudah bernazar maka wajib ditunaikan.
Andaikan beri’tikaf di selain sepuluh hari terakhir Ramadhan itu dianjurkan, tentu akan dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, maka tidaklah patut menganjurkan manusia untuk beri’tikaf di selain sepuluh hari terakhir Ramadhan. Akan tetapi barangsiapa melakukannya maka tidak terlarang dan tidak dihukumi bid’ah, karena Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mengizinkan Umar bin Khattab radhiyallahu’anhu menunaikan nazar i’tikaf di selain sepuluh hari terakhir Ramadhan.[7]
Akan tetapi jika seseorang setiap kali masuk masjid berniat i’tikaf maka hendaklah diingkari dan dilarang, karena itu tidak termasuk petunjuk Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.[8]
Description: ➡ Keenam: Batas Waktu Minimal dan Maksimal Beri’tikaf 
Tidak ada batas waktu minimal dan maksimal yang dipersyaratkan untuk sahnya i’tikaf, yang afdhal adalah sepuluh hari dan malamnya penuh di akhir Ramadhan, namun andaikan seseorang berhalangan untuk beri’tikaf secara penuh maka tidak mengapa insya Allah ia beri’tikaf sesuai kemampuannya. Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata,
والصواب في الاعتكاف أنه لا حدَّ لأكثره ولا لأقلِّه، وليس له حد محدود، فلو دخل المسجد ونوى الاعتكاف ساعة أو ساعتين فهو اعتكاف
“Pendapat yang benar dalam masalah i’tikaf adalah tidak ada batas waktu maksimalnya dan minimalnya, tidak ada batas yang ditentukan, andai seseorang masuk masjid dan berniat i’tikaf satu atau dua jam maka itu adalah i’tikaf.” [Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 461]
 Ketujuh: Kapan Waktu Mulai dan Akhir I’tikaf?
 Pendapat Pertama: Mulai i’tikaf tanggal 21 Ramadhan dan masuk ke masjid sebelum terbenam matahari di tanggal 20 Ramadhan agar ketika terbenam matahari orang yang beri’tikaf sudah ada di masjid, karena saat itu telah masuk tanggal 21 Ramadhan. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, dan ini adalah pendapat yang terkuat insya Allah, karena tidaklah disebut sepuluh hari yang terakhir kecuali dimulai sejak awal tanggal 21 Ramadhan, yaitu sejak terbenamnya matahari.
Demikian pula kemungkinan lailatul qodr jatuh pada malam 21 Ramadhan, dan itu pernah terjadi di masa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, maka sepatutnya untuk mulai i’tikaf sejak awal malam 21 Ramadhan dan masuk sebelum matahari terbenam agar tidak luput sedikit pun waktunya, karena diantara tujuan penting i’tikaf adalah memperbanyak ibadah ketika lailatul qodr.
 Pendapat Kedua: Mulai i’tikaf ba’da Shubuh tanggal 21 Ramadhan, berdalil dengan hadits Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha,
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا أَرَادَ أَنْ يَعْتَكِفَ صَلَّى الْفَجْرَ، ثُمَّ دَخَلَ مُعْتَكَفَهُ
“Dahulu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam apabila hendak beri’tikaf maka beliau sholat Shubuh, kemudian masuk ke tempat i’tikafnya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Ini adalah pendapat sebagian ulama, akan tetapi ini adalah pendapat yang lemah, karena hadits tersebut tidak menunjukkan bahwa beliau baru mulai beri’tikaf setelah sholat Shubuh, tetapi baru masuk ke tempat i’tikafnya, yaitu kemah yang disediakan untuk beliau, sebagaimana dalam sebuah riwayat yang lebih kuat dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha dengan lafaz,
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَعْتَكِفُ فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ، فَكُنْتُ أَضْرِبُ لَهُ خِبَاءً فَيُصَلِّي الصُّبْحَ ثُمَّ يَدْخُلُهُ
“Dahulu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan, maka aku membuatkan untuk beliau sebuah kemah, beliau sholat Shubuh kemudian masuk ke dalamnya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Bahkan terdapat riwayat yang menegaskan bahwa beliau masuk ke tempat i’tikaf setelah sholat Shubuh di tempat yang telah beliau lakukan i’tikaf sebelumnya, bukan baru masuk pertama kali, yaitu riwayat lain dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha dengan lafaz,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانٍ، وَإِذَا صَلَّى الغَدَاةَ دَخَلَ مَكَانَهُ الَّذِي اعْتَكَفَ فِيهِ
“Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam beri’tikaf di setiap Ramadhan, maka apabila beliau telah sholat Shubuh, beliau masuk ke tempat yang telah beliau lakukan i’tikaf padanya.” [HR. Al-Bukhari]
Adapun waktu keluarnya, jumhur ulama berpendapat adalah terbenamnya matahari di akhir Ramadhan, dan inilah pendapat yang kuat insya Allah karena yang disyari’atkan dan diniatkan adalah i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan, bukan Syawwal. Dan sebagian ulama berpendapat bahwa yang afdhal adalah tetap di masjid dan keluar bersamaan dengan waktu menuju sholat Idul fitri, namun ini adalah pendapat yang lemah karena tidak didukung oleh dalil yang shahih lagi sharih, serta bertentangan dengan sunnah pada hari ‘ied untuk berpenampilan bagus.[9]
 Kedelapan: Amalan-amalan Saat Beri’tikaf
Disunnahkan bagi orang yang beri’tikaf untuk memperbanyak ibadah kepada Allah ta’ala seperti:[10]
 Sholat-sholat sunnah, baik sholat sunnah yang memiliki sebab seperti sholat sunnah Dhuha, Wudhu dan lain-lain, maupun sholat sunnah muthlaq (umum, yang tidak memiliki sebab, boleh dilakukan semampunya dan kapan saja selama bukan di waktu-waktu terlarang, dan dilakukan dengan cara dua raka’at salam, dua raka’at salam),
 Membaca Al-Qur’an,
 Berdoa,
 Berdzikir,
 Istighfar,
 Bertaubat dan ibadah-ibadah khusus lainnya,
 Menghindari ucapan-ucapan yang sia-sia apalagi yang haram, namun tidak disyari’atkan untuk berniat ibadah dengan cara diam tidak mau bicara sama sekali,
 Meminimalkan interaksi dan pembicaraan dengan orang-orang agar lebih banyak beribadah dan lebih khusyu’,
 Tidak dianjurkan untuk memperbanyak majelis ilmu, kecuali satu atau dua kali dalam sehari, dan hendaklah lebih fokus beribadah khusus secara pribadi maupun sholat berjama’ah.
 Kesembilan: Hal-hal yang Mubah bagi Orang yang Beri’tikaf
1) Keluar masjid untuk menunaikan hajat yang mesti dilakukan, baik secara tabiat maupun syari’at, seperti;
 Keluar untuk buang hajat,
 Keluar untuk makan dan minum apabila tidak tersedia di masjid,
 Keluar untuk berwudhu atau mandi wajib,
 Keluar untuk sholat Jum’at,
 Keluar untuk bersaksi apabila diwajibkan atasnya,
 Keluar karena mengkhawatirkan suatu ‘fitnah’ yang mengancam diri, keluarga, anak atau harta,
 Keluar untuk melakukan sesuatu yang wajib atau meninggalkan yang haram,
Maka tidak batal i’tikaf seseorang apabila keluarnya karena alasan-alasan di atas, dan hendaklah segera kembali ke masjid apabila hajat-hajatnya telah selesai. Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha berkata,
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا اعْتَكَفَ، يُدْنِي إِلَيَّ رَأْسَهُ فَأُرَجِّلُهُ، وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلَّا لِحَاجَةِ الْإِنْسَانِ
“Dahulu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam apabila beri’tikaf, beliau mendekatkan kepalanya kepadaku (tanpa keluar dari masjid) dan aku menyisir rambut beliau, dan beliau tidak masuk ke rumah kecuali karena hajat sebagai manusia.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
2) Boleh melazimi satu tempat di masjid untuk beri’tikaf dan boleh membuat kemah kecil untuk beri’tikaf di dalamnya. Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha berkata,
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَعْتَكِفُ فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ، فَكُنْتُ أَضْرِبُ لَهُ خِبَاءً فَيُصَلِّي الصُّبْحَ ثُمَّ يَدْخُلُهُ
“Dahulu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan, maka aku membuatkan untuk beliau sebuah kemah, beliau sholat Shubuh kemudian masuk ke dalamnya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
3) Boleh dikunjungi oleh keluarga dan berbicara dengan mereka serta mengantar kembali pulang apabila dibutuhkan, sebagaimana dalam hadits Ummul Mukminin Shofiyyah radhiyallahu’anha,
أَنَّهَا جَاءَتْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَزُورُهُ فِي اعْتِكَافِهِ فِي المَسْجِدِ فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ، فَتَحَدَّثَتْ عِنْدَهُ سَاعَةً، ثُمَّ قَامَتْ تَنْقَلِبُ، فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَهَا يَقْلِبُهَا
“Bahwasannya beliau mengunjungi Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam ketika sedang beri’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, maka beliau berbicara bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam beberapa saat, kemudian bangkit untuk kembali pulang, maka Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pun bangkit bersamanya untuk mengantarnya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
4) Boleh makan dan minum di masjid dengan tetap menjaga kebersihan. Sahabat yang Mulia Abdullah bin Al-Harits bin Jaz’in Az-Zubaidi radhiyallahu’anhu berkata,
كُنَّا نَأْكُلُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ الْخُبْزَ وَاللَّحْمَ
“Dahulu kami makan roti dan daging pada masa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam di masjid.” [HR. Ibnu Majah, Shahih Ibni Majah, 3/126]
 Kesepuluh: Pembatal-pembatal I’tikaf
1) Keluar masjid dengan sengaja tanpa keperluan, berdasarkan hadits Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu’anha, beliau berkata,
وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلَّا لِحَاجَةِ الْإِنْسَانِ
“Dahulu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam tidak masuk ke rumah kecuali karena hajat sebagai manusia.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]
Al-Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata,
واتفقوا على أن من خرج من معتكفه في المسجد لغير حاجةٍ، ولا ضرورة، وبرٍّ أُمِرَ به ونُدِب إليه، فإنَّ اعتكافه قد بطل
“Ulama sepakat bahwa orang yang keluar dari tempat i’tikafnya di masjid tanpa hajat dan tanpa alasan darurat, bukan pula karena suatu kebajikan yang diperintahkan atau disunnahkan, maka i’tikafnya telah batal.” [Maraatibul Ijma’, hal. 74]
2) Berhubungan suami istri, sebagaimana firman Allah ta’ala,
وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ
“Dan janganlah kalian bercampur dengan istri-istri kalian, sedang kalian ber’tikaf di masjid.” [Al-Baqoroh: 187]
3) Murtad, keluar dari Islam –kita berlindung kepada Allah ta’ala dari kemurtadan-. Murtad membatalkan i’tikaf, bahkan menghapus seluruh ibadah yang telah dikerjakan dan menghalangi diterimanya ibadah yang akan dikerjakan. Allah ta’ala berfirman,
وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Dan barangsiapa kafir dengan keimanan maka terhapuslah amalannya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” [Al-Maidah: 5]
Allah ta’ala juga berfirman,
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” [Al-An’am: 88]
Allah ta’ala juga berfirman,
وَمَا مَنَعَهُمْ أَن تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلاَّ أَنَّهُمْ كَفَرُواْ بِالله وَبِرَسُولِهِ
“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.” [At-Taubah: 54]
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
—————————
[1] Lihat Syarhul ‘Umdah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, 2/810 dan Majaalis Syahri Ramadhan, hal. 245-246, sebagaimana dalam Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 477.
[2] Lihat Asy-Syarhul Mumti’, 6/509.
[3] Lihat Asy-Syarhul Mumti’, 6/509-511.
[4] Lihat Asy-Syarhul Mumti’, 6/511.
[5] Lihat Asy-Syarhul Mumti’, 6/52.
[6] Lihat Asy-Syarhul Mumti’, 6/502.
[7] Lihat Asy-Syarhul Mumti’, 6/504-505.
[8] Lihat Asy-Syarhul Mumti’, 6/506.
[9] Lihat Ash-Shiyaamu fil Islam, hal. 469.
[10] Lihat Asy-Syarhul Mumti’, 6/500-501.

Sumber:
 https://www.facebook.com/sofyanruray.info/posts/625866537562832:0