Tuesday, September 27, 2016

Penyakit Jamur Pada Hewan Kecil

Kali ini saya akan membahas tentang Penyakit Jamur Pada Hewan Kecil. Indonesia memiliki kelembaban yang tinggi sehingga kasus penyakit jamur sering kali dijumpai pada praktek hewan kecil. Berikut ini Penyakit Jamur Pada Hewan Kecil.
sumber : anjingkita.com

1. ASPERGILLOSIS
Aspergillosis merupakan penyakit jamur yang menyerang berbagai jenis hewan yang ditandai dengan batuk-batuk, sesak nafas dan kekeurusan.
 
Etiologi
Aspergillosis disebabkan oleh Aspergillus sp, pada kambing dan domba disebabkan oleh Aspergillus flavus dan Aspergillus fumigates.
Aspergillus sp tumbuh baik pada suhu 30°C dan 37°C, dan dapat ditumbuhkan pada media agar Sabouraud.
 
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Aspergillosis tersebar luas di dunia.
 
Hewan Terserang
Aspergillosis menyerang berbagai jenis hewan seperti kambing, domba, sapi, kerbau dan ruminansia lain.
 
Cara Penularan
Aspergillosis dapat ditularkan melalui udara tercemar dan faktor predisposisi karena infestasi cacing paru-paru dan usus atau penggunaan oksitetrasiklin yang terus menerus.

Gejala Klinis
Hewan terserang ditandai dengan nafsu makan turun, sesak nafas, batuk-batuk dan kurus. 
 
ternakkucing.blogspot.com

Diagnosa
Penyakit ini dapat didiagnosa berdasarkan gejala klinis, perubahan patologis dan isolasi jamur. Isolasi dilakukan pada media yang diperkaya dan media agar Sabouraud. Jamur dalam jaringan dapat diperlihatkan dengan pemeriksaan mikroskopis dari usapan jaringan pada gelas slide, pemeriksaan Periodic Acid Schiff (PAS), Gomris (Grocott’s), Gridly’s dan Lactophenol Cotton Blue.
 
Diagnosa Banding
Hewan terserang memiliki gejala klinis yang mirip dengan Mikoplasmosis, Tuberkulosis dan Q Fever.
 
Pencegahan dan Pemberantasan
Hewan terserang dapat diobati dengan pemberian amfoterisin B. kandang harus tetap bersih dan kering. Menghindari penggunaan oksitetrasiklin berlebihan.
 
2. STRAWBERRY FOOTROT
www.merckvetmanual.com
 
Nama lain: Proliferatif Dermatitis, Cutaneous Streptothricosis, Cutaneous Actinomycosis atau Mycotic Dermatitis.
Merupakan penyakit menular dan menyerang berbagai jenis hewan seperti kambing, domba, rusa, kuda, kelinci yang ditandai dengan dermatitis eksudatif atau purulen pada kulit. Penyakit ini juga bersifat zoonosis.
 
Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh Dermatophilus congolensis atau pedis, termasuk dalam famili Dermatophilaceae.
Dermatophylus memiliki mycelium dan filament seperti pita yang bagian samping bercabang. Septa dibentuk transversal, horizontal dan vertikal. Mycelium dan spora adalah gram positif, bersifat aerobik dan memfermentasi lemah. Pada media setengah padat bentuknya halus, basah, mucoid dan tidak melekat, koloninya berwarna putih keabu-abuan kemudian berubah agak kekuningan dengan meningkatnya umur biakan.
 
Epidemiologi
Distribusi Geografis
Penyakit ini tersebar luas di beberapa negara seperti Inggris, Skotlandia, Australia, New Zealand, Afrika dan India. Di Indonesia belum pernah dilaporkan.
 
Hewan Terserang
Penyakit ini terutama menyerang domba, meskipun secara percobaan penyakit ini ditularkan pada kambing, marmut dan kelinci. Kasus paling tinggi terjadi pada musim panas dan agak jarang pada musim dingin.
 
Cara Penularan
Cara penularan penyakit ini tidak diketahui dengan pasti, tetapi kemungkinan karena gesekan pada tanah yang menyebabkan luka-luka kemudian dicemari oleh bakteri. Keropeng kulit mengandung banyak bakteri yang tetap infektif dalam waktu lama dan mencemari tanah di sekitarnya. Lalat Stomoxys calcitrans dan Musca domestica dapat bertindak sebagai vektor mekanis dari penyakit.
 
Gejala Klinis
Hewan terserang ditandai dengan lesi-lesi pada kulit berupa luka-luka bernanah. Kepincangan dan rasa sakit yang hebat saat berjalan. Lesi-lesi tetap ada selama 5-6 minggu bahkan pada kasus kronis dapat berlangsung selama 6 bulan dan pada kasus yang hebat dapat diikuti dengan kematian.
 
Diagnosa
Penyakit dapat didiagnosa dengan melakukan pemeriksaan mikroskopis atau FAR dan teknik biakan.
 
Diagnosa Banding
Penyakit ini sangat mirip dengan Orf, Scabies atau Demodecosis.
 
Pencegahan dan Pemberantasan
Tidak ada pengobatan yang spesifik untuk penyakit ini. Terapi pengobatan yang dapat dilakukan dengan antibiotika penisilin (50.000 iu/kg bb) dan streptomisin (50 mg/kg bb) secara intramuskuler.
 
Pemberian Fulvicin per oral, dan mengoleskan gentian violet 1 % dalam alcohol dan asam salisilat 5 % pada kulit dilaporkan efektif selama sebulan.

No comments: