Tuesday, September 27, 2016

Penyakit Bakterial pada Unggas

1. CHRONIC RESPIRATORY DISEASE (CRD)
Chronic Respiratory Disease (CRD) atau penyakit pernafasan menahun merupakan penyakit menular pada unggas dan menyebabkan kerugian ekonomi cukup tinggi karena terjadi penurunan produksi telur dan kualitas karkas dan biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan menjadi tinggi.
Etiologi
CRD disebabkan oleh Mycoplasma gallisepticum dari family Mycoplastaceae. Beberapa strain Mycoplasma gallisepticum yang diketahui seperti strain R merupakan strain patogenik yang biasa digunakan untuk bakteri tantang. Strain F diketahui juga patogenik, tetapi lesi radang kantong hawa (air sacculitis) yang disebabkan oleh strain R lebih hebat dibandingkan F.
Bakteri ini termasuk gram negatif, bentuk kokoid dan berukuran 0,25-0,5 um.
Epidemiologi:
Distribusi Geografis
Penyakit ini pertama kali dilaporkan di Inggris sebagai epizootic pneumoenteritis atau infectious sinusitis pada kalkun tahun 1938 dan pada tahun 1943 agen penyebab CRD pada ayam dan kalkun telah berhasil diisolasi. Dalam beberapa tahun CRD menyebar di beberapa Negara seperti Australia, Inggris, Jepang, India, Yugoslavia, Prancis dan Negara lain di kawasan Asia. Di Indonesia tersebar hamper di seluruh daerah dan bersifat endemik.
Jenis Unggas Terserang
CRD utamanya menyerang ayam dan kalkun. Bakteri penyebab CRD juga pernah diisolasi dari burung liar, itik dan angsa.
Cara Penularan
Penyakit ini ditularkan secara langsung, melalui udara dan debu, peralatan kandang tercemar. Penularan vertical melalui telur dapat terjadi.
Morbiditas dan Mortalitas
Morbiditas dan mortalitas bervariasi. Morbiditas pada ayam tinggi dan dapat menyerang semua ayam dalam satu flok, tetapi mortalitas bervariasi. Serangan penyakit lebih hebat pada kelompok muda dan waktu musim dingin. CRD umumnya berjalan kronis dan sering diikuti oleh infeksi lain seperti ND, IB dan E. coli.
Mortalitas pada ayam dewasa rendah, tetapi dapat menyebabkan penurunan produksi. Ayam broiler mortalitas rendah, tetapi jika ada komplikasi penyakit lain mortalitas dapat mencapai 50 %.

Gejala Klinis
Pada ayam gejala klinis yang menonjol adalah gejala pernafasan ditandai dengan leleran hidung, batuk, konsumsi pakan dan berat badan menurun. Ayam petelur terjadi penurunan produksi telur sampai pada tingkat terendah. Gejala lebih hebat pada ayam broiler terjadi pada umur 4 dan 8 minggu.
Pada kalkun terjadi pembengkakan pada sinus paranasal, leleran mata dan kelopak mata tertutup rapat akibat pembengkakan sinus kepala.
Diagnosa
Ayam yang terserang oleh strain MG variant tidak mudah didiagnosa berdasarkan gejala klinis, serologi atau kultur dan sering tidak dikenal dalam periode yang lama. Morfologi kuman dapat diperiksa dengan pemeriksaan mikroskopis. Kuman dapat dideteksi dengan uji AGP, imunoperoxidase, FAT dan PCR.
Antibodi dapat dideteksi dengan uji HI, serum plat agglutination (SPA) dan ELISA.
Diagnosa Banding
CRD sering dikelirukan dengan beberapa penyakit seperti ND, Swollen Head Syndrome (SHS), Infectious Bronchitis (IB) atau Infectious Coryza.
Pencegahan dan Pemberantasan
Ayam yang sakit dipisah dan telur dari flok tertular di rendam dengan larutan antibiotik. Telur dihangatkan pada suhu 37,8 °C dan dioleskan larutan antibiotic (tilosin) atau eritromisin (40-1000 rpm) selama 15-20 menit.
Pengobatan dengan antibiotik, seperti streptomisin, oksitetrasiklin, klortetrasiklin, eritromisin, spiramisin, tilosin, linkomisin dan spektinomisin.
Tindakan pencegahan dengan vaksinasi, menggunakan vaksin CRD inaktif menggunakan bakterin dalam minyak emulsi.

2. TUBERKULOSIS
Tuberkulosis merupakan penyakit kronis yang sangat menular pada unggas dan menyerang berbagai jenis unggas termasuk burung liar.
Etiologi
Tuberkulosis disebabkan oleh Mycobacterium avium (AT), termasuk bakteri gram positif, berbentuk batang atau bengkok dengan ukuran panjang 1-3 um, tidak berspora dan non motil. Terdiri dari serotype 1, 2 dan 3 yang virulen pada ayam, sedangkan serotype 4-20 (M. intracellulare) tidak virulen pada ayam tetapi virulen pada manusia.
Epidemiologi:
Distribusi Geografis
TuberKulosis ayam tersebar luas di beberapa Negara, seperti Amerika Serikat, Kanada, Brasil, Uruguay, Venezuela dan Argentina, Inggris, Jerman, Afrika Selatan, Kenya dan Rhodesia.
Jenis Unggas Terserang
Semua jenis unggas dapat tertular M. avium, tetapi yang paling peka adalah unggas peliharaan seperti ayam, itik, angsa, kalkun, merak dan merpati. Ungas liar jarang terserang. Burung liar seperti kakatua, nuri, gelatik, gagak dan jalak pernah dilaporkan.
Berbagai jenis mamalia juga dilaporkan seperti babi, domba, kelinci, musang, hamster, rusa, sapi, sedangkan manusia, kera, kuda, marmot, anjing dan kucing termasuk tahan terhadap infeksi penyakit ini.
Cara Penularan
Penyakit ini ditularkan melalui tinja tercemar bakteri. Bakteri dapat berasal dari lesi tuberkulosus usus atau hati dan mukosa kantung empedu. Penularan juga dapat terjadi melalui pernafasan. Bakteri yang tahan hidup dalam tanah atau alas kandang dalam jangka waktu lama merupakan sumber penularan yang penting.
Penyakit ini juga dapat ditularkan melalui telur.
Gejala Klinis
Ayam terserang ditandai dengan depresi, nafsu makan lama-kelamaan turun, ayam kurus (atrofi) dengan tulang dada menonjol. Bulu-bulu tampak kusam, jengger dan pial terlihat pucat dan lebih tipis dari normalnya kadang-kadang terlihat kebiruan atau ikterus.
Salah satu kaki tampak lemah dan posisi tubuh seperti tertunduk. Sayap terlihat seperti menggantung karena bakteri menyerang persendian dan mengakibatkan kelumpuhan. Terjadi diare dan ayam dapat mati setelah sakit beberapa lama atau kematian mendadak dapat terjadi jika kerusakan hebat pada hati dan limpa.
Diagnosa
Penyakit dapat didiagnosa berdasarkan epidemiologis, gejala klinis, patologis dan isolasi bakteri. Pemeriksaan dengan mikroskop membantu diagnose. Isolasi bakteri dilakukan pada media khusus yang selanjutnya diidentifikasi dengan uji serologis untuk memastikan bakteri penyebab penyakit. Uji serologis yang biasanya digunakan adalah uji aglutinasi cepat dan ELISA.
Diagnosa Banding
Beberapa penyakit yang mempunyai gejala klinis atau perubahan patologis sangat mirip dengan tuberculosis adalah fowl cholera dan fowl typhoid.
Pencegahan dan Pemberantasan
Ayam sakit dimusnahkan dengan dibakar atau dikubur yang dalam. Kandang dan peralatan tercemar didesinfeksi dan pengosongan kandang dalam jangka waktu yang lama.
Pengobatan tidak efisien karena memerlukan waktu pengobatan selama 18 bulan. Beberapa jenis obat yang pernah digunakan seperti isoniazid (30 mg/kg), ethambutol (30 mg/kg) dan rrifampicin (45 mg/kg).

3. PENYAKIT PULLORUM
Nama lain: Salmonellosis. Merupakan penyakit menular pada ayam dan bersifat zoonosis.
Etiologi
Penyakit Pullorum disebabkan oleh Salmonella pullorum dari family Enterobacteriaceae. Termasuk bakteri gram negative, anaerob fakultatif, non motil, tidak kromogenik dan tidak berspora. Bentuk batang silinder panjang dengan ujung sedikit bulat dan berukuran 0,3-0,5 x 1-2,5 um.
Epidemiologi;
Distribusi Geografis
Penyakit ini pertama kali dilaporkan sebagai penyakit septicemia yang mematikan pada anak ayam oleh Rettger pada tahun 1899. Kemudian disebut penyakit diare putih atau bacillary white diarrhea dan kemudian disepakati sebagai penyakit Pullorum. Penyakit ini tersebar luas di dunia.
Jenis Unggas Terserang
Yang paling peka terhadap penyakit ini adalah ayam, disamping jenis unggas lainnya seperti kalkun, itik, ayam mutiara, kuau, puyuh, jalak, nuri dan jenis burung liar dapat tertular. Kelompok umur yang paling banyak terserang dan kematian paling tinggi adalah umur 2-3 minggu. Ketahanan terhadap penyakit mulai meningkat dimulai pada umur 5-10 hari dengan meningkatnya limfosit darah dan suhu tubuh.
Mamalia dapat tertular secara alami atau injeksi percobaan seperti simpanse, kelinci, marmut, babi, kucing, anjing, serigala, pedet, dan tikus liar.
Cara Penularan
Penularan utama melalui telur. Infeksi ovum terjadi saat ovulasi dan bakteri masuk melalui kulit telur. Penularan penyakit selama periode menetas dari ayam tertular kepada ayam sehat menyebabkan penyebaran penyakit yang hebat dan hanya dapat dikendalikan melalui fungsi mesin tetas.
Penularan juga dapat ditularkan melalui ayam-ayam kanibal, telur yang pecah dan kemudian dimakan atau melalui luka.
Morbiditas dan Mortalitas
Morbiditas dan mortalitas bervariasi, tergantung umur, strain ayam, nutrisi, menejemen flok dan sifat penularan.
Mortalitas bervariasi dan pada kasus wabah dapat mencapai 100 %. Puncak kematian terjadi pada minggu kedua atau ketiga dari umurnya.
Gejala Klinis
Anak-anak ayam terserang ditandai dengan kelemahan, nafsu makan menurun, ngantuk, diare putih kapur dan bulu-bulu di daerah kloaka dan perut menjadi kotor, sesak nafas dan megap-megap. Sayap terlihat menggantung dan kematian mendadak.
Ayam yang sembuh pertumbuhannya kerdil dan bulu sangat kotor. Terjadi pembengkakan sendi kaki tibiotarsal dan humeroradial dan persendian ulnaris. Produksi, fertilitas dan daya tetas telur menurun.
Diagnosa
Sejarah dan gejala klinis penyakit mempunyai nilai diagnostic yang rendah. Diagnosa pasti dapat dilakukan isolasi dan identifikasi bakteri dan uji serologis.
Diagnosa Banding
Gejala dan lesi patologis sangat mirip dengan penyakit yang disebabkan oleh Salmonella lainnya. Aspergillus dan jamur lainnya dapat menghasilkan lesi yang sama pada paru-paru atau lesi pada persendian sangat mirip dengan infeksi Mycoplasma synoviae dan agen infeksius lainnya.
Infeksi local pada pericardium dan ovarium sama dengan lesi oleh bakteri lain seperti coliform, Staphylococcus, Mikrococci dan Salmonella.
Pencegahan dan Pemberantasan
Ayam sakit dimusnahkan. Pengobatan dilakukan dengan pemberian preparat sulfa seperti sulfadiazine dan sulfamerasin.

4. INFECTIOUS CORYZA
Nama lain: Snot
Etiologi
Penyebab penyakit adalah bakteri Haemophilus paragallinarum. Termasuk bakteri gram negative dan non motil, bentuk batang pendek dan berukuran 1-3 x 0,4-0,8 um. Bakteri yang ganas mempunyai kapsul dan mengalami degenerasi dalam waktu 48-60 jam, dalam bentuk fragmen dan bentuk yang tidak teratur.
Serotipe yang diketahui yaitu serovar A, B dan C. strain Modesto (M) termasuk serovar C. ketiga strain tersebut ada yang menguraikan sebagai serovar I, II, dan III, tetapi menurut penelitian trakhir bahwa serovar II dan III merupakan varian dari serovar I.
Patogenesa
Ada 3 jenis antigen dalam bakteri ini yaitu lipopolisakarida yang diisolasi dari cairan supernatant biakan dari strain serovar A dan C. antigen polisakarida yang diisolasi dari strain serovar A dan C yang menyebabkan hidropericardium pada ayam. Antigenketiga adalah asam hialuronik mengandung kapsul yang menyebabkan gejala coryza.
Epidemiologi:
Distribusi Geografis
Penyakit ini pertama kali dilaporkan oleh Beach pada tahun 1920 dan berhasil diisolasi pada tahun 1931 yang diberi nama Bacillus hemoglobinophilus coryzae gallinarum. Penyakit ini bersifat endemic di dunia. Di Indonesia ditemukan tersebar luas dan endemic.
Jenis Unggas Terserang
Ayam menjadi hospes utama penyakit ini. Unggas lainnya juga terserang seperti kuau, ayam mutiara, dan puyuh. Sedangkan kalkun, itik, burung merpati, gelatik dan gagak relative tahan.
Semua umur ayam dapat terserang, umur 4 minggu sampai 3 tahun peka. Anak ayam berumur 3-7 hari dilaporkan tahan penyakit karena adanya antibody maternal.
Cara Penularan
Penyakit ditularkan melalui kontak langsung antara hewan sakit dengan yang sehat. Unggas sehat dan yang terinfeksi kronis serta burung liar dapat bertindak sebagai pembawa penyakit. Penyakit umumnya terjadi pada musim hujan dan musim dingin.
Morbiditas dan Mortalitas
Tingkat morbiditas tinggi sedangkan mortalitas rendah. Jika ada komplikasi penyakit lain seperti cacar ayam, CRD, IB, kolera unggas dan ILT mortalitas menjadi tinggi.
Gejala Klinis
Masa inkubasi tidak diketahui dengan pasti. Secara percobaan berlangsung 24-48 jam setelah infeksi atau intra sinus dengan biakan bakteri atau eksudat. Lama berlangsungnya penyakit tergantung dari inokulum dan keganasan bakteri.
Ayam terserang ditandai dengan gejala pernafasan yaitu keluarnya cairan bersifat encer sampai berlendir, bersin-bersin, sinus kepala bengkak, selaput lender mata meradang atau mata membengkak. Jengger bengkak, diare, nafsu makan dan minum menurun.
Diagnosa
Penyakit didiagnosa berdasarkan epidemiologi, gejala klinis, patologi, isolasi dan identifikasi penyakit. Berbagai uji serologis dapat digunakan seperti aglutinasi tabung atau plat, AGP dan HI. Dengan AGP dapat mendeteksi antibodi 2 minggu pascainfeksi atau pascavaksinasi kurang lebih 11 minggu.
Diagnosa Banding
Penyakit ini dapat dikelirukan dengan beberapa penyakit seperti ND, CAA, IB, CRD, kolera unggas kronis, cacar unggas, defisiensi vitamin A yang mempunyai gejala klinis yang mirip dengan coryza.
Pencegahan dan Pemberantasan
Ayam yang sakit dapat diobati dengan preparat sulfonamide dan antibiotika seperti eritromisin dan oksitetrasiklin. Obat dalam bentuk campuran efektif dalam pengobatan penyakit seperti Sulfachloropyrazine-sulfadimidine, klortetrasiklin-sulfodimektosin, sulfakloropiridazin-trimetroprim, miporamisin dan esafloxacin.
Tindakan pencegahan yang paling efektif yaitu melakukan vaksinasi. Ayam divaksinasi pada umur 10 dan 20 minggu melalui suntikan intramuskuler. Belakangan ini telah dikembangkan vaksin snot yang dikembangkan dengan vaksin IB dan ND inaktif.

5. PASTEURELLOSIS
Nama lain: Fowl Cholera, Avian Haemorrhagic Septicemia, Avian Cholera atau Penyakit Kolera Unggas.
Etiologi
Penyebab penyakit adalah Pasteurella moltocida. Termasuk bakteri gram negative, bentuk batang, non motil dan tidak membentuk spora. Bakteri ini mempunyai serotype somatic yang bervariasi dan serogrup bipolar. Ada 16 serotipe somatic (serotype 1-16) dan 4 serogrup kapsuler (A, B, D dan F) diantaranya diisolasi dari hospes unggas. Namun dari karakter antigenik dan virulensinya ditemukan A:1, A:3, dan B:4.
Epidemiologi:
Distribusi Geografis
Penyakit ini dilaporkan sejak pertengahan tahun 1800 di Eropa dan istilah fowl cholera pertama kali dilaporkan oleh Mailet tahun 1838, haemorrhagic septicemia oleh Huppe tahun 1886 dan avian pasteurellosis oleh Lignieres pada tahun 1900. Sejak itu pula penyakit ini dilaporkan di beberapa Negara seperti Italia, India, Rusia, Amerika Serikat dan beberapa Negara lainnya kejadian penyakit bersifat sporadik dan endemik.
Jenis Unggas Terserang
Hampir semua jenis unggas terserang, seperti ayam, itik, kalkun, angsa dan burung liar lainnya serta menyerang semua kelompok umur.
Morbiditas dan Mortalitas
Tingkat morbiditas dan mortalitas tinggi. Dalam satu kelompok unggas terserang tingkat mortalitas bervariasi, pada ayam mencapai 20 %, itik 50 % dan kalkun 17-68 %.
Gejala Klinis
Gejala klinis penyakit ada 2 bentuk yaitu akut dan kronis.
Bentuk akut ditandai dengan perjalanan penyakit singkat hanya beberapa jam sebelum terjadi kematian. Gejala yang tampak yaitu demam, anoreksia, bulu kusam, dari mulut keluar cairan berlendir, diare dan tinja putih kapur kadang-kadang kehijauan berlendir. Frekuensi pernafasan meningkat. Kulit di sekitar kepala tampak kebiruan dan terjadi pembengkakan pada jengger dan pial.
Bentuk kronis terjadi akibat infeksi pasteurellosis yang tidak ganas. Gejala yang terlihat berupa pembengkakan pada jengger, pial, sinus, sendi kaki atau sayap. Terdapat tanda tortikolis, sesak nafas akibat infeksi saluran pernafasan.
Diagnosa
Penyakit dapat didiagnosa berdasarkan epidemiologi, gejala klinis, patologis, isolasi dan identifikasi penyebab. Koloni bakteri dapat diperiksa menggunakan mikroskop, sedangkan identifikasi dilakukan dengan uji aglutinasi cepat menggunakan antiserum pasteurella multocida. Serotype somatic dari bakteri dapat dideteksi dengan AGP berdasarkan atas variasi antigenic di dalam komponen polisakarida.
Diagnosa Banding
Penyakit ini mempunyai gejala klinis yang sangat mirip dengan beberapa penyakit seperti ND, CRD, Snot dan Aspergillosis.
Pencegahan dan Pemberantasan
Unggas yang sakit disingkirkan dari kelompok. Pengobatan dilakukan dengan memberikan antibiotik, seperti streptomisin, penicillin atau penicillin dan streptomisin (penstrep), oksitetrasiklin dan khloramfenikol. Novobiosin atau preparat sulfonamide dapat diberikan bersama pakan atau air minum.
Tindakan pencegahan adalah vaksinasi menggunakan vaksin aktif atau vaksin inaktif.

6. KOLIBASILOSIS
Etiologi
Kolibasilosis disebabkan oleh Escherichia coli. Termasuk bakteri gram negatif. Bakteri ini berbentuk basilus, tidak berspora, beberapa atrain motil dan mempunyai flagella peritrichous serat berukuran 2-3 x 0,6 um.
Berbagai serotipe E. coli telah diketahui dan serotype antigen telah diklasifikasi sebagai antigen somatik (154 O), antigen kapsul (89 K) dan O2:K1.
Patogenesa
Bakteri E. coli menginfeksi saluran pernafasan biasanya bersama-sama dengan berbagai infeksi lain seperti IB, ND, SHS atau CRD. kerusakan yang terjadi pada saluran pernafasan akan sangat peka masuknya E. coli.
Ayam-ayam umur 12-16 minggu yang diinfeksi dengan Mycoplasma menjadi lebih peka terhadap E. coli dan kepekaannya berlangsung 30 hari. Demikian pula jika ada infeksi virus IB, ND dan CRD. kepekaannya lebih cepat dan berlangsung lama, seperti infeksi gabungan IB dan E. coli menyebabkan gejala klinis dan pertumbuhan patologis lebih hebat dibandingkan dengan infeksi tunggal.
Epidemiologi:
Distribusi Geografis
Penyakit ini tersebar luas di dunia, termasuk di Indonesia.
Jenis Unggas Terserang
Penyakit ini menyerang semua jenis unggas seperti ayam, kalkun dan itik.
Cara Penularan
Sumber penularan yang paling potensial adalah air minum, makanan ayam dan telur yang tercemar tinja, dan debu kandang. Bakteri ini dapat bertahan dalam waktu lama terutama dalam keadaan kering dan dapat menurun 84-97 % dalam waktu 7 hari setelah debu tersebut basah oleh air.
Morbiditas dan Mortalitas
Pada flok individual yang terserang kolibasilosis, tingkat mortalitas dapat mencapai 75 %.
Gejala Klinis
Ayam-ayam terserang ditandai dengan gejala lesu, kurus, berak encer berwarna kuning.
Diagnosa
Penyakit ini dapat didiagnosa berdasarkan epidemiologi, gejala klinis, patologi, isolasi dan identifikasi penyebab.
Isolasi bakteri pada media eosin methylene blue (EMB), MacConkey atau agar tergitol 7 atau media non inhibitor. Antibody terhadap E. coli dapat dideteksi dengan uji hemaglutinasi indirek (IHT) dan ELISA.
Diagnosa Banding
Beberapa penyakit mempunyai gejala atau perubahan patologis yang sangat mirip, seperti sinovitis-artritis, mikoplasma, stapylokokus, salmonella dan organism lainnya.
Perikarditis juga disebabkan oleh Chlamydia. Peritonitis kadang-kadang dapat disebabkan oleh Pasteurella dan Streptococci.
Pencegahan dan Pemberantasan
E. coli sangat peka terhadap antibiotic. Beberapa antibiotic yang efektif untuk mencegah dan mengobati penyakit ini seperti amfisilin, kloramfenikol, klortetrasiklin, neomisin, nitrofuran, gentamisin, streptomisin, asam nalidixic, polimiksin B dan preparat sulfa. Pemberian vitamin juga diperlukan untuk mengurangi stress.
Tindakan pencegahan berupa vaksinasi menggunakan vaksin aktif serotype O2:K1 dan O78:K80. Vaksin inaktif O78 dapat diberikan pula dan diuji cobakann pada itik dilaporkan memberikan kekebalan.

7. ORNITHOSIS
Nama lain: Chlamidiosis.
Etiologi
Ornithosis disebabkan oleh Chlamydia psittaci dari family Chlamydiaceae. Merupakan bakteri intraseluler obligat pada sel hospes eukaryotic. Materi genetic tersusun atas molekul DNA dengan berat molekul 6,6 x 10 pangkat 8.
Epidemiologi
Distribusi geografis
Penyakit ini dilaporkan bersifat endemic di Amerika Serikat sejak tahun 1960-1987, kemudian penyakit dilaporkan juga di Ceko dan Slowakia serta Negara-negara lainnya.
Jenis Unggas Terserang
Penyakit ini menyerang kalkun dan itik. Ayam, kuau dan merpati relatif tahan dan hanya ditemukan secara serologis.
Cara penularan
Penyakit ditularkan melalui pernafasan dan melalui tinja. Infeksi dapat juga terjadi secara kontak langsung. Peranan arthropoda dalam penularan penyakit masih dalam dugaan, meskipun ditemukan Chlamydia dalam kutu yang berasal dari sarang kalkun.
Morbiditas dan Mortalitas
Unggas terserang Chlamydia yang ganas, tingkat morbiditas mencapai 50-80 % dan mortalitas 10-30 %, sedangkan yang kurang ganas tingkat morbiditas 5-20 % dan mortalitas 1-4 %.
Gejala Klinis
Masa inkubasi penyakit bervariasi tegantung dari jumlah Chlamydia yang dihirup dan keganasan strain yang menginfeksi, lingkungan dan umur terserang.
Unggas terserang ditandai menurunnya nafsu makan, konjungtivitis, rhinitis disertai dengan leleran dari hidung dan muut yang berwarna kuning hijau. Bulu-bulu di sekitar leher menjadi kotor karena eksudat, sesak nafas, diare dan tinja kehijauan. Unggus menjadi kurus dan konvulsi. Produksi telur turun drastic, dari 60 % menjadi 10-20 %.
Diagnosa
Penyakit ini didiagnosa berdasarkan epidemiologi, gejala klinis, patologis, isolasi dan identifikasi. Isolasi pada telur ayam berembrio melalui selaput kuning telur dan biakan sel atau pada tikus putih melalui intraperitoneal.
Identifikasi organism menggunakan mikroskop, sedangkan pemeriksaan serologis dengan uji ELISA dan CFT.
Diagnosa Banding
Penyakit ini dapat dikelirukan dengan berbagai penyakit seperti Pasteurellosis, Kolibasilosis dan Avian Influenza.
Pencegahan dan Pemberantasan
Pengobatan dapat dilakukan dengan oksitetrasiklin 400 g/ton pellet pakan. Tindakan pencegahan dengan vaksinasi, tetapi vaksin komersial belum tersedia.

8. ASPERGILLOSIS
Etiologi
Aspergillosis disebabkan oleh jamur Aspergillus fumigatus dan flavus. Spesies jamur lain yang dapat menyebabkan penyakit adalah Aspergillus terrus, A. glaucus, A. nidulans, A. niger, A. amstelodami dan A. nigrescen.
Patogenesa
Aspergillus sp dapat mengeluarkan aflatoksin yang sangat pathogen pada ayam. Ayam yang diekspos konidia A. fumigates menyebabkan kematian sampai 50 %.
Epidemiologi:
Distribusi Geografis
Aspergillosis pada unggas telah dikenal hampir 2 abad yang lalu, yaitu ditemukan pada jenis unggas liar seperti itik, angsa, burung onklet. Aspergillus fumigates pertama kali dilaporkan pada paru-paru kalkun liar (Otis tardaga) pada tahun 1863.
Jenis Unggas Terserang
Semua jenis unggas termasuk burung liar peka terhadap Aspergillosis, seperti ayam, itik, angsa dan burung onklet, kalkun, burung kakatua, nuri,dan beo.
Cara Penularan
Aspergillosis ditularkan melalui udara, kandang atau alas kandang tercemar. Dilaporkan bahwa alas kandang sering menjadi sumber konidia Aspergillus. Penularan lewat udara di dalam mesin tetas pernah dilaporkan.
Penularan melalui telur dapat terjadi, secara percobaan telur-telur yang diinkubasi dengan suspense jelly petroleum mengandung konidia A. fumigates dan infeksi meningkat apabila telur diinkubasi dalam incubator dicemari dengan konidia A. fumigates dan dalam waktu 8 hari inkubasi telah terjadi penetrasi jamur melalui kulit telur.
Morbiditas dan Mortalitas
Aspergillosis akut sering menyebabkan wabah pada anak ayam dengan tingkat morbiditas dan mortalitas tinggi, sedangkan aspergillosis kronis terjadi pada unggas dewasa dengan tingkat morbiditas dan mortalitas rendah. Pada kalkun mortalitas dapat mencapai 50 %.
Gejala Klinis
Unggas terserang ditandai dengan gejala sesak nafas, nafas megap-megap, nafsu makan menurun, lemah dan pada stadium akhir penyakit terjadi diare. Dari hidung dan mukosa mata keluar cairan berlendir. Beberapa unggas dalam waktu 24 jam menunjukkan gejala konvulsi dan tortikolis yang terjadi pada beberapa jenis unggas seperti ayam, kalkun dan angsa.
Diagnosa
Aspergillosis mudah didiagnosa berdasarkan pemeriksaan patologis yang ditandai dengan nodul caseous atau plak pada kantong hawa atau paru-paru unggas terserang. Jamur mudah diperiksa di bawah mikroskop biasa setelah potongan kecil dari nodul diteteskan larutan KOH 20 %.
Pemeriksaan melalui uji serologis AGP, ELISA diperlukan untuk mengidentifikasi jamur. Dengan AGP jamur dapat dibedakan berdasarkan garis presipitasi yang dihasilkan. Aspergillus fumigates menghasilkan garis presipitasi sedangkan A. flavus tidak menghasilkan garis presipitasi.
Pencegahan dan Pemberantasan
Aspergillosis dapat dikendalikan dengan sanitasi kandang yang baik. Kandang harus dibersihkan atau didesinfeksi secara rutin. Untuk mencegah penularan dalam kelompok unggas maka air minum ditambahkan larutan copper sulphate 1:2000, nystatin atau hamycin atau mikonazol untuk mencegah gejala klinis aspergillosis. Infeksi pada embrio ayam dapat dicegah dengan amfoterisin B atau fenil merkuri di-naftilmetane disulfonat.
Untuk pencegahan dianjurkan untuk melakukan vaksinasi, tetapi vaksin komersial belum tersedia. Vaksinasi pada kalkun pernah diuji cobakan menggunakan vaksin aspergillosis yang disiapkan dari konidia dan hasilnya dapat mencegah kematian hamper 50 % dan kebal setelah ditantang dengan konidia Aspergillus fumigates.

9. KANDIDIASIS
Kandidiasis merupakan penyakit jamur menular pada saluran pencernaan unggas yang ditandai dengan pertumbuhan yang terhambat atau kerdil.
Etiologi
Candidiasis disebabkan oleh Candida albican. Jamur ini mempunyai ukuran 5,5 x 3,5 u. jamur tumbuh baik pada medium Saboroud agar dan menghasilkan koloni krem, dan putih setelah diinkubasi selama 24-48 jam pada suhu 37 °C. organisme menghasilkan asam dan gas pada dextrosa, levulosa, maltosa dan mannosa serta menghasilkan sedikit asam pada galaktosa dan sukrosa.
Epidemiologi:
Distribusi Geografis
Kandidiasis tersebar luas di dunia, terutama di Negara-negara tropis.
Jenis Unggas Terserang
Kandidiasis menyerang semua jenis unggas seperti ayam, kalkun, kuau, angsa, merpati, puyuh, merak dan parkit. Unggas yang terserang dan yang paling peka adalah unggas muda.
Gejala Klinis
Gejala klinis umumnya tidak spesifik. Unggas terserang ditandai dengan gejala kerdil, bulu kusam dan lesu.
Diagnosa
Penyakit ini agak sulit didiagnosa karena gejala klinis dan perubahan patologis anatomis tidak mencolok. Namun dari pemeriksaan histopatologis dapat diperlihatkan perubahan jaringan, spora dan hipe C. albican dapat ditemukan pada lesi. Melalui pemupukan pada agar Saboroud diperoleh pertumbuhan murni dari Candida yang selanjutnya dapat diperiksa dengan mikroskop biasa.
Diagnosa Banding
Penyakit ini mirip dengan aspergillosis dan hanya dapat dibedakan berdasarkan pemeriksaan morfologi jamur.
Pencegahan dan Pemberantasan
Ayam sakit dipisah dan kandang didesinfeksi dengan formalin 2 % dan NaOH 1 % serta iodine monochloride dalam HCl 3 %.
Pengobatan dilakukan dengan memberikan CuSO4 yang diberikan dalam air minum (1:2000) diberikan setiap minggu. Pemberian nystatin (110 mg/kg makan) dan sodium lauryl sulfate (7,8-25 mg/liter) selama 5 hari dilaporkan efektif mencegah candidiasis.

Daging dan Produk Olahannya

Daging segar adalah daging atau otot skeletal dari hewan yang disembelih secara halal dan higienis setelah mengalami pelayuan (aging) yang disimpan pada suhu dingin atau beku, yang tidak mengalami proses pengolahan lebih lanjut.
Definisi daging secara umum adalah bagian dari tubuh hewan yang disembelih yang aman dan layak dikonsumsi manusia. Termasuk dalam definisi tersebut adalah daging atau otot skeletal dan organ-organ yang dapat dikonsumsi (edible offals).
Offal adalah seluruh bagian tubuh hewan yang disembelih secara halal dan higienis selain karkas, yang terdiri dari organ-organ di rongga dada dan rongga perut, kepala, ekor, kaki mulai dari tarsus/karpus ke bawah, ambing, dan alat reproduksi.

Jeroan (edible offal atau disebut juga variety meat atau fancy meat) adalah organ atau jaringan selain otot skeletal yang lazim dan layak dikonsumsi manusia yang tidak mengalami proses lebih lanjut selain daripada pendinginan atau pembekuan. Jeroan terdiri dari jantung, lidah, hati, daging di kepala, otak, timus dan atau pankreas, babat, usus, ginjal, buntut.

Mechanically Deboned Meat (MDM)/Mechanically Recovered Meat (MRM)/Mechanically Seperated Meat (MSM) adalah daging yang diperoleh dari pelepasan sisa-sisa daging yang melekat pada tulang (terutama dari tulang belakang (vertebrae), rusuk, bahu, dan pelvis) dengan menggunakan mesin bertekanan tinggi. MRM dapat mengandung beberapa bagian/materi tulang dan atau sumsum tulang belakang. Kandungan kalsium, besi dan purin relatif lebih tinggi dibandingkan daging lain.

Daging giling adalah daging yang dihasilkan dari penggilingan dan pencampuran berbagai jenis potongan daging, dengan atau tanpa campuran lemak (maksimum 30%).
 
Patties (beef patties) adalah daging giling yang telah dibentuk tertentu (patties) yang dibekukan, dengan atau tanpa penambahan bumbu, dapat ditambahkan dengan pengikat (binder atau extender) dan air untuk memudahkan pembentukan menjadi patties.
Hamburger adalah daging giling yang telah dibentuk tertentu (patties) yang dibekukan, dengan atau tanpa penambahan bumbu, namun tidak ditambahkan dengan pengikat (binder atau extender) dan air.
Daging asap (smoked meat) adalah daging atau produk daging yang telah mengalami pengasapan atau penambahan citarasa asap.
 
Cured meat adalah produk daging yang telah diperlakukan dengan memberikan garam curing (mengandung garam, sodium nitrit dan atau nitrat, gula dan bumbu lain) kemudian disimpan (beberapa hari). Setelah curing, produk daging dibilas dan siap disajikan atau diasap.
 
Baso daging adalah produk daging berbentuk bulatan atau lainnya yang diperoleh dari campuran daging (kandungan daging tidak kurang dari 50%) dan pati atau serealia dengan atau tanpa penambahan bahan tambahan pangan (BTP) yang diizinkan.
 
Sosis daging adalah produk daging yang berasal dari daging yang digiling dan dicampur dengan bahan tambahan pangan lain kemudian dimasukkan ke dalam casing sosis. Sosis dibagi menjadi dua kelompok yaitu sosis mentah dan sosis matang. Sosis mentah terdiri dari sosis segar (uncooked fresh sausage) dan sosis asap (smoked sausage). Sosis matang terdiri dari sosis masak, semi-dry sausage dan dry sausage.
 
Dried meat adalah produk daging yang berasal dari daging yang dilakukan curing, diasap dan dikeringkan menggunakan mesin pengering (dryer atau dehydrator) atau menggunakan sinar matahari.
 
Kaldu daging adalah kaldu daging kering berupa bubuk atau bubuk yang dibentuk kubus.
 
Canned meat adalah produk daging olahan yang diproses dengan pemanasan steril komersial dan dikemas di dalam kaleng yang hampa udara.
 
Corned meat adalah produk daging yang telah diproses menggunakan garam curing dan diberikan bumbu lain, kemudian dilakukan pemanasan steril komersial.
 
Tallow adalah bahan yang berasal dari lemak hewan yang disembelih yang memiliki titer minimum (=suhu minimum untuk merubah dari bentuk cair ke padat) sama atau lebih besar dari 40oC. Casing sosis adalah selubung atau selongsong sosis yang dibuat dari bahan sintetik atau organ
 
2. Daging Segar
Daging segar dihasilkan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) atau Rumah Pemotongan Unggas setelah proses penyembelihan hewan yang dilaksanakan secara halal dan higienis.
Setelah proses pemotongan, karkas atau daging harus disimpan pada suhu dingin (suhu internal daging 0 sampai +4 oC; suhu chiller/cooler -1 sampai +1 oC) atau suhu beku (suhu internal daging -18 oC; suhu cold storage/freezer > -18 oC).
 
3. Jeroan (Variety Meat, Fancy Meat)
Jeroan dihasilkan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) atau Rumah Pemotongan Unggas setelah proses penyembelihan hewan yang dilaksanakan secara halal dan higienis.
Setelah proses pemotongan, jeroan harus disimpan pada suhu dingin (suhu internal daging 0 sampai +3 oC; suhu chiller/cooler -1 sampai +1 oC) atau suhu beku (suhu internal daging -18 oC; suhu cold storage/freezer > -18 oC).
 
4. Daging Giling, Patties, Hamburger
Daging giling dihasilkan dengan menggiling dan mencampur beberapa potongan daging, dan dapat dicampur dengan lemak (maksimum 30%).
 
5. Daging Asap
Daging asap dihasilkan dari proses pengasapan. Metode pengasapan ada 2 yaitu (a) pengasapan dingin (cold smoking) yang dilakukan pada suhu 20-25 oC (tidak lebih dari 28oC), pada kelembaban 70-80%, selama beberapa jam sampai beberapa hari; (2) pengasapan panas (hot smoking) yang dilakukan pada suhu awal 30-35oC dan akhir 50-55oC bahkan dapat mencapai 75-80oC.
 
6. Cured Meat
Cured meat (daging curing) dihasilkan dari proses pemberian garam curing kepada daging. Garam curing terdiri dari garam, nitrit dan atau nitrat, gula serta bumbu lain. Curing dapat dilakukan secara kering (dry curing) atau secara basah (wet curing). Curing kering dilakukan dengan melumuri daging dengan garam curing. Curing basah (wet curing atau dikenal juga sebagai brine curing) dilakukan dengan merendam daging dalam larutan garam curing atau dengan menyuntikkan larutan garam curing ke dalam daging dengan alat khusus. Daging yang telah diberi garam curing disimpan beberapa hari pada suhu +5 oC, kemudian daging dibilas, yang selanjutnya siap disajikan atau diasap.
 
7. Baso Daging
Baso daging dihasilkan dari penggilingan dan pencampuran daging (kandungan daging tidak kurang dari 50%) dengan pati atau serealia dengan atau tanpa penambahan bahan tambahan pangan (BTP) yang diizinkan. Selanjutnya campuran tersebut dicetak/dibentuk (bulat atau gepeng), lalu dimasukkan ke dalam air mendidih sampai baso tersebut mengapung. Baso ditiriskan dan dikemas.
 
8. Sosis Daging
Sosis daging dihasilkan dari daging yang digiling dan dicampur dengan bahan tambahan pangan lain kemudian dimasukkan ke dalam casing sosis. Sosis dibagi menjadi dua kelompok yaitu sosis mentah dan sosis matang. Sosis mentah terdiri dari sosis segar (uncooked fresh sausage) dan sosis asap mentah (uncooked smoked sausage). Sosis matang terdiri dari sosis masak, semi-dry sausage dan dry sausage.
Uncooked fresh sausage adalah sosis yang masih mentah/segar, belum dilakukan curing atau diasap, yang harus dimasak sebelum dikonsumsi. Contohnya fresh Bockwurst, Bratwurst, fresh pork sausage, Italian-style fresh pork sausage, Salsicca, Weisswurst, fresh Thuringer.
Uncooked smoked sausage adalah sosis yang telah mengalami curing atau pengasapan, yang harus dimasak sebelum dikonsumsi. Contohnya country style smoked porks sausage, Linguica, Mettwurst, Polish sausage.
 
Cooked sausage adalah sosis yang tidak dilakukan curing atau diasap, yang telah dimasak terlebih dahulu. Contohnya blood sausage, cooked Bockwurst, Braunschweiger, cooked Bratwurst, Liver sausage, cooked Thuringer.
 
Cooked smoked sausage adalah sosis yang telah dilakukan curing, diasap (sedikit), dan telah dimasak. Contohnya Bologna, Boterhamworst, Bratwurst, Frankfurters, Knackwurst, Polish sausage, Berliner or New England style sausage, Vienna sausages, Wieners.
Dry sausage adalah sosis yang telah dilakukan curing dan dikeringkan dengan udara, yang siap disajikan dingin atau hangat. Dry sausage terdiri dari semi-dry sausage dan dry sausage. Contoh semi-dry sausage antara lain Cervele\atm Lebanon, Bologna, Mortadella, Vienna. Dry sausage dapat diasap, tidak diasap atau dimasak, contohnya Chorizo, Frizzes, Lyons, Pepperoni, Salami, Soppressata.
 
9. Daging Kering, Kaldu Daging
Daging kering dihasilkan dari daging yang telah diproses dengan curing, asap dan pengeringan. Daging dapat berupa potongan daging, slice, atau serbuk/bubuk (powder) atau serbuk yang dibentuk kubus. Contoh produk daging kering antara lain beef jerky, biltong, bresaola, chipped meat, bouillon.
 
10. Canned Meat, Corned Meat
Canned meat dihasilkan dari produk olahan daging yang diproses dengan pemanasan sterilisasi komersial (retort). Pemanasan sterilisasi komersial dilakukan dalam autoklaf (121oC).
 
11. Tallow
Tallow bahan yang berasal dari lemak hewan yang disembelih yang memiliki titer minimum (=suhu minimum untuk merubah dari bentuk cair ke padat) sama atau lebih besar dari 40oC. Proses pemanasan yang diterapkan dalam produksi tallow adalah sterilisasi (120oC dengan tekanan 1,3 bar), kemudian pencucian panas 90oC.

Sumber: Denny Widya Lukman, IPB

Dua Sisi Mata Pisau Teknologi Inseminasi Buatan

ternak.net
Teknik inseminasi buatan (IB) mungkin hanya ditujukan untuk kepentingan ilmu pengetahuan saja seperti yang dilakukan oleh Lazzaro Spallanzani sebagai penemunya, apabila tidak dikenal manfaatnya sebagai alat untuk mengendalikan penyakit dan untuk menaikkan mutu genetik ternak. IB banyak dimanfaatkan untuk mencegah dan memberantas penyakit kelamin menular, seperti yang pernah dilakukan di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19. IB juga digunakan bangsa Rusia untuk menaikkan mutu ternak secara upgrading.
Tetapi pada masa sekarang dan akan datang tampak bahwa IB merupakan teknik yang dianggap berhasil dalam bidang pemuliaan ternak. Metode-metode praktis telah dilakukan, dan pelayanan untuk menaikkan mutu sapi menguntungkan bagi para peternak. Peternak atau peternakan kecil dengan jumlah sapi betina yang sedikit dapat meningkatkan mutu ternaknya menggunakan IB menggunakan semen pejantan berdaya pembuahan sangat tinggi dan mutu genetik yang luar biasa dan juga peternak mau membayar lebih tinggi hanya untuk mendapatkan inseminasi yang memuaskan tentunya dengan harapan anak yang didapatkan berkualitas super.
borneo.news

Akan tetapi teknik IB ini mempunyai manfaat maupun kerugiannya, meskipun manfaat yang didapatkan jauh lebih besar daripada kerugian yang ditimbulkannya.

Manfaat Inseminasi Buatan
Beberapa manfaat yang dapat dirasakan dalam penerapan IB ini adalah:
 
1. Inseminasi buatan (IB) sangat mempertinggi penggunaan pejantan-pejantan unggul. Daya guna seekor pejantan yang secara genetik unggul dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin.

2. Bagi peternak-peternak kecil seperti umum ditemukan di Indonesia, penggunaan IB sangat menghemat biaya disamping dapat menghindari bahaya dan menghemat tenaga pemeliharaan pejantan yang belum tentu merupakan pejantan terbaik untuk diternakkan.

3. Pejantan-pejantan yang digunakan dalam IB telah dilakukan seleksi secara teliti dan ilmiah dari hasil perkawinan betina-betina dengan pejantan unggul. Dengan lebih banyak betina yang dilayaninya dan dari turunan-turunan hasil perkawinan ini dapat lebih cepat diseleksi dan dipertahankan pejantan-pejantan unggul dan mengeliminir pejantan-pejantan jelek.

4. Penularan penyakit dapat dicegah melalui IB, dengan hanya menggunakan pejantan-pejantan yang sehat atau bebas dari penyakit, menghindari kontak kontak kelamin pada waktu perkawinan, dan membubuhi antibiotika ke dalam semen sebelum dipakai. IB merupakan cara terbaik mencegah penyebaran penyakit veneral dan penyakit menular lainnya seperti Brucellosis, Vibriosis, Leptospirosis dan Trichomoniasis.

5. Karena hanya semen dengan fertilitas tinggi yang diberikan pada peternak, maka calving intervalnya dapat diperpendek dan dapat menurunkan kasus repeat breeder (kawin berulang bagi betina).
 
6. Keuntungan lainnya adalah memungkinkan perkawinan antara ternak yang sangat berbeda ukurannya, misalnya sapi Bali dapat dikawinkan dengan semen sapi Brangus, Simental maupun Limousin. IB juga dapat memperpanjang waktu pemakaian pejantan-pejantan yang secara fisik tidak sanggup berkopulasi secara normal. IB dapat menstimulir interese yang lebih tinggi dalam beternak dan praktik manajemen yang lebih baik. IB juga sangat berguna untuk digunakan pada betina-betina yang berada dalam keadaan estrus dan berovulasi tetapi tidak mau berdiri untuk dinaiki pejantan.

Kerugian Inseminasi Buatan
Selain manfaat dari IB ini sangat banyak terutama dalam meningkatkan mutu hasil ternak, akan tetapi harus juga diperhatikan kerugian-kerugian yang diakibatkan oleh teknik IB ini. Kerugian-kerugiannya adalah:

1. Pelaksana yang terlatih baik dan terampil diperlukan dalam mengawasi atau melaksanakan penampungan, penilaian, pengenceran, pembekuan dan pengangkutan semen dan inseminasi pada ternak betina untuk mencegah penyebaran penyakit-penyakit kelamin menular yang dapat menjangkiti kelompok-kelompok ternak.

2. Kemungkinan besar IB dapat menjadi alat penyebar abnormalitas genetic seperti pada sapi, diantaranya cystic ovary, konformasi tubuh yang buruk terutama pada kaki-kakinya, dan kekurangan libido. Belum banyak penelitian tentang meningkatnya kejadian cystic ovary pada sapi perah yang sebagian besar disebabkan oleh penggunaan IB secara meluas.

3. Apabila persediaan pejantan unggul sangat terbatas, peternak tidak dapat memilih pejantan yang dikehendaki untuk mengikuti program peternakan yang diingininya. Dengan penggunaan seekor pejantan secara terus-menerus, kemungkinan besar akan terjadi “inbreeding” yang merugikan.
 
4. IB masih diragukan manfaatnya dalam mengatasi semua infeksi atau abnormalitas saluran kelamin betina, kalaupun ada, jarang terjadi.

5. Inseminasi intrauterine pada sapi yang bunting dapat menyebabkan abortus.

6. IB tidak dapat digunakan dengan baik pada semua jenis hewan. Pada beberapa spesies masih harus dilakukan penelitian sebelum IB dapat dipakai secara praktis.

Pemilik Anjing Wajib Baca : Penyakit Pada Anjing

Anjing merupakan salah satu hewan peliharaan atau kesayangan yang banyak digemari orang, karena anjing relatif mudah dipelihara. Anjing bagi sebagian orang dipelihara sebagai teman dan ada juga memelihara sebagai keperluan lain, misalnya saja sebagai penjaga malam. Saat sekarang anjing semakin banyak difungsikan untuk pengintaian atau anjing pelacak, misalnya digunakan oleh polisi fungsi-fungsi keamanan mulai dari pengendusan dugaan adanya narkoba, melacak bom bahkan para teroris atau pengacau keamanan.

Namun demikian anjing sebagai makhluk hidup harus dirawat dan selalu diperhatikan kesehatan maupun makanannya. Anjing yang sehat tentu akan menyenangkan untuk sekedar menemani kita bercanda-gurau atau jalan pagi misalnya, tetapi anjing yang sakit tentu akan membuat kita sedih dan merasa khawatir jangan-jangan anjing kita tidak bisa sehat dan tidak bisa kita pelihara lagi.

Nah, karena itu kesehatan anjing mutlak harus diperhatikan, mulai dari vaksinasinya harus diketahui dan dijadwalkan, makan dan minum harus cukup dan mendapat asupan gizi yang baik. Di samping itu pemeliharaan dengan kandang serta lingkungan yang terawat bersih harus juga diperhatikan. Namun demikian kadang kala anjing yang kita rawat dengan baik tidak 100 % terhindar dari penyakit. Berikut beberapa penyakit pada anjing yang dapat dibaca dan dimengerti bagi kita yang menjadi penghobi anjing.

1. HEPATITIS MENULAR PADA ANJING (Infectious Canine Hepatitis)

Hepatitis menular pada anjing telah tersebar luas di dunia, dengan gejala beragam dari yang ringan berupa demam dan pembendungan membrane mukosa sampai bentuk parah, depresi, leucopenia yang jelas dan bertambah lamanya waktu beku darah.

Etiologi
Infectious Canine Hepatitis disebabkan oleh virus Canine Adeno Virus-1 (CAV-1). Virus ini termasuk virus DNA, tidak beramplop dan secara antigenic berkerabat dengan CAV-2 penyebab tracheobronchitis menular pada anjing.

Gejala Klinis
Hepatitis menular gejalanya beragam dari demam ringan sampai mematikan. Masa inkubasi 4-9 hari. Gejala berupa demam diatas 40 °C dan berlangsung 1-6 hari, biasanya bersifat bifasik, terjadi takikardia dan leukopenia. Gejala lainnya berupa apatis, anoreksia, kehausan, konjungtivitis, leleran serous dari hidung dan mata, kadang-kadang disertai nyeri lambung, muntah juga dapat terjadi serta ditemukan oedema subkutan daerah kepala, leher dan dada.

Koagulasi intravaskuler (dissiminated) umum terjadi dan merupakan suatu yang penting dalam patogenesa penyakit. Gejala respirasi biasanya tidak tampak pada anjing yang menderita ICH.
Pada anjing yang pulih, biasanya makan dengan baik namun pertumbuhan badan berjalan lambat. Tujuh sampai sepuluh hari setelah gejala akut mulai hilang, sekitar 25 % anjing yang pulih akan mengalami kekeruhan (opasitas) kornea dan bisa hilang secara spontan.

Diagnosa
Diagnosa ditetapkan berdasarkan kejadian perdarahan mendadak dan bertambah lamanya waktu beku darah. Diagnosa dipastikan dengan isolasi virus, immonoflourescens atau ditemukan badan-badan inklusi yang khas di dalam sel-sel hati.

Pencegahan dan Pengobatan
Transfusi darah mungkin diperlukan pada anjing yang menderita parah, disamping tambahan dekstrosa 5 % dalam larutan garam isotonik hendaknya diberikan secara intravena. Pada anjiing yang waktu beku drahnya lambat, pemberian cairan subkutan sangat berbahya.

Antibiotik spectrum luas dapat diberikan seperti tetrasiklin selama perkembangan gigi (fetus menjelang kelahiran, baru lahir, tahap awal kelahiran) bisa menyebabkan perubahan warna gigi dan sebaiknya obat ini tidak diberikan pada anjing sebelum gigi tetapnya tumbuh.

Untuk mencegah penyakit ini dapat dilakukan vaksinasi dan pemberian vaksin sering dikombinasi dengan vaksin lainnya. Imunisasi terhadap ICH disarankan dilakukan pada saat melakukan imunisasi terhadap distemper anjing.

2. LEPTOSPIROSIS PADA ANJING

Nama lain: Tifus anjing, Penyakit Stuttgart, Ikterus Menular

Etiologi
Infeksi biasanya disebabkan oleh virus leptospira dari galur (serovar) canicola atau copenhageni yang merupakan kelompok sera ikterohemoragi. Disamping itu galur Pomona, grippotyphosa dan ballum telah diisolasi dari anjing-anjing di Amerika Serikat.

Infeksi karena canicola atau copenhageni diketahui menyerang banyak populasi anjing. Galur copenhageni sering menyababkan leptospirosis tipe hemoragi dan ikterus. Tikus coklat merupakan reservoir utama copenhageni di Amerika, sedangkan anjing menjadi reservoir untuk galur canicola.

Gejala Klinis
Masa inkubasi 5-15 hari dan anjing terserang bisa dari berbagai tingkatan umur. Pada penyakit yang mendadak gejala yang terlihat adalah kelesuan, anoreksia, muntah, demam 39,5-40,5 °C dan disertai konjungtivitis ringan. Dalam beberapa hari berikutnya suhu turun dengan tajam, hewan menjadi depresi, sulit bernafas dan kehausan. Pada kebanyakan anjing, ikterus (kekuningan) dengan berbagai tingkatan menjadi tanda awal dari penyakit.

Anjing yang menderita lebih parah akan memperlihatkan depresi yang dalam dan tremor otot disertai suhu tubuh menurun perlahan sampai mencapai suhu 36 °C, muntah dan berak berdarah (gastroenteritis hemoragi), nefritis akut, mata cekok dan pembuluh darah konjungtiva penuh terisi darah.
Kematian biasanya disebabkan oleh kegagalan ginjal dan umumnya terjadi 5-10 hari setelah kemunculan penyakit. Mortalitas mencapai 10 %. Kasus kronis mengkibatkan nefritis interstitial dengan tingkatan yang berbeda-beda.

Diagnosa
Diagnosa penyakit didasarkan pada gejala klinis dan temuan-temuan nekropsi, histologist dan pemeriksaan serologis.

Pencegahan dan Pengobatan
Untuk mengurangi kemungkinan tertular leptospira pemilik hewan disarankan melakukan pengendalian terhadap rodensia dan selalu mengikat anjingnya, dikandangkan dan melakukan vaksinasi setiap 6-8 bulan untuk memberikan titer protektif kepada anjing-anjing yang beresiko tinggi seperti anjing berburu, anjing pemacek dan anjing untuk pertunjukan. Anjing yang sring kontak dengan satwa liar divaksinasi dengan bakterin yang mengandung antigen grippotyphosa dan Pomona.

Pengobatan dengan antibiotik untuk infeksi akut seperti tetrasiklin, doxycyclin dan streptomisin. Doxycyclin lebih baik digunakan dibandingkan dengan tetrasiklin pada pasien yang menderita nefritis akut. Dehidrasi dan asidosis diterapi engan memberikan larutan laktat 0,17 M diberikan sendiri-sendiri atau bersama dengan larutan dextrose dan vitamin B dosis tinggi.
 

3. CANINE PARVOVIRUS PADA ANJING

Canine parvovirus merupakan penyakit yang penting pada anjing karena menyebabkan kematian yang tinggi pada populasi dan menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup tinggi terutama pada penangkaran dan peternakan anjing komersial.

Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh Canine Parvovirus (CPV), termasuk dalam keluarga Parvoviridae. CPV merupakan virus menular tanpa amplop, memiliki asam nukleat berantai tunggal, polarisasi positif dan berdiameter 20-28 nm.

Patogenesa
Penularan penyakit biasanya melalui dua jalur utama yaitu mulut-anus dan sawar plasenta. Setelah mengalami replikasi di beberapa organ limfoid primer seperti thymus dan tompok Payer, virus selanjutnya menyebar ke berbagai organ tubuh melalui peredaran darah, misalnya tonsil dan usus halus dengan derajat keparahan yang hebat pada organ-organ limfoid.

Pada percobaan laboratorium, viremia dapat dideteksi pada hari ke-1 dan ke-2 pascainfeksi diikuti oleh viremia hari ke-3 sampai ke-5 pascainfeksi. Ekskresi virus umumnya dimulai pada hari ke-3 pascainfeksi disertai dengan kemunculan antibodi pada hari ke-4 dan mencapai konsentrasi maksimum pada hari ke-7 pascainfeksi. Peningkatan antibodi serum memiliki dampak yang sangat besar terhadap pengurangan ekskresi virus dan pemulihan kesehatan individu.

Epidemiologi
Distribusi Geografis
Infeksi CFV pada anjing ditemukan di banyak Negara di dunia, sejak kejadian wabah di Australia dan Amerika Serikat pada pertengahan tahun 1978.

Cara Penularan
Penularan melalui jalur mulut-anus adalah yang paling umum, yang mungkin merupakan hasil dari kontak dengan bahan tercemar seperti kandang, pakaian, tinja dan tanah. Secara percobaan infeksi juga dapat dihasilkan melalui mulut, intubasi, lubang hidung, pembuluh darah dan intra-uterine.

Morbiditas dan Mortalitas
Morbiditas CPV enteritis umumnya tinggi namun mortalitasnya rendah. Pada anjing-anjing muda mortalitasnya 10-12 % atau dapat mencapai 50 %. Pada anjing dewasa 1-2 %.
Pada CPV miokarditis yang pada awal kemunculannya mencapai 50 %, penurunan angka mortalitas dan morbiditas dari CPV miokarditis disebabkan oleh tingginya titer antibodi pada hewan bunting yang mungkin mencegah mereka dari infeksi. Semakin banyak induk yang memiliki titer antibodi tinggi maka semakin sedikit kasus infeksi yang muncul pada anjing-anjing muda.

Gejala Klinis
Gejala klinis yang dapat timbul dari penyakit ini dikenal 2 jenis yaitu enteritis berdarah dan miokarditis nonsupuratif. Kematian mendadak pada anjing berumur di bawah 8 minggu merupakan gejala klinis yang paling sering ditemukan pada kasus miokarditis non supuratif akut. Kegagalan jantung sub akut disertai gangguan pernafasan dan seringkali disertai kematian dalam waktu 24-48 jam dapat terjadi pada anjing berumur diatas 8 minggu. Pada anjing remaja dan dewasa dapat terjadi kegagalan jantung kongestif disertai kerusakan otot jantung.

Berdasarkan derajat keparahannya, CPV enteritis dibedakan atas 3 jenis yaitu sedang, akut dan perakut. Mencret dan muntah disertai bau khas dan perdarahan merupakan gejala yang paling sering ditemukan pada anjing penderita. Gejala lainnya berupa lesu, penurunan nafsu makan, leucopenia, demam dan dehidrasi.
Pada penderita per akut dapat terjadi kematian segera, sementara pada kasus sedang mungkin terjadi kesembuhan dalam beberapa minggu. Infeksi menyeluruh yang gejalanya serupa dengan sindroma ataksik pada kucing namunkejadiannya sangat jarang.

Diagnosa
Penyakit ini didiagnosa berdasarkan gejala klinis, patologis, identifikasi virus dan penentuan antibody spesifik.
Secara laboratorium, identifikasi virus dilaksanakan melalui pemanfaatan berbagai metode yang ada seperti histopatologi, isolasi virus pada biakan sel, uji hemaglutinasi, pewarna imun, elektronmikroskopi, uji ELISA dan biakan molekuler.

Sementara metode serologi yang digunakan untuk mendiagnosa CPV meliputi uji hambatan hemaglutinasi, hemolisis radial, netralisasi, flouresensi, radio imun, fiksasi komplemen dan presipitasi imun serta ELISA.

Pencegahan dan Pemberantasan
Diare dan muntah secara berlebihan berpengaruh sangat buruk bagi hewan penderita CPV enteritis. Anjing seringkali mati karena dehidrasi. Pemberian larutan garam dan gula faali akan sangat membantu penderita untuk melewati masa kritis yang biasanya berlangsung 2-5 hari.

Pemberian vitamin dan gizi yang baik, penempatan pasien pada ruangan yang hangat dan nyaman serta pemberian antibiotic untuk mengatasi infeksi sekunder sangat dianjurkan.
Pencegahan dilakukan melalui desinfeksi alat dan bahan tercemar, perbaikan status gizi dan kesehatan hewan serta pelaksanaan program imunisasi secara teratur. Penggunaan formalin, fenol dan Na-hipoklorit untuk fumigasi atau penyemprotan dapat menekan kasus infeksi baru.

4. DISTEMPER ANJING

Distemper anjing adalah penyakit anjing yang sangat menular pada anjing dan karnivora lainnya. Distemper anjing merupakan penyakit viral yang paling umum pada anjing dan sedikit anjing yang benar-benar terisolasi tidak terpapar atau terinnfeksi oleh virus ini.

Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh Morbilivirus. Virus distemper digolongkan ke dalam keluarga besar Paramyxoviridae dan berkerabat secara antigenik dan biofisik dengan virus campak (measles) manusia dan virus sampar sapi (rinderpest).

Virus ini tersusun atas RNA, bentuk simmetri helical, beramplop, virus ini agak labil dan aktifitasnya dapat dirusak oleh panas, kekeringan, deterjen, pelarut lemak dan desinfektan.

Patogenesa
Virus distemper anjing terutama ditularkan secara aerosol dan droplet infektif yang berasal dari sekresi tubuh hewan penderita sehingga infeksi menyebar sangat cepat diantara anak-anak anjing yang peka. Gambaran umum yang ditimbulkan oleh virus ini adalah suatu keadaan tertekannya kekebalan (imunosupresif).

Tertekannya kekebalan karena terjadinya perbanyakan virus di dalam jaringan limfoid selama masa inkubasi. Gejala-gejala yang khas distemper akut biasanya muncul bila anjing penderita distemper berhasil menekan kekebalan anjing terinfeksi tersebut.

Infeksi ikutan oleh bakteri sebagai akibat telah tertekannya kekebalan anjing kerap mendorong munculnya sejumlah gejala klinis yang menyertai distemper. Disamping itu infeksi bakteri juga akan memperbesar tingkat mortalitas. Selain terjadinya infeksi ikutan oleh bakteri, kejadian toksoplasmosis, koksidiosis, enteritis viral dan infeksi mikoplasma yang bersamaan dengan infeksi distemper akan memperparah akibat penekanan system kekebalan pada anjing penderita.

Gejala Klinis
Masa inkubasi sampai munculnya gejala klinis distemper akut biasanya 14-18 hari. Setelah anjing terpapar dan terinfeksi, akan terjadi demam singkat dan leucopenia yang berlangsung pada hari ke-4 dan ke-7 tanpa munculnya gejala klinis. Suhu tubuh akan kembali normal pada hari ke-7 dan ke-14, setelah itu suhu tubuh akan naik untuk kedua kalinya disertai konjungtivitis, rhinitis, batuk, diare, anoreksia, dehidrasi dan penurunan berat badan.

Leleran okulonasal yang mukopurulen dan pneumonia sering terjadi sebagai akibat infeksi ikutan oleh bakteri. Kuman Bordetella bronchiseptica umum ditemukan pada anjing distemper. Tutul-tutul kemerahan pada kuliit yang kemudian berkembang menjadi pustule bisa ditemukan, khususnya pada abdomen.

Gejala-gejala terjadinya ensefalitis bisa muncul dengan beragam bentuk. Mioklonus atau mengerejatnya otot tanpa dikendali anjing tampak mendadak seperti mengunyah permen karet, ataksia, inkoordinasi, berpusing-pusing, hyperesthesia, kekakuan pada otot, selalu merasa ketakutan dan kebutaan menjadi gejala-gejala syaraf yang paling umum dijumpai pada penderita distemper.

Selain distemper menyebabkan ensefalitis akut dan subakut, distemper juga menimbulkan bentuk ensefalitis kronis dengan gejala meliputi inkoordinasi, kelemahan kaki belakang, matanya tidak tanggap terhadap suatu ancaman benda baik unilateral maupun bilateral, kedudukan kepala miring, nistagmus, paralisis wajah, tremor kepala tanpa disertai mioklonus. Bentuk lain ensefalitis kronis adalah “old dog encephalitis” dengan gejala klinis gangguan penglihatan dan kurang tanggapnya mata terhadap ancaman suatu benda secara bilateral.

Diagnosa
Diagnosa distemper akut dan subakut biasanya berdasarkan riwayat penyakit dan gejala klinis. Pemeriksaan oftalmoskopik bisa melacak terjadinya chorioretinitis dengan daerah degenerasi berwarna abu-abu sampai merah muda pada tapetum atau fundus nontapetum dalam suatu kejadian penyakit yang akut.
Suatu diagnosa pasti yang dibuat dengan melacak keberadaan virus distemper pada sel-sel epitel dengan pemeriksaan zat kebal berpendar (fluorescent antibody) atau dengan mengisolasi virus.

Pencegahan dan Pengobatan
Obat-obat antivirus atau bahan-bahan kemoterapetika yang bisa dimanfaatkan untuk pengobatan yang spesifik untuk anjing distemper hingga kini belum tersedia. Antibiotic spectrum luas bisa diberikan untuk mengendalikan infeksi bakteri ikutan, disamping pemberian cairan elektrolit, vitamin B dan suplementasi nutrisi untuk suatu terapi suportif.

Selain itu pemberian vitamin C dan dietil ether bermanfaat dalam pengobatan distemper. Pemberian Dexamethasone dilaporkan memberikan sejumlah manfaat dalam mengobati anjing pasca distemper yang disertai gejala-gejala syaraf pemberian vaksin distemper MLV (modified live virus) secara intravena memberikan hasil yang baik.

Untuk pencegahan dilakukan vaksinasi dengan vaksin MLV. Dosis tunggal vaksin distemper MLV memberikan kekebalan anjing-anjing yang tidak memiliki zat kebal terhadap distemper dan peka terhadap penyakit ini.
Dengan vaksinasi sekitar 50 % anak anjing bisa dikebalkan terhadap distemper saat berumur 6 minggu, sekitar 75 % saat berumur 9 minggu dan lebih dari 95 % di atas usia 13 minggu. Vaksinasi diberikan pada anjing saat berumur 5-7 minggu diikuti pemberian vaksin dengan selang pemberian 3-4 minggu hingga berumur 14 minggu dan vaksin ulangan setiap tahun. Jadwal seperti demikian akan memberikan kekebalan anjing terhadap distemper dan titer kebal akan bertahan lama setelah terjadinya tanggapan terhadap vaksinasi ulangan (booster).

5. RABIES

Penyakit Rabies adalah penyakit menular dan bersifat zoonosis, dapat menulari manusia melalui gigitan hewan perantara yang terinfeksi rabies (HPR). Hewan penderita rabies menyerang apa saja yang ada di dekatnya, termasuk manusia yang dianggap mengganggu. Rabies ini menyerang susunan syaraf pusat yang ditandai dengan gejala syaraf, photopobia, agresif, hydrophobia dan biasanya diakhiri kematian. Semua hewan berdarah panas termasuk manusia sangat peka terhadap virus ini.
Etiologi
Penyebab rabies adalah virus yaitu genus Rhabdovirus.

Cara Penularan
Rabies menyebar melalui kontak langsung terutama gigitan, air liur yang mengandung virus masuk melalui luka gigitan. Selanjutnya virus tersebut masuk ke dalam tubuh menuju otak, dan kemudian dari otak ke kelenjar ludah melalui syaraf sentrifugal serta ke pankreas.

Gejala Klinis
Gejala penyakit rabies dapat dikelompokkan menjadi 3 stadium penyakit:
a. Stadium I (taraf prodromal atau melankolik)
Pada stadium ini anjing terlihat berubah sifat dari biasanya. Anjing yang biasanya lincah tiba-tiba menjadi pendiam, pada yang tenang menjadi gelisah, menjadi penakut, bersifat dingin tetapi agresif. Kadang-kadang terlihat lemas, malas, nafsu makan berkurang, temperatur tubuh agak naik, senang bersembunyi ditempat gelap dan teduh. Tidak menurut perintah atau panggilan pemiliknya. Terlihat geram (gigi mengkerut-kerut seperti mau menggigit sesuatu, kadang lari kian kemari bila terkejut berusaha menggigit.

b. Stadium II (taraf eksitasi)
Pada stadium ini anjing menjadi lebih agresif, dan gejala klinis dapat berubah dalam setengah hari sampai tiga hari, gejala iritasi berubah menjadi kegeraman. Takut sinar dan air, senang bersembunyi di bawah kolong, senang memakan benda-benda asing (misalnya: besi, kayu, batu, jerami, dll). Bila dirantai akan berusaha berontak menggigit rantai agar bisa lepas, menggonggong dan suaranya berubah lebih parau, kadang-kadang suaranya seperti lolongan serigala, karena terjadi kelumpuhan ototnya, kesulitan menelan.

Bila anjing itu lepas dia akan melarikan diri dan berjalan terus sepanjang hari dan bila diganggu akan menyerang apa saja, berakhir dengan kelelahan dan sempoyongan. Kejang-kejang, telinga lebih kaku, ekor menjadi lebih kaku dan menjulur ke bawah selangkang.

c. Stadium III (taraf paralisis)
Stadium ini ditandai dengan kelumpuhan yang berlanjut pada otot bagian kepala sehingga terlihat mulut saling menutup, lidah terjulur terus sehingga air liurnya selalu menetes, menggantung dan berbusa, mata menjadi agak juling atau melotot, kelumpuhan melanjut pada otot-otot tubuh sehingga terlihat sempoyongan, kejang-kejang, koma dan antara 2-4 hari kemudian mati karena kelumpuhan pada otot pernafasannya.

Bila anjing dicurigai menderita rabies, maka anjing demikian jangan dipegang. Dalam banyak hal gejala klinis tidak lengkap, dalam 20% kejadian stadium eksitasi atau tidak terlihat/sangat pendek dan stadium paralisis mulai terlihat tanpa gejala-gejala yang mendahuluinya. Di negara dimana rabies sudah lama dikenal maka tiap-tiap gigitan anjing harus dicurigai dan orang yang digigit harus dirawat menurut petunjuk WHO.

Pencegahan dan Pemberantasan

Pencegahan
- Melakukan program vaksinasi rabies secara teratur setahun sekali ke Dinas Peternakan atau dokter hewan terdekat.
- Pemeliharaan anjing sebaik mungkin, pengamatan sifat kebiasaan sehari-hari, bila terlihat perubahan-perubahan secara mendadak dalam sifat-sifatnya segera diperiksakan ke dokter hewan praktek terdekat.
- Sebaiknya anjing tidak selalu dibiarkan berkeliaran di luar rumah tanpa dapat dikendalikan.
- Anjing yang dicurigai atau agak berubah perangainya sebaiknya diisolir dan jangan dicampur dengan anjing lain.
- Karena ganas dan berbahayanya rabies, maka pencegahan dan pemberantasannya harus dilakukan secara intensif dan sedini mungkin.

Pemberantasan
Pemberantasan rabies di Indonesia hendaknya berdasarkan:
1. Menyadarkan masyarakat tentang arti rabies dan mengikutsertakan umum dalam kampanye pemberantasan rabies.
2. Eliminasi anjing liar sebagai vektor utama yang menyebarkan virus rabies.
3. Vaksinasi.

Perawatan manusia yang digigit oleh anjing atau yang dicurigai menderita rabies:
Kemungkinan tertular rabies sesudah digigit anjing tergantung pada beberapa faktor:
1. Adanya virus dalam air liur. Hal ini ditemukan sebanyak 30-40% pada anjing gila.
2. Sifat luka. Luka datar dan mengeluarkan banyak darah lebih baik daripada luka gigitan dalam. Luka disebabkan oleh cengkeraman kucing dianggap sangat berb ahaya karena sifat kerusakan jaringan dan oleh karena kuku kucing biasanya ditulari virus dengan saliva. Umumnya manusia sering ditulari oleh anjing dan jarang oleh kera atau kucing.
3. Tempat luka. Luka-luka pada muka lebih berbahaya daripada luka tangan dan kaki. Yang penting dalam hal ini ialah jarak antara luka dan sistem saraf pusat disamping inervasi setempat. Bila orang digigit anjing atau yang dicurigai gila maka yang penting pada terapi adalah perawatan luka.

Langkah-langkah pertama yang perlu dilakukan apabila orang digigit anjing:
1. Luka akibat gigitan dibiarkan mengeluarkan darah yang banyak, kemudian luka dibersihkan dengan air sabun atau detergen, lalu bilas dengan air bersih dan selanjutnya luka didesinfeksi dengan basa amonium kuartener 0,1%, bisa juga dengan alkohol 70% atau tintur yodium. Virus dalam luka dapat dinetralisir dengan suntikan infiltrasi jaringan di sekitar luka dengan serum imun atau menghamburkan bedak desinfektan dalam luka.
2. Segera mungkin berobat ke dokter atau Puskesmas terdekat untuk mendapatkan pengobatan selanjutnya.
3. Laporkan segera pada petugas Dinas Peternakan atau yang berwenang melaksanakan fungsi kesehatan hewan setempat tentang anjing yang menggigit (alamat dan pemiliknya).

6. Infeksi Herpesvirus Pada Anjing

Penyakit ini menyebabkan kematian yang tinggi pada anak anjing yang baru lahir dan dikenal juga dengan nama Neonatal canine herpesvirus infection dan Fading puppy syndrome. Pada anjing dewasa virus menyebabkan infeksi laten. Agen penyebab untuk pertama kali diisolasi di USA dalam tahun 1965 dari anak anjing baru lahir dan mati. Sesudah itu virus ditemukan di banyak negara Eropa.

Etiologi
Hingga sekarang hanya dikenal satu virus herpes pada anjing yang dinamakan canine herpesvirus (CHV) yang termasuk herpesvirus golongan A. CHV bereplikasi dalam biakan sel anjing, menimbulkan CPE dan membentuk badan inklusi intranuklear.

Gejala Klinis
Pada anak anjing baru lahir infeksi berlangsung dengan generalisasi dan umumnya berakhir dengan kematian. Pada anak anjing yang lebih tua dan dewasa infeksi umumnya berlokalisasi pada jalan pernafasan bagian depan dan pada alat kelamin.

Infeksi pada anak anjing baru lahir terlihat sebagai diare dengan feses berwarna kuning-hijau, dan terjadi 7-10 hari sesudah lahir. Anjing juga nampak lesu, muntah-muntah, tidak mau menyusu dan meraung-raung. Perut sering nyeri bila dipalpasi dan anak anjing mati dengan tanda-tanda sesak nafas. Sekali-kali timbul, sekonyong-konyong kematian tanpa didahului gejala-gejala yang dilukiskan. Umumnya dalam 14 hari semua anak anjing yang seumur mati. Anak anjing yang lebih tua infeksi bermanifestasi sebagai gangguan jalan respirasi bagian muka, yakni batuk-batuk dan leleran hidung.

Pada anjing betina virus menimbulkan jejas-jejas vesikuler pada traktus kelamin yang dapat menyebabkan abortus sebelum waktunya. Juga infeksi berulang pada selaput lendir vulvva dan vagina dapat ditimbulkannya.

Diagnosa dan Diagnosa Banding
Diagnosa dibuat berdasarkan anamnesa dan gambaran seksi. Septikemi bakteril dan hepatitis contagiosa canis dapat menyebabkan kematian dini pada anak anjing muda.

Pemberantasan
Sampai sekarang pemberantasan untuk penyakit ini belum ada.

7. Papilomatosis (Penyakit Kutil, Warts, Infectious Verrucae)

Papilomatosis adalah penyakit viral yang menular pada hewan muda dan disertai pertumbuhan liar pada kulit atau selaput lendir. Penyakit ini banyak ditemukan pada banyak jenis hewan.

Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh virus yang tergolong dalam papilomavirus. Virus tersebut mempunyai sifat resisten.

Gejala Klinis
Penyakit kutil pada anjing hendaknya dianggap lebih serius daripada papilomatosis jenis hewan lain, karena pertumbuhan-pertumbuhan ini terutama berkembang di dalam mulut. Sesungguhnya tumor sendiri bersifat tenang tetapi lokasinya sangat mengganggu. Masa inkubasi 1-2 bulan. Penyakit ini sangat menular dan terutama menyerang anjing muda. Dalam suatu kennel biasanya semua anjing dapat tertular.

Kutil-kutil mulai tumbuh di bagian luar bibir sebagai benjolan-benjolan kecil, pucat dan kasar. Sesudah itu secara cepat terbentuk kutil-kutil pada selaput lendir, bibir, pipi, langit-langit, lidah bahkan pada selaput lendir faring.

Pertumbuhan-pertumbuhan itu menyerupai sebongkah kol kembang. Dalam kasus-kasus yang peka mengunyah dan menelan dipersulit. Biasanya mulut anjing berbau karena sebagian makanan tertimbun diantara tumor-tumor. Dalam kebanyakan hal penyembuhan spontan berlangsung dalam beberapa bulan.

Patogenesis dan Imunologi
Infeksi biasanya terjadi karena infeksi virus dari luar memasuki kulit. Pada tempat masuk itu terjadi fibro-papiloma. Kemudian penyebaran berlangsung melalui aliran darah dan pada lokalisasi di sekitar vena jugularis. Papiloma umumnya terdiri dari jaringan mesenkim dan epidermis, pada sel basal dan fibroblas hanya sedikit virus ditemukan.

Bila kutil-kutil telah menghilang secara spontan maka terjadilah imunitas yang mencegah reinfeksi. Kekebalan ini berdasarkan imunitas selular.

Diagnosa
Diagnosa didasarkan pada pemeriksaan klinis dan histologis. Kutil-kutil pada puting susu dapat disamakan dengan lesi cacar. Bila perlu digunakan tes presipitasi dan mikroskop elektron.

Pemberantasan
Papilomatosis dapat diberantas dengan melakukan vaksinasi, dan yang sering digunakan adalah suspensi formalin yang dibuat dari kutil-kutil. Vaksinasi pencegahan menimbulkan kekebalan selama 6 bulan. Hasil yang dicapai oleh vaksinasi preventif dan kuratif sulit dievaluasi karena kemungkinan penyembuhan secara spontan.

8. DEMODEKOSIS PADA ANJING

Penyakit kulit Demodekosis merupakan penyakit kulit pada anjing yang paling sulit diberantas atau disembuhkan secara total. Hal ini disebabkan karena parasit ini lebih senang hidup pada pangkal ekor (folikel) rambut anjing dan tidak pada permukaan kulit seperti penyakit kulit lainnya. Parasit demodekosis semua stadium, dari telur, larva, nympha, tungau (parasit dewasa) menghuni folikel rambut dan kelenjar lemak penderita, sehingga penyembuhannya makin sulit dan tidak bisa tuntas. Pengobatannya harus kontinyu dan tekun agar benar-benar sembuh dan tidak kambuh kembali.

Demodekosis merupakan penyakit peradangan kulit yang disertai keadaan imunodefisiensi dan dicirikan dengan demodeks yang berlebihan dalam kulit.

Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh tungau Demodex canis. Merupakan bagian dari fauna normal kulit anjing dan jumlahnya sangat sedikit pada anjing sehat.

Siklus hidup tungau seluruhnya berlangsung pada kulit dan berada dalam folikel rambut namun kadang-kadng kelenjar sebaseus dan kelenjar keringat apokrin. Untuk mempertahankan hidupnya tungau memakan sel-sel (dengan mmenggerogoti bagian epitel dan merusak ke dalam kelenjar asini).

Ada 2 tipe demodekosis yang dikenal yaitu demodekosis local dan demodekosis general.
Demodekosis Lokal, atau demodekosis skuamosa berupa aplopesia melingkar pada satu atau beberapa tempat berukuran kecil, eritema, daerah tersebut bersisik dan mungkin saja tidak nyeri atau nyeri, kebanyakan ditemukan pada wajah dan kaki depan. Sifat penyakit ini kurang ganas dan kebanyakan kasus ini bisa pulih secara spontan.

Demodekosis General, biasanya berawal dari lesion local dan bila lesion tidak mengalami pengurangan secara spontan atau mendapat perawatan memadai akan menjadi lesio yang meluas.

Cara Penularan
D. canis merupakan penghuni normal kulit. Penularan terjadi karena kontak langsung dari induk ke anak-anaknya yang sedang menyusui selama dua sampai tiga hari masa-masa awal kehidupannya. Tungau bahkan sudah bisa ditemukan pada folikel rambut anak anjing yang baru berumur 16 jam.

Tungau pertama kali ditemukan pada pipi (muzzle) anjing, hal ini menunjukkan betapa pentingnya kontak langsung saat menyusui agar tungau bisa ditularkan.
Anak anjing yang dilahirkan dengan bedah Caesar dan dibesarkan jauh dari induknya tidak memiliki tungau pada kulitnya, hal ini menunjukkan bahwa penularan tidak terjadi di dalam uterus. Begitu juga tidak ditemukan pada kulit anak anjing yang baru dilahirkan.

Gejala Klinis
Demodekosis Lokal. Sebidang kecil kulit mengalami eritema local dan alopesia sebagian. Bisa saja terjadi pruritis atau bahkan tidak gatal, dan daerah tersebut mungkin saja ditutupi oleh sisik-sisik kulit yang berwarna keperakan.
Tempat kerusakan kulit yang paling sering adalah pada wajah khususnya di daerah sekeliling mata (periokuler) dan pada sudut mulut (komisura). Kerusakan berikutnya pada kaki depan. Kebanyakan anjing yang berumur 3 sampai 6 bulan dapat sembuh sendirinya tanpa pengobatan, namun sejumlah kasus bisa berkembang menjadi bentuk general.

Demodekosis General. Biasanya sifat penyakit sangat parah dan dapat berakhir dengan kematian. Penyakit diawali sebagai demodekosis local, kemudian berkembang dan bertambah parah. Sejumlah lesion muncul pada kepala, kaki, badan. Setiap makula yang terjadi akan meluas dan membuat kerontokan-kerontokan kulit meluas.
Tungau yang berkembang di dalam akar rambut akan menyebabkan terjadi folikulitis. Apabila pyoderma sekunder memperparah keadaan lesion ini, oedema dan keropeng akan menggantikan kerontokan rambut sebelumnya menjadi plaques. Bila folikulitis terjadi dan menghasilkan eksudat akan terbentuk keeropeng yang tebal.

Diagnosa
Penyakit ini dapat didiagnosa dengan pemeriksaan kerokan kulit yang kemudian dilihat di bawah mikroskop. Pemeriksaan histopatologi melalui biopsi kulit. Melalui biopsy kulit dapat diketahui tingkatan perifolikulitis, folikulitis dan furunkulitis. Folikel rambut yang menderita akan dipenuhi oleh tungau demodeks.

Diagnosa Banding
Adanya tungau tidak sulit diungkap dengan pengerokan kulit, karenanya demodekosis jarang dikelirukan dengan penyakit lain.
Pyoderma biasanya mirip demodekosis, dan setiap folikulitis hendaknya selalu dicurigai akan adanya demodekosis. Infeksi dermatofita biasanya menyerupai kerontokan rambut demodekosis lokal.demodekosis dapat dikelirukan dengan abrasi dan jerawat (acne) pada wajah anjing muda.
Dermatitis seborrheik local sangat mirip dengan demodekosis local, demikian juga pemfigus kompleks dan epidermolisis belosa simppleks yang merupakan lesion pada wajah bisa dikelirukan dengan demodekosis.

Pengobatan
Demodekosis local dapat diobati dengan pengobatan topikal dengan salep rotenone ringan (good winol ointment) atau lotion lindane dan benzyl benzoale yang diusapkan pada daerah-daerah yang mengalami kebotakan.
Pada demodekosis yang sudah bersifat general tidak mudah untuk diobati, dan memerlukan waktu sehingga penyakit ini bisa dikendalikan namun tidak selalu dapat disembuhkan. Pengobatan yang dapat diberikan yaitu amitraz (mitaban) yang diaplikasikan dengan memandikan anjing dan dilap dengan larutan amitraz. Terapi lainnya apabila amitraz tidak berhasil yaitu menggunakan senyawa organofosfat ronnel, larutann Trichlorfon (negovon) 3 % dengan memandikan anjing.

Apabila pustula terjadi bersamaan dengan demodekosis general perhatian hendaknya diberikan terhadap adanya infeksi ikutan bakteri, dan yang paling sering menginfeksi adalah Staphylococcus aureus. Obat yang paling efektiif adalah cephalosporin, eritromisin, lincomisin dan chloramfenikol.

9. CACING JANTUNG (Dirofilaria immitis) Pada Anjing

Dirofilaria immitis khususnya pada anjing telah banyak diketahui dan dilaporkan, baik yang menyangkut epidemiologi, sifat penyakit, siklus hidup dan penularan, sifat antigen, interaksi parasit dan inang, teknik diagnostic dan terapi pengobatannya.

Siklus Hidup D. immitis
Nematoda Filaria, Dirofilaria immitis dikenal juga sebagai Filaria sanguinis atau Dirofilaria lousianensis, merupakan suatu cacing dari genus Dirofilaria penyebab Canine Heartworm Disease (CHD) pada anjing dan Human Pulmonary Dirofilariasis (HPD) atau Tropical Pulmonary Iosinophilia pada manusis.

Cacing dewasa ini umumnya terdapat pada anjing hampir di seluruh dunia, khususnya di daerah subtropis dan tropis. Infeksi alami pada anjing sehat diawali oleh gigitan nyamuk Anopheles dan Culex yang membawa larva microfilaria infektif stadium 3 (L3). Larva tersebut kemudian berkembang di dalam jaringan subkutan dan fasia intramuskuler penderita selama kurang lebih 2 bulan kemudian menjadi bentuk “immature” dan mulai migrasi ke ventrikel kanan jantung dan arteri pulmonalis. Pematangan atau maturitas cacing terjadi setelah 6-8 bulan pascainfeksi. Cacing betina menjadi cacing dewasa dan menghasilkan microfilaria yang dapat ditemukan dalam darah.

Kesempurnaan siklus hidup D. immitis terjadi ketika nyamuk lainnya menghisap microfilaria baru bersamaan dengan mengambil atau menghisap darah dari anjing penderita.

Patogenesa
Pada kasus CHD dijumpai perubahan patologis yang cukup luas khususnya pada paru-paru dan arteri pulmonalis. Perubahan ini disebabkan oleh reaksi inang terhadap antigen D. immitis dan terhadap kejadian sekunder seperti trombosis. Tanda-tanda imflamasi menggambarkan keseluruhan respons inang terhadap lesi. Gejala utama peningkatan aliran darah ke tempat infeksi.
Pembengkakan dan kesakitan sebagai hasil aktivitas biologis berbagai system imflamasi yaitu system kaskade komplemen, jalur koagulasi bergantung faktor Hageman, aktivitas kinin, mediator kimia dari sel-sel mast dan basofil, produk metabolism asam arakhidonat serta kelebihan lemak. Aktivitas dan sekresi mediator-mediator ini menyebabkan perubahan permeabilitas pembuluh darah dan direkrutnya sel-sel sekreton yang berasal dari local dan sirkulasi untuk turut berpartisipasi dalam proses imflamasi.

Gejala Klinis
Banyak anjing dan karnivora yang terinfeksi D. immitis sering tidak memperlihatkan gejala klinik (subklinik), kecuali ditemukan adanya microfilaria dalam darah. Pada tahap awal (infeksi ringan) timbul gejala pernafasan lambat dan kelesuan.
Pada kasus berat muncul tanda-tanda gangguan sirkulasi akibat gangguan mekanik dan endarteritis progresif. Ednokarditis, thromboemboli dan demam dilaporkan terjadi pada kasus berat. Pada kasus dimana terdapat cacing dewasa dalam jumlah cukup banyak, penderita akan menunjukkan gangguan fungsi katup jantung terutama bila cacing berada di dalam atrium kanan, ventrikel kanan dan arteri pulmonalis ketiga bagian atas. Jantung kanan menderita dilatasi dan hipertrofi. Keadaan ini menyebabkan pembendungan vena disertai sirosis hati dan asites.

Kematian sering terjadi karena terjadinya emboli dan tromboemboli karena terdamparnya D. immitis dewasa yang mati pada daerah percabangan arteri pulmonalis. Cacing dewasa yang mati menginduksi perubahan arteri pulmonalis dalam waktu 3-6 minggu. Trombi, proliferasi villi yang ekstensif dan akibat respons terhadap inflamsi granulomatosa akan menghambat aliran darah ke lobus kaudalis paru-paru. Sindroma ini ditandai dengan adanya onset demam, dispnoea, takikardia, hipotensi, lemah, batuk atau hemoptisis.
Angka anemia pada anjing terinfeksi lebih tinggi (37%) dibandingkan anjing yang tidak terinfeksi (14 %) dan lebih banyak pada hewan dengan sindroma vena cava (91 %) dibandingkan dengan hewan “occult dirofilariasis “ (62,5 %) sedangkan onset anemia hemolitik dan hemoglobinuria adalah cirri dari sindroma vena cava.

Diagnosa
Secara klinis, gambaran infeksi D. immitis sangat bervariasi tergantung dari jumlah microfilaria yang bersikulasi dan jumlah cacing dewasa yang terdampar di dalam organ tubuh. Berdasarkan anamnesa dijumpai penurunan berat badan, lemah fisik, batuk spontan, akumulasi cairan subkutan, temperature badan yang tinggi dengan membran mukosa yang sianosis.

Pada gambaran rontgen tampak adanya hipertrofi dan dilatasi jantung kanan, batuk spontan, peningkatan vaskularisasi daerah thoraks, pembendungan vena dengan asites. Microfilaria hanya mungkin ditemukan jika dilakukan pemeriksaan preparat ulas darah segar atau dengan pewarnaan khusus asam fosfatase yang diambil malam hari.
Untuk identifikasi microfilaria D. immitis dengan menggunakan Modified Knott’s Test (MKT). untuk serodiagnosa, suatu teknik immunoassay terhadap infeksi D. immitis yaitu DIRO-CHECH ® dan ELISA-Ag-Test yang telah diproduksi secara komersial. Kit ini untuk mendeteksi ada tidaknya infeksi ringan atau infeksi “occult”.

Diagnosa Banding
D. immitis harus dibedakan dari cacing subkutan Dipetaloma reconditum yang memiliki panjang 260-280 mikron dan lebar 6-7 mikron, bentuk ujung kepala dan ekor yang tumpul dengan ekor “botton hooked”, bergerak maju ke depan. Selain itun dilaporkan juga sebagai diagnosa bandingnya adalah D. repens dan D. dracunculoides.

Pencegahan dan pengobatan
Pada umumnya tinggi rendahnya tingkat kesuksesan terapi pada kasus D. immitis pada anjing tergantung kepada tingkat keparahan. Kerusakan jaringan dimana D. immitis dewasa, hidup atau mati. Untuk pengobatan Thiacertasamida (preparat arsena) dengan dosis 0,2 ml/kg bb atau 2 mg/ kg bb terbagi atas 2 dosis diberikan secara intravena selama 2-3 hari. Enam minggu setelah terapi dengan preparat arsena dilanjutkan dengan eliminasi microfilaria menggunakan Levamizol HCl 10 mg/kg bb/hari selama 15 hari yang diberikan peroral. Dapat juga menggunakan ivermectin dosis maksimum 6 mg/kg bb dengan interval ulangan 30 hari.

Tindakan pencegahan dengan melakukan pengendalian vector nyamuk Anopheles dan Culex. Di Negara-negara 4 musim Diethylcarbamacin (DEC) dengan dosis 5 mg/kg bb/ hari diberikan kepada anjing-anjing anakan memasuki musim panas, dimana keterpaparan nyamuk cukup tinggi dan pengobatan dihentikan memasuki musim dingin.

Untuk kondisi Indonesia, tindakan pencegahan dianjurkan untuk dilakukan sepanjang tahun, namun jarang dilakukan karena laporan kasus klinik yang sangat jarang.

10. COCCIDIOSIS
Penyakit Coccidiosis atau berak darah merupakan penyakit radang usus halus dan sering menyerang anak anjing. Anak anjing yang terserang adalah anak anjing umur 1 sampai 8 bulan, sedangkan anjing yang lebih tua atau dewasa lebih tahan terhadap penyakit ini. Gejala menciri dari penyakit ini adalah menurunnya nafsu makan, kotoran encer berlendir sampai berdarah.

Penyakit berak darah biasanya bersifat kronis, timbulnya penyakit dan berat tidaknya gejala yang ditimbulkannya tergantung banyak sedikitnya oocyt isospora yang tertelan. Anak anjing peka terhadap penyakit ini, pada anjing dewasa tidak menimbulkan gejala klinis yang jelas, tetapi akan menjadi sumber penularan penyakit permanen (carier).

Etiologi
Penyebab penyakit ini adalah parasit dari golongan Isospora, yaitu Isospora canis dan Isospora bigemina. Parasit ini hidup dan berkembang biak pada usus halus.

Cara Penularan
Penularan penyakit coccidiosis melalui tertelannya oocyt infektif yang mencemari makanan, minuman, kandang, alat lainnya yang tidak sengaja terjilat anak anjing. Oocyt akan masuk dalam perut dan akan menetap pada usus halus dan menyerang selaput lendir usus halus. Pada selaput usus oocyt akan tumbuh menjadi dewasa dan berkembang biak, kemudian akan menghasilkan oocyt kembali. Oocyt dari usus akan keluar bersama kotoran anjing. Di luar tubuh anjing oocyt akan berkembang menjadi oocyt infektif (mengalami sporulasi) tergantung dari cocok tidaknya kondisi lingkungan, temperatur dan kelembaban.

Gejala Klinis
Gejala menciri pada anak anjing adalah berak lunak sampai encer berlendir, berdarah dari berwarna kecoklatan sampai kemerahan, nafsu makan berkurang, anjing depresi, lemah, lesu, pucat, anemia, dehidrasi dan bila diikuti infeksi sekunder akan terjadi demam. Gejala ini sering terlihat pada anak anjing dan anjing remaja.

Pada anjing dewasa tidak menimbulkan gejala klinis yang jelas, tetapi bila diperiksa kotorannya, akan terlihat positif adanya oocyt isospora.

Pencegahan dan pengobatan
Tindakan pencegahan terhadap penyakit ini adalah menjaga kebersihan kandang, kandang harus tetap bersih dan kering, kotoran anjing segera dibersihkan. Penempatan tempat makan dan minum anjing harus diletakkan pada tempat yang tidak mudah tercemar kotoran anjing.

Selain itu pemberian makanan yang bergizi dengan kadar protein tinggi, serta pemberian mineral dan vitamin akan membentuk daya tahan tubuh yang tinggi terhadap serangan penyakit. Pemberian obat cacing harus diberikan dan jangan sampai terlambat.

Pengobatan
Bila anjing mencret encer dan berdarah segera diberikan pengobatan, bisa dengan pemberian preparat sulfa dan obat-obat antidiare lainnya. Bila kondisi anjing lemah sekali sebaiknya dibawa ke dokter hewan terdekat untuk diadakan pemeriksaan yang teliti dan segera diobati seperlunya (injeksi untuk tambah darah, menghentikan perdarahan dan pemberian preparat sulfa).

11. Ancylostomiasis (Penyakit Cacing Tambang)

Penyakit ini merupakan penyakit cacingan yang paling banyak menyerang anjing dewasa dan banyak menimbulkan kerugian.
Hamper semua anjing dewasa mengidap penyakit ini dengan jumlah bervariasi, dan derajat gangguan penyakitnya bervariasi juga.
Penyakit cacing tambang biasanya bersifat kronis dan kematian anjing umumnya disebabkan oleh adanya infeksi sekunder baik oleh bakteri maupun virus. Gejala yang menciri dari penyakit ini adalah nafsu makan turun, lesu, pucat, anemia, bulu kusam, mata berair, bila diikuti infeksi sekunder terlihat mencret berlendir dan berdarah dan radang paru-paru.

Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh golongan cacing Ancylostoma sp, biasa disebut cacing tambang atau gelang.

Cara Penularan
Cacing tambang selalu menyerang pada usus halus, menghisap darah dan meninggalkan jejas, menimbulkan radang pada usus halus dan pendarahan sehingga mengakibatkan mencret berdarah.
Bila telur cacing tambang menetas, larva cacing yang infektif ini dapat menembus kulit, mengikuti aliran darah sampai ke hati dan paru-paru. Bila anjing batuk cacing itu akan tertelan masuk ke perut kemudian berdiam di usus halus, dan selanjutnya di usus cacing menjadi dewasa.

Larva cacing juga dapat masuk ke dalam kelenjar air susu induk sehingga waktu induk anjing menyusui akan menularkan pada anaknya yang menyusu. Larva cacing dapat pula menular melalui makanan yang tertelan anjing lewat pencemaran pada alas kandang, tempat makanan dan minuman.

Gejala Klinis
Gejala klinis dari anjing yang menderita ancylostomiasis, yaitu anjing tampak lesu diikuti dengan nafsu makan yang berkurang. Mata tampak pucat dan selalu berair, anemia, kurus seperti kekurangan gizi. Yang paling menonjol adalah perut agak membesar dan lama kelamaan feses encer (mencret) berlendir sampai berdarah.
Pada anjing yang diikuti dengan infeksi sekunder yang menyerang saluran pencernaan maka terjadi radang usus, dicirikan dengan mencret berwarna coklat sampai merah dan berbau amis. Anjing menjadi sangat kurus dan dehidrasi dan kadang-kadang diikuti dengan muntah-muntah.

Bila larva berdiam dalam saluran pernafasan maka dapat mengakibatkan radang saluran pernafasan, hidung kering dan leleran encer sampai kental berwarna hijau kekuningan, nafas sesak, mata merah, batuk-batuk, anjing menjadi lemah, terbaring dan koma serta akhirnya terjadi kematian.

Pencegahan dan Pengobatan
Untuk menghindari cacing tambang atau infeksi Ancylostoma sp maka program pemberian obat cacing harus diberikan secara teratur terutama pada anjing yang dipelihara lebih dari satu. Hal yang selalu diperhatikan juga adalah kebersihan kandang dan tempat makanan dan minuman anjing.

Pengobatan terhadap penyakit ini dilakukan apabila anjing penderita diikuti dengan infeksi sekunder sebaiknya di periksakan ke dokter hewan terdekat untuk mendapatkan terapi dan rehabilitasi.

12. Ascariasis (Penyakit Cacing Ascaris)

Ascariasis atau penyakit cacing bulat banyak menyerang anak anjing terutama yang berumur 1 sampai 5 bulan. Hamper semua anak anjing terserang cacing Ascaris. Akibat serangan cacing ini tergantung besar kecilnya jumlah cacing yang menyerang dan menimbulkan gejala nyata. Pada anjing dewasa agak lebih tahan terhadap penyakit cacingan.
Pada anak anjing yang menderita batuk-batuk, telah diobati tetapi tidak sembuh-sembuh maka perlu dicurigai terserang cacingan karena terdapat larva pada paru-parunya. Hamper 80% pemeriksaan kotoran anak anjing mengandung telur cacing Ascaris.

Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh cacing yang termasuk dalam golongan Toxocara.

Cara Penularan
Penularan biasanya melalui telur cacing yang tanpa sengaja tertelan karena telur cacing mencemari tempat makanan dan minuman, kandang dan lain-lain. Penularan juga dapat melalui induk semasa dalam masa kebuntingan, dan pada waktu anak lahir sudah tertular cacingan.

Proses penularan pertama kali melalui telur tertelan, kemudian telur menetas dalam perut. Cacing ini berusaha menembus dinding usus lalu masuk ke dalam saluran darah dan mengikuti aliran darah sampai di hati. Di hati cacing ini berusaha menembus hati dan berusaha mencapai paru-paru, melalui aliran darah paru-paru memecah pembuluh darah kapiler kemudian masuk sampai ke kantung udara paru-paru. Cacing ini terus melanjutkan perjalanannya ke saluran pernafasan atas mencapai kerongkongan dan akhirnya tertelan kembali masuk ke perut dan menjadi dewasa di dalam usus.

Dalam usus cacing ini berkembang biak dan juga menimbulkan gangguan pada usus. Parah tidaknya gangguan penyakit tersebut tergantung dari banyak tidaknya cacing yang terdapat dalam usus tersebut. Makin banyak cacing dalam perut makin parah gangguannya.

Gejala Klinis
Pada anak anjing mula-mula terlihat gejala perut membesar meskipun tidak banyak makan, anjing terlihat kurang enak pada bagian perutnya, merengek-rengek, dan pada waktu berdiri posisi kaki belakang agak melebar untuk menahan rasa sakit pada bagian perutnya. Anjing tampak anemia, lemah, gelisah, anak anjing tidak mau menyusui induknya, bulu kusam, mata berair, nafas terengah-engah, sesak nafas, kadang-kadang diikuti dengan mencret dan muntah-muntah. Kematian anak anjing biasanya dipercepat dengan adanya infeksi sekunder sehingga terjadi radang paru-paru (pneumonia).

Pada anjing dewasa hanya terjadi gejala ringan yaitu pertumbuhan terhambat, bulu kusam dan berdiri, mata berair, lesu, nafsu makan turun, bila makan hanya memilih dagingnya saja, bahkan pada yang berat makanan hanya dijilat kemudian ditinggal pergi.
Apabila anak-anak anjing yang masih menyusu satu per satu mati tanpa menunjukkan gejala klinis, kecuali perut agak besar dan lemas harus curiga kematiannya disebabkan oleh cacing Ascaris ini.

Pencegahan
Sanitasi kandang harus ketat terutama pada anak anjing. Kotoran anak anjing harus segera dibuang, jangan dibiarkan tertinggal di dalam kandang. Kandang sebaiknya di desinfeksi seminggu sekali. Hal ini dapat menolong mengurangi cacingan pada anak anjing. Pada anak anjing sebaiknya alas kandang dilapisi dengan Koran sehingga bila anak anjing buang kotoran, kotoran tersebut dapat segera dibuang dan digantikan dengan Koran yang baru.

Hal yang penting diperhatikan adalah pemberian obat cacing terutama pada anak anjing lepas sapih. Anjing dewasa yang akan dikawinkan sebaiknya diberi obat cacing dan sesudah beranak dapat diberikan ulangan obat cacing. Untuk pencegahan perlu diberikan vitamin dan makanan yang bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh agar tidak mudah terserang cacingan.

Pengobatan
Pada anak anjing dapat diberikan obat cacing mulai umur 1 bulan, kemudian diulang sebulan sekali. Anjing dewasa sebaiknya diberikan obat cacing tiap 2 bulan sekali.
Pada anak anjing ataupun anjing dewasa yang terinfeksi, perlu diperhatikan infeksi ikutan dari cacingan. Terapi didasarkan pada gejala klinis yang muncul, apabila diare diusahakan memberikan antidiare disertai terapi suportif untuk meningkatkan daya tahan dan mengembalikan kondisi tubuh, misalnya dengan pemberian vitamin atau pemberian terapi cairan (infus).

13. Penyakit Cacing Cambuk (Trichuris)

Penyakit cacing cambuk biasanya bersifat kronis (menahun), hal ini dikarenakan siklus hidup cacing cambuk agak lama. Pada cacing lain untuk menjadi dewasa hanya membutuhkan waktu beberapa minggu saja, tetapi pada cacing cambuk membutuhkan waktu lebih lama, kira-kira 10 minggu. Karena waktu yang dibutuhkan sampai dewasa cukup lama maka untuk memberantas cacing cambuk secara tuntas lebih sulit.
Untuk diketahui bahwa obat cacing hanya dapat membunuh cacing dewasa saja, sehingga telur cacing yang masih tersisa akan menjadi cacing dewasa lagi. Karena hal itu maka pemberian obat cacing harus berkala, sehingga dapat membunuh setiap cacing dewasa yang ada dan sebelum sempat bertelur kembali.

Biasanya cacing cambuk hanya menyerang anjing dewasa saja, jarang menyerang anak anjing umur 2-3 bulan.

Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh cacing cambuk, termasuk golongan Trichuris sp.

Cara Penularan
Penularan cacing cambuk umumnya karena tertelan telur cacing. Telur-telur cacing mencemari alas kandang, tempat makan dan minum, dan lingkungan sekitar rumah. Penularan karena telur tertelan kemudian masuk ke dalam perut dan selama 1 bulan baru menetas, selanjutnya masuk ke dalam usus halus menjadi dewasa setelah 10 minggu lamanya dan akhirnya menetap hingga 16 bulan di usus besar dan menimbulkan gejala penyakit.

Gejala Klinis
Karena perkembangan cacing cambuk ini lambat dibandingkan cacing-cacing lain maka gejala klinisnyapun kurang cepat terlihat dengan jelas. Biasanya gangguan terlihat ringan-ringan saja, misalnya mata agak pucat, anemia, lemah, lama-kelamaan menjadi lebih parah dan dapat berakibat fatal.

Pada yang sudah parah baru terlihat gejala, kadang terjadi diare terkadang normal, berat badan merosot, kurus, nafsu makan tidak menentu, pucat, anemia dan dehidrasi, kotoran berbau tidak enak dan spesifik sekali. Anjing yang terserang Trichuris tidak sampai mati, tetapi bila diikuti infeksi sekunder dapat menyebabkan kematian.

Penyakit ini bersifat menahun, timbulnya gejala sangat lamban dan hal itu tergantung pada kondisi, umur anjing, gizi dan lingkungan. Gejala serangan cacing cambuk ditentukan juga oleh jumlah cacing yang ada dalam tubuh anjing penderita.

Pencegahan
Untuk menghindari serangan cacing cambuk maka pencegahan sedini mungkin harus tetap dilaksanakan. Sanitasi yang ketat terutama pada kandang, tempat tidur, alat makan dan minum serta halaman rumah yang biasanya sebagai tempat anjing bermain. Pemberian obat cacing secara teratur dapat mencegah anjing tertular cacing ini. Kesehatan anjing melalui pemberian makanan yang bergizi dan vitamin serta mineral yang cukup dapat memberikan daya tahan anjing terhadap serangan cacing Trichuris.

Pengobatan
Anjing yang jelas menderita penyakit ini dapat diberikan Mebendazole dengan dosis 22 mg/kg berat badan selama 5 hari berturut-turut. Bila anjing menunjukkan gejala lemah dan pucat maka dapat diberikan penambah darah. Jika diare pengobatan dengan obat antidiare dan jika tampak infeksi sekunder agar diobati dengan antibiotika.

14. Penyakit Cacing Pita (Cestoda)

Penyakit cacing pita tidak begitu membahayakan dan tidak langsung menimbulkan gejala penyakit, akan tetapi merupakan penyakit yang sulit diberantas secara tuntas dan bersifat menahun.
Timbulnya gejala penyakit cacing pita tergantung dari jumlah cacing pita yang menyerang, kondisi anjing, umur anjing, ras dan lingkungan. Hamper semua anjing dewasa pernah terserang cacing ini, tetapi kebanyakan tidak menimbulkan gejala klinis. Biasanya anjing yang banyak kutu pada tubuhnya juga diserang penyakit cacing pita. Pada anak anjing kemungkinan terserang penyakit cacing pita kecil sekali.

Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh cacing pita yang umumnya termasuk dalam golongan Dipylidium dan Echinococcus.

Cara Penularan
1. Cacing Dipylidium caninum
Bentuk cacing ini seperti pita panjang berbuku-buku. Cacing dewasa terdapat dalam usus halus anjing dan kucing, kadang-kadang terdapat pada usus manusia terutama anak-anak. Proglottida (buku-buku atau ruas-ruas) yang di dalamnya berisi telur cacing terlepas dan keluar bersama tinja dan kadang-kadang proglottida ini melekat di sekitar anus, bentuknya seperti biji mentimun.

Kutu anjing (Trichodectes canis0 dan larva pinjal anjing (Ctenoephalides canis) memakan telur-telur cacing yang melekat di sekitar anus dan bulu anjing. Di dalam saluran pencernaan, kutu dan pinjal telur-telur cacing ini akan menetas berimigrasi dan berdiam dalam tubuh kutu dan pinjal sebagai kista (cysticercoid) yang berekor dan infektif. Penularan kepada anjing, kucing dan anak-anak terjadi karena anjing, kucing dan anak-anak menelan kutu atau pinjal dewasa yang tubuhnya mengandung cysticercoid.

Dalam usus anjing cysticercoids tadi berkembang menjadi cacing pita dewasa dalam waktu 3 minggu.

2. Cacing Echinococcus granulosus
Cacing ini mempunyai 3 sampai 5 ruas, cacing ini termasuk cacing yang berukuran pendek. Cacing dewasa terdapat dalam usus halus anjing, serigala, fox dan beberapa binatang liar pemakan daging.

Larvanya disebut kista hydatid yang umumnya terdapat di dalam hati, paru-paru, jeroan lain dan jaringan-jaringan lain dari manusia, sapi, domba, babi yang ketularan larva cacing pita ini karena kemasukan telur cacing dan telur tersebut akan menetas dalam usus manusia atau hewan-hewan tersebut akan menetas dalam usus manusia atau hewan-hewan tersebut kemudian berimigrasi dan tumbuh menjadi larva (kista hydatid).

Anjing ketularan cacing pita Echinococcus granulosus ini karena makan daging terutama jeroan sapi, domba, kambing dan babi yang mengandung kista hydatid.