Tuesday, September 27, 2016

Penyakit Bakterial pada Unggas

1. CHRONIC RESPIRATORY DISEASE (CRD)
Chronic Respiratory Disease (CRD) atau penyakit pernafasan menahun merupakan penyakit menular pada unggas dan menyebabkan kerugian ekonomi cukup tinggi karena terjadi penurunan produksi telur dan kualitas karkas dan biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan menjadi tinggi.
Etiologi
CRD disebabkan oleh Mycoplasma gallisepticum dari family Mycoplastaceae. Beberapa strain Mycoplasma gallisepticum yang diketahui seperti strain R merupakan strain patogenik yang biasa digunakan untuk bakteri tantang. Strain F diketahui juga patogenik, tetapi lesi radang kantong hawa (air sacculitis) yang disebabkan oleh strain R lebih hebat dibandingkan F.
Bakteri ini termasuk gram negatif, bentuk kokoid dan berukuran 0,25-0,5 um.
Epidemiologi:
Distribusi Geografis
Penyakit ini pertama kali dilaporkan di Inggris sebagai epizootic pneumoenteritis atau infectious sinusitis pada kalkun tahun 1938 dan pada tahun 1943 agen penyebab CRD pada ayam dan kalkun telah berhasil diisolasi. Dalam beberapa tahun CRD menyebar di beberapa Negara seperti Australia, Inggris, Jepang, India, Yugoslavia, Prancis dan Negara lain di kawasan Asia. Di Indonesia tersebar hamper di seluruh daerah dan bersifat endemik.
Jenis Unggas Terserang
CRD utamanya menyerang ayam dan kalkun. Bakteri penyebab CRD juga pernah diisolasi dari burung liar, itik dan angsa.
Cara Penularan
Penyakit ini ditularkan secara langsung, melalui udara dan debu, peralatan kandang tercemar. Penularan vertical melalui telur dapat terjadi.
Morbiditas dan Mortalitas
Morbiditas dan mortalitas bervariasi. Morbiditas pada ayam tinggi dan dapat menyerang semua ayam dalam satu flok, tetapi mortalitas bervariasi. Serangan penyakit lebih hebat pada kelompok muda dan waktu musim dingin. CRD umumnya berjalan kronis dan sering diikuti oleh infeksi lain seperti ND, IB dan E. coli.
Mortalitas pada ayam dewasa rendah, tetapi dapat menyebabkan penurunan produksi. Ayam broiler mortalitas rendah, tetapi jika ada komplikasi penyakit lain mortalitas dapat mencapai 50 %.

Gejala Klinis
Pada ayam gejala klinis yang menonjol adalah gejala pernafasan ditandai dengan leleran hidung, batuk, konsumsi pakan dan berat badan menurun. Ayam petelur terjadi penurunan produksi telur sampai pada tingkat terendah. Gejala lebih hebat pada ayam broiler terjadi pada umur 4 dan 8 minggu.
Pada kalkun terjadi pembengkakan pada sinus paranasal, leleran mata dan kelopak mata tertutup rapat akibat pembengkakan sinus kepala.
Diagnosa
Ayam yang terserang oleh strain MG variant tidak mudah didiagnosa berdasarkan gejala klinis, serologi atau kultur dan sering tidak dikenal dalam periode yang lama. Morfologi kuman dapat diperiksa dengan pemeriksaan mikroskopis. Kuman dapat dideteksi dengan uji AGP, imunoperoxidase, FAT dan PCR.
Antibodi dapat dideteksi dengan uji HI, serum plat agglutination (SPA) dan ELISA.
Diagnosa Banding
CRD sering dikelirukan dengan beberapa penyakit seperti ND, Swollen Head Syndrome (SHS), Infectious Bronchitis (IB) atau Infectious Coryza.
Pencegahan dan Pemberantasan
Ayam yang sakit dipisah dan telur dari flok tertular di rendam dengan larutan antibiotik. Telur dihangatkan pada suhu 37,8 °C dan dioleskan larutan antibiotic (tilosin) atau eritromisin (40-1000 rpm) selama 15-20 menit.
Pengobatan dengan antibiotik, seperti streptomisin, oksitetrasiklin, klortetrasiklin, eritromisin, spiramisin, tilosin, linkomisin dan spektinomisin.
Tindakan pencegahan dengan vaksinasi, menggunakan vaksin CRD inaktif menggunakan bakterin dalam minyak emulsi.

2. TUBERKULOSIS
Tuberkulosis merupakan penyakit kronis yang sangat menular pada unggas dan menyerang berbagai jenis unggas termasuk burung liar.
Etiologi
Tuberkulosis disebabkan oleh Mycobacterium avium (AT), termasuk bakteri gram positif, berbentuk batang atau bengkok dengan ukuran panjang 1-3 um, tidak berspora dan non motil. Terdiri dari serotype 1, 2 dan 3 yang virulen pada ayam, sedangkan serotype 4-20 (M. intracellulare) tidak virulen pada ayam tetapi virulen pada manusia.
Epidemiologi:
Distribusi Geografis
TuberKulosis ayam tersebar luas di beberapa Negara, seperti Amerika Serikat, Kanada, Brasil, Uruguay, Venezuela dan Argentina, Inggris, Jerman, Afrika Selatan, Kenya dan Rhodesia.
Jenis Unggas Terserang
Semua jenis unggas dapat tertular M. avium, tetapi yang paling peka adalah unggas peliharaan seperti ayam, itik, angsa, kalkun, merak dan merpati. Ungas liar jarang terserang. Burung liar seperti kakatua, nuri, gelatik, gagak dan jalak pernah dilaporkan.
Berbagai jenis mamalia juga dilaporkan seperti babi, domba, kelinci, musang, hamster, rusa, sapi, sedangkan manusia, kera, kuda, marmot, anjing dan kucing termasuk tahan terhadap infeksi penyakit ini.
Cara Penularan
Penyakit ini ditularkan melalui tinja tercemar bakteri. Bakteri dapat berasal dari lesi tuberkulosus usus atau hati dan mukosa kantung empedu. Penularan juga dapat terjadi melalui pernafasan. Bakteri yang tahan hidup dalam tanah atau alas kandang dalam jangka waktu lama merupakan sumber penularan yang penting.
Penyakit ini juga dapat ditularkan melalui telur.
Gejala Klinis
Ayam terserang ditandai dengan depresi, nafsu makan lama-kelamaan turun, ayam kurus (atrofi) dengan tulang dada menonjol. Bulu-bulu tampak kusam, jengger dan pial terlihat pucat dan lebih tipis dari normalnya kadang-kadang terlihat kebiruan atau ikterus.
Salah satu kaki tampak lemah dan posisi tubuh seperti tertunduk. Sayap terlihat seperti menggantung karena bakteri menyerang persendian dan mengakibatkan kelumpuhan. Terjadi diare dan ayam dapat mati setelah sakit beberapa lama atau kematian mendadak dapat terjadi jika kerusakan hebat pada hati dan limpa.
Diagnosa
Penyakit dapat didiagnosa berdasarkan epidemiologis, gejala klinis, patologis dan isolasi bakteri. Pemeriksaan dengan mikroskop membantu diagnose. Isolasi bakteri dilakukan pada media khusus yang selanjutnya diidentifikasi dengan uji serologis untuk memastikan bakteri penyebab penyakit. Uji serologis yang biasanya digunakan adalah uji aglutinasi cepat dan ELISA.
Diagnosa Banding
Beberapa penyakit yang mempunyai gejala klinis atau perubahan patologis sangat mirip dengan tuberculosis adalah fowl cholera dan fowl typhoid.
Pencegahan dan Pemberantasan
Ayam sakit dimusnahkan dengan dibakar atau dikubur yang dalam. Kandang dan peralatan tercemar didesinfeksi dan pengosongan kandang dalam jangka waktu yang lama.
Pengobatan tidak efisien karena memerlukan waktu pengobatan selama 18 bulan. Beberapa jenis obat yang pernah digunakan seperti isoniazid (30 mg/kg), ethambutol (30 mg/kg) dan rrifampicin (45 mg/kg).

3. PENYAKIT PULLORUM
Nama lain: Salmonellosis. Merupakan penyakit menular pada ayam dan bersifat zoonosis.
Etiologi
Penyakit Pullorum disebabkan oleh Salmonella pullorum dari family Enterobacteriaceae. Termasuk bakteri gram negative, anaerob fakultatif, non motil, tidak kromogenik dan tidak berspora. Bentuk batang silinder panjang dengan ujung sedikit bulat dan berukuran 0,3-0,5 x 1-2,5 um.
Epidemiologi;
Distribusi Geografis
Penyakit ini pertama kali dilaporkan sebagai penyakit septicemia yang mematikan pada anak ayam oleh Rettger pada tahun 1899. Kemudian disebut penyakit diare putih atau bacillary white diarrhea dan kemudian disepakati sebagai penyakit Pullorum. Penyakit ini tersebar luas di dunia.
Jenis Unggas Terserang
Yang paling peka terhadap penyakit ini adalah ayam, disamping jenis unggas lainnya seperti kalkun, itik, ayam mutiara, kuau, puyuh, jalak, nuri dan jenis burung liar dapat tertular. Kelompok umur yang paling banyak terserang dan kematian paling tinggi adalah umur 2-3 minggu. Ketahanan terhadap penyakit mulai meningkat dimulai pada umur 5-10 hari dengan meningkatnya limfosit darah dan suhu tubuh.
Mamalia dapat tertular secara alami atau injeksi percobaan seperti simpanse, kelinci, marmut, babi, kucing, anjing, serigala, pedet, dan tikus liar.
Cara Penularan
Penularan utama melalui telur. Infeksi ovum terjadi saat ovulasi dan bakteri masuk melalui kulit telur. Penularan penyakit selama periode menetas dari ayam tertular kepada ayam sehat menyebabkan penyebaran penyakit yang hebat dan hanya dapat dikendalikan melalui fungsi mesin tetas.
Penularan juga dapat ditularkan melalui ayam-ayam kanibal, telur yang pecah dan kemudian dimakan atau melalui luka.
Morbiditas dan Mortalitas
Morbiditas dan mortalitas bervariasi, tergantung umur, strain ayam, nutrisi, menejemen flok dan sifat penularan.
Mortalitas bervariasi dan pada kasus wabah dapat mencapai 100 %. Puncak kematian terjadi pada minggu kedua atau ketiga dari umurnya.
Gejala Klinis
Anak-anak ayam terserang ditandai dengan kelemahan, nafsu makan menurun, ngantuk, diare putih kapur dan bulu-bulu di daerah kloaka dan perut menjadi kotor, sesak nafas dan megap-megap. Sayap terlihat menggantung dan kematian mendadak.
Ayam yang sembuh pertumbuhannya kerdil dan bulu sangat kotor. Terjadi pembengkakan sendi kaki tibiotarsal dan humeroradial dan persendian ulnaris. Produksi, fertilitas dan daya tetas telur menurun.
Diagnosa
Sejarah dan gejala klinis penyakit mempunyai nilai diagnostic yang rendah. Diagnosa pasti dapat dilakukan isolasi dan identifikasi bakteri dan uji serologis.
Diagnosa Banding
Gejala dan lesi patologis sangat mirip dengan penyakit yang disebabkan oleh Salmonella lainnya. Aspergillus dan jamur lainnya dapat menghasilkan lesi yang sama pada paru-paru atau lesi pada persendian sangat mirip dengan infeksi Mycoplasma synoviae dan agen infeksius lainnya.
Infeksi local pada pericardium dan ovarium sama dengan lesi oleh bakteri lain seperti coliform, Staphylococcus, Mikrococci dan Salmonella.
Pencegahan dan Pemberantasan
Ayam sakit dimusnahkan. Pengobatan dilakukan dengan pemberian preparat sulfa seperti sulfadiazine dan sulfamerasin.

4. INFECTIOUS CORYZA
Nama lain: Snot
Etiologi
Penyebab penyakit adalah bakteri Haemophilus paragallinarum. Termasuk bakteri gram negative dan non motil, bentuk batang pendek dan berukuran 1-3 x 0,4-0,8 um. Bakteri yang ganas mempunyai kapsul dan mengalami degenerasi dalam waktu 48-60 jam, dalam bentuk fragmen dan bentuk yang tidak teratur.
Serotipe yang diketahui yaitu serovar A, B dan C. strain Modesto (M) termasuk serovar C. ketiga strain tersebut ada yang menguraikan sebagai serovar I, II, dan III, tetapi menurut penelitian trakhir bahwa serovar II dan III merupakan varian dari serovar I.
Patogenesa
Ada 3 jenis antigen dalam bakteri ini yaitu lipopolisakarida yang diisolasi dari cairan supernatant biakan dari strain serovar A dan C. antigen polisakarida yang diisolasi dari strain serovar A dan C yang menyebabkan hidropericardium pada ayam. Antigenketiga adalah asam hialuronik mengandung kapsul yang menyebabkan gejala coryza.
Epidemiologi:
Distribusi Geografis
Penyakit ini pertama kali dilaporkan oleh Beach pada tahun 1920 dan berhasil diisolasi pada tahun 1931 yang diberi nama Bacillus hemoglobinophilus coryzae gallinarum. Penyakit ini bersifat endemic di dunia. Di Indonesia ditemukan tersebar luas dan endemic.
Jenis Unggas Terserang
Ayam menjadi hospes utama penyakit ini. Unggas lainnya juga terserang seperti kuau, ayam mutiara, dan puyuh. Sedangkan kalkun, itik, burung merpati, gelatik dan gagak relative tahan.
Semua umur ayam dapat terserang, umur 4 minggu sampai 3 tahun peka. Anak ayam berumur 3-7 hari dilaporkan tahan penyakit karena adanya antibody maternal.
Cara Penularan
Penyakit ditularkan melalui kontak langsung antara hewan sakit dengan yang sehat. Unggas sehat dan yang terinfeksi kronis serta burung liar dapat bertindak sebagai pembawa penyakit. Penyakit umumnya terjadi pada musim hujan dan musim dingin.
Morbiditas dan Mortalitas
Tingkat morbiditas tinggi sedangkan mortalitas rendah. Jika ada komplikasi penyakit lain seperti cacar ayam, CRD, IB, kolera unggas dan ILT mortalitas menjadi tinggi.
Gejala Klinis
Masa inkubasi tidak diketahui dengan pasti. Secara percobaan berlangsung 24-48 jam setelah infeksi atau intra sinus dengan biakan bakteri atau eksudat. Lama berlangsungnya penyakit tergantung dari inokulum dan keganasan bakteri.
Ayam terserang ditandai dengan gejala pernafasan yaitu keluarnya cairan bersifat encer sampai berlendir, bersin-bersin, sinus kepala bengkak, selaput lender mata meradang atau mata membengkak. Jengger bengkak, diare, nafsu makan dan minum menurun.
Diagnosa
Penyakit didiagnosa berdasarkan epidemiologi, gejala klinis, patologi, isolasi dan identifikasi penyakit. Berbagai uji serologis dapat digunakan seperti aglutinasi tabung atau plat, AGP dan HI. Dengan AGP dapat mendeteksi antibodi 2 minggu pascainfeksi atau pascavaksinasi kurang lebih 11 minggu.
Diagnosa Banding
Penyakit ini dapat dikelirukan dengan beberapa penyakit seperti ND, CAA, IB, CRD, kolera unggas kronis, cacar unggas, defisiensi vitamin A yang mempunyai gejala klinis yang mirip dengan coryza.
Pencegahan dan Pemberantasan
Ayam yang sakit dapat diobati dengan preparat sulfonamide dan antibiotika seperti eritromisin dan oksitetrasiklin. Obat dalam bentuk campuran efektif dalam pengobatan penyakit seperti Sulfachloropyrazine-sulfadimidine, klortetrasiklin-sulfodimektosin, sulfakloropiridazin-trimetroprim, miporamisin dan esafloxacin.
Tindakan pencegahan yang paling efektif yaitu melakukan vaksinasi. Ayam divaksinasi pada umur 10 dan 20 minggu melalui suntikan intramuskuler. Belakangan ini telah dikembangkan vaksin snot yang dikembangkan dengan vaksin IB dan ND inaktif.

5. PASTEURELLOSIS
Nama lain: Fowl Cholera, Avian Haemorrhagic Septicemia, Avian Cholera atau Penyakit Kolera Unggas.
Etiologi
Penyebab penyakit adalah Pasteurella moltocida. Termasuk bakteri gram negative, bentuk batang, non motil dan tidak membentuk spora. Bakteri ini mempunyai serotype somatic yang bervariasi dan serogrup bipolar. Ada 16 serotipe somatic (serotype 1-16) dan 4 serogrup kapsuler (A, B, D dan F) diantaranya diisolasi dari hospes unggas. Namun dari karakter antigenik dan virulensinya ditemukan A:1, A:3, dan B:4.
Epidemiologi:
Distribusi Geografis
Penyakit ini dilaporkan sejak pertengahan tahun 1800 di Eropa dan istilah fowl cholera pertama kali dilaporkan oleh Mailet tahun 1838, haemorrhagic septicemia oleh Huppe tahun 1886 dan avian pasteurellosis oleh Lignieres pada tahun 1900. Sejak itu pula penyakit ini dilaporkan di beberapa Negara seperti Italia, India, Rusia, Amerika Serikat dan beberapa Negara lainnya kejadian penyakit bersifat sporadik dan endemik.
Jenis Unggas Terserang
Hampir semua jenis unggas terserang, seperti ayam, itik, kalkun, angsa dan burung liar lainnya serta menyerang semua kelompok umur.
Morbiditas dan Mortalitas
Tingkat morbiditas dan mortalitas tinggi. Dalam satu kelompok unggas terserang tingkat mortalitas bervariasi, pada ayam mencapai 20 %, itik 50 % dan kalkun 17-68 %.
Gejala Klinis
Gejala klinis penyakit ada 2 bentuk yaitu akut dan kronis.
Bentuk akut ditandai dengan perjalanan penyakit singkat hanya beberapa jam sebelum terjadi kematian. Gejala yang tampak yaitu demam, anoreksia, bulu kusam, dari mulut keluar cairan berlendir, diare dan tinja putih kapur kadang-kadang kehijauan berlendir. Frekuensi pernafasan meningkat. Kulit di sekitar kepala tampak kebiruan dan terjadi pembengkakan pada jengger dan pial.
Bentuk kronis terjadi akibat infeksi pasteurellosis yang tidak ganas. Gejala yang terlihat berupa pembengkakan pada jengger, pial, sinus, sendi kaki atau sayap. Terdapat tanda tortikolis, sesak nafas akibat infeksi saluran pernafasan.
Diagnosa
Penyakit dapat didiagnosa berdasarkan epidemiologi, gejala klinis, patologis, isolasi dan identifikasi penyebab. Koloni bakteri dapat diperiksa menggunakan mikroskop, sedangkan identifikasi dilakukan dengan uji aglutinasi cepat menggunakan antiserum pasteurella multocida. Serotype somatic dari bakteri dapat dideteksi dengan AGP berdasarkan atas variasi antigenic di dalam komponen polisakarida.
Diagnosa Banding
Penyakit ini mempunyai gejala klinis yang sangat mirip dengan beberapa penyakit seperti ND, CRD, Snot dan Aspergillosis.
Pencegahan dan Pemberantasan
Unggas yang sakit disingkirkan dari kelompok. Pengobatan dilakukan dengan memberikan antibiotik, seperti streptomisin, penicillin atau penicillin dan streptomisin (penstrep), oksitetrasiklin dan khloramfenikol. Novobiosin atau preparat sulfonamide dapat diberikan bersama pakan atau air minum.
Tindakan pencegahan adalah vaksinasi menggunakan vaksin aktif atau vaksin inaktif.

6. KOLIBASILOSIS
Etiologi
Kolibasilosis disebabkan oleh Escherichia coli. Termasuk bakteri gram negatif. Bakteri ini berbentuk basilus, tidak berspora, beberapa atrain motil dan mempunyai flagella peritrichous serat berukuran 2-3 x 0,6 um.
Berbagai serotipe E. coli telah diketahui dan serotype antigen telah diklasifikasi sebagai antigen somatik (154 O), antigen kapsul (89 K) dan O2:K1.
Patogenesa
Bakteri E. coli menginfeksi saluran pernafasan biasanya bersama-sama dengan berbagai infeksi lain seperti IB, ND, SHS atau CRD. kerusakan yang terjadi pada saluran pernafasan akan sangat peka masuknya E. coli.
Ayam-ayam umur 12-16 minggu yang diinfeksi dengan Mycoplasma menjadi lebih peka terhadap E. coli dan kepekaannya berlangsung 30 hari. Demikian pula jika ada infeksi virus IB, ND dan CRD. kepekaannya lebih cepat dan berlangsung lama, seperti infeksi gabungan IB dan E. coli menyebabkan gejala klinis dan pertumbuhan patologis lebih hebat dibandingkan dengan infeksi tunggal.
Epidemiologi:
Distribusi Geografis
Penyakit ini tersebar luas di dunia, termasuk di Indonesia.
Jenis Unggas Terserang
Penyakit ini menyerang semua jenis unggas seperti ayam, kalkun dan itik.
Cara Penularan
Sumber penularan yang paling potensial adalah air minum, makanan ayam dan telur yang tercemar tinja, dan debu kandang. Bakteri ini dapat bertahan dalam waktu lama terutama dalam keadaan kering dan dapat menurun 84-97 % dalam waktu 7 hari setelah debu tersebut basah oleh air.
Morbiditas dan Mortalitas
Pada flok individual yang terserang kolibasilosis, tingkat mortalitas dapat mencapai 75 %.
Gejala Klinis
Ayam-ayam terserang ditandai dengan gejala lesu, kurus, berak encer berwarna kuning.
Diagnosa
Penyakit ini dapat didiagnosa berdasarkan epidemiologi, gejala klinis, patologi, isolasi dan identifikasi penyebab.
Isolasi bakteri pada media eosin methylene blue (EMB), MacConkey atau agar tergitol 7 atau media non inhibitor. Antibody terhadap E. coli dapat dideteksi dengan uji hemaglutinasi indirek (IHT) dan ELISA.
Diagnosa Banding
Beberapa penyakit mempunyai gejala atau perubahan patologis yang sangat mirip, seperti sinovitis-artritis, mikoplasma, stapylokokus, salmonella dan organism lainnya.
Perikarditis juga disebabkan oleh Chlamydia. Peritonitis kadang-kadang dapat disebabkan oleh Pasteurella dan Streptococci.
Pencegahan dan Pemberantasan
E. coli sangat peka terhadap antibiotic. Beberapa antibiotic yang efektif untuk mencegah dan mengobati penyakit ini seperti amfisilin, kloramfenikol, klortetrasiklin, neomisin, nitrofuran, gentamisin, streptomisin, asam nalidixic, polimiksin B dan preparat sulfa. Pemberian vitamin juga diperlukan untuk mengurangi stress.
Tindakan pencegahan berupa vaksinasi menggunakan vaksin aktif serotype O2:K1 dan O78:K80. Vaksin inaktif O78 dapat diberikan pula dan diuji cobakann pada itik dilaporkan memberikan kekebalan.

7. ORNITHOSIS
Nama lain: Chlamidiosis.
Etiologi
Ornithosis disebabkan oleh Chlamydia psittaci dari family Chlamydiaceae. Merupakan bakteri intraseluler obligat pada sel hospes eukaryotic. Materi genetic tersusun atas molekul DNA dengan berat molekul 6,6 x 10 pangkat 8.
Epidemiologi
Distribusi geografis
Penyakit ini dilaporkan bersifat endemic di Amerika Serikat sejak tahun 1960-1987, kemudian penyakit dilaporkan juga di Ceko dan Slowakia serta Negara-negara lainnya.
Jenis Unggas Terserang
Penyakit ini menyerang kalkun dan itik. Ayam, kuau dan merpati relatif tahan dan hanya ditemukan secara serologis.
Cara penularan
Penyakit ditularkan melalui pernafasan dan melalui tinja. Infeksi dapat juga terjadi secara kontak langsung. Peranan arthropoda dalam penularan penyakit masih dalam dugaan, meskipun ditemukan Chlamydia dalam kutu yang berasal dari sarang kalkun.
Morbiditas dan Mortalitas
Unggas terserang Chlamydia yang ganas, tingkat morbiditas mencapai 50-80 % dan mortalitas 10-30 %, sedangkan yang kurang ganas tingkat morbiditas 5-20 % dan mortalitas 1-4 %.
Gejala Klinis
Masa inkubasi penyakit bervariasi tegantung dari jumlah Chlamydia yang dihirup dan keganasan strain yang menginfeksi, lingkungan dan umur terserang.
Unggas terserang ditandai menurunnya nafsu makan, konjungtivitis, rhinitis disertai dengan leleran dari hidung dan muut yang berwarna kuning hijau. Bulu-bulu di sekitar leher menjadi kotor karena eksudat, sesak nafas, diare dan tinja kehijauan. Unggus menjadi kurus dan konvulsi. Produksi telur turun drastic, dari 60 % menjadi 10-20 %.
Diagnosa
Penyakit ini didiagnosa berdasarkan epidemiologi, gejala klinis, patologis, isolasi dan identifikasi. Isolasi pada telur ayam berembrio melalui selaput kuning telur dan biakan sel atau pada tikus putih melalui intraperitoneal.
Identifikasi organism menggunakan mikroskop, sedangkan pemeriksaan serologis dengan uji ELISA dan CFT.
Diagnosa Banding
Penyakit ini dapat dikelirukan dengan berbagai penyakit seperti Pasteurellosis, Kolibasilosis dan Avian Influenza.
Pencegahan dan Pemberantasan
Pengobatan dapat dilakukan dengan oksitetrasiklin 400 g/ton pellet pakan. Tindakan pencegahan dengan vaksinasi, tetapi vaksin komersial belum tersedia.

8. ASPERGILLOSIS
Etiologi
Aspergillosis disebabkan oleh jamur Aspergillus fumigatus dan flavus. Spesies jamur lain yang dapat menyebabkan penyakit adalah Aspergillus terrus, A. glaucus, A. nidulans, A. niger, A. amstelodami dan A. nigrescen.
Patogenesa
Aspergillus sp dapat mengeluarkan aflatoksin yang sangat pathogen pada ayam. Ayam yang diekspos konidia A. fumigates menyebabkan kematian sampai 50 %.
Epidemiologi:
Distribusi Geografis
Aspergillosis pada unggas telah dikenal hampir 2 abad yang lalu, yaitu ditemukan pada jenis unggas liar seperti itik, angsa, burung onklet. Aspergillus fumigates pertama kali dilaporkan pada paru-paru kalkun liar (Otis tardaga) pada tahun 1863.
Jenis Unggas Terserang
Semua jenis unggas termasuk burung liar peka terhadap Aspergillosis, seperti ayam, itik, angsa dan burung onklet, kalkun, burung kakatua, nuri,dan beo.
Cara Penularan
Aspergillosis ditularkan melalui udara, kandang atau alas kandang tercemar. Dilaporkan bahwa alas kandang sering menjadi sumber konidia Aspergillus. Penularan lewat udara di dalam mesin tetas pernah dilaporkan.
Penularan melalui telur dapat terjadi, secara percobaan telur-telur yang diinkubasi dengan suspense jelly petroleum mengandung konidia A. fumigates dan infeksi meningkat apabila telur diinkubasi dalam incubator dicemari dengan konidia A. fumigates dan dalam waktu 8 hari inkubasi telah terjadi penetrasi jamur melalui kulit telur.
Morbiditas dan Mortalitas
Aspergillosis akut sering menyebabkan wabah pada anak ayam dengan tingkat morbiditas dan mortalitas tinggi, sedangkan aspergillosis kronis terjadi pada unggas dewasa dengan tingkat morbiditas dan mortalitas rendah. Pada kalkun mortalitas dapat mencapai 50 %.
Gejala Klinis
Unggas terserang ditandai dengan gejala sesak nafas, nafas megap-megap, nafsu makan menurun, lemah dan pada stadium akhir penyakit terjadi diare. Dari hidung dan mukosa mata keluar cairan berlendir. Beberapa unggas dalam waktu 24 jam menunjukkan gejala konvulsi dan tortikolis yang terjadi pada beberapa jenis unggas seperti ayam, kalkun dan angsa.
Diagnosa
Aspergillosis mudah didiagnosa berdasarkan pemeriksaan patologis yang ditandai dengan nodul caseous atau plak pada kantong hawa atau paru-paru unggas terserang. Jamur mudah diperiksa di bawah mikroskop biasa setelah potongan kecil dari nodul diteteskan larutan KOH 20 %.
Pemeriksaan melalui uji serologis AGP, ELISA diperlukan untuk mengidentifikasi jamur. Dengan AGP jamur dapat dibedakan berdasarkan garis presipitasi yang dihasilkan. Aspergillus fumigates menghasilkan garis presipitasi sedangkan A. flavus tidak menghasilkan garis presipitasi.
Pencegahan dan Pemberantasan
Aspergillosis dapat dikendalikan dengan sanitasi kandang yang baik. Kandang harus dibersihkan atau didesinfeksi secara rutin. Untuk mencegah penularan dalam kelompok unggas maka air minum ditambahkan larutan copper sulphate 1:2000, nystatin atau hamycin atau mikonazol untuk mencegah gejala klinis aspergillosis. Infeksi pada embrio ayam dapat dicegah dengan amfoterisin B atau fenil merkuri di-naftilmetane disulfonat.
Untuk pencegahan dianjurkan untuk melakukan vaksinasi, tetapi vaksin komersial belum tersedia. Vaksinasi pada kalkun pernah diuji cobakan menggunakan vaksin aspergillosis yang disiapkan dari konidia dan hasilnya dapat mencegah kematian hamper 50 % dan kebal setelah ditantang dengan konidia Aspergillus fumigates.

9. KANDIDIASIS
Kandidiasis merupakan penyakit jamur menular pada saluran pencernaan unggas yang ditandai dengan pertumbuhan yang terhambat atau kerdil.
Etiologi
Candidiasis disebabkan oleh Candida albican. Jamur ini mempunyai ukuran 5,5 x 3,5 u. jamur tumbuh baik pada medium Saboroud agar dan menghasilkan koloni krem, dan putih setelah diinkubasi selama 24-48 jam pada suhu 37 °C. organisme menghasilkan asam dan gas pada dextrosa, levulosa, maltosa dan mannosa serta menghasilkan sedikit asam pada galaktosa dan sukrosa.
Epidemiologi:
Distribusi Geografis
Kandidiasis tersebar luas di dunia, terutama di Negara-negara tropis.
Jenis Unggas Terserang
Kandidiasis menyerang semua jenis unggas seperti ayam, kalkun, kuau, angsa, merpati, puyuh, merak dan parkit. Unggas yang terserang dan yang paling peka adalah unggas muda.
Gejala Klinis
Gejala klinis umumnya tidak spesifik. Unggas terserang ditandai dengan gejala kerdil, bulu kusam dan lesu.
Diagnosa
Penyakit ini agak sulit didiagnosa karena gejala klinis dan perubahan patologis anatomis tidak mencolok. Namun dari pemeriksaan histopatologis dapat diperlihatkan perubahan jaringan, spora dan hipe C. albican dapat ditemukan pada lesi. Melalui pemupukan pada agar Saboroud diperoleh pertumbuhan murni dari Candida yang selanjutnya dapat diperiksa dengan mikroskop biasa.
Diagnosa Banding
Penyakit ini mirip dengan aspergillosis dan hanya dapat dibedakan berdasarkan pemeriksaan morfologi jamur.
Pencegahan dan Pemberantasan
Ayam sakit dipisah dan kandang didesinfeksi dengan formalin 2 % dan NaOH 1 % serta iodine monochloride dalam HCl 3 %.
Pengobatan dilakukan dengan memberikan CuSO4 yang diberikan dalam air minum (1:2000) diberikan setiap minggu. Pemberian nystatin (110 mg/kg makan) dan sodium lauryl sulfate (7,8-25 mg/liter) selama 5 hari dilaporkan efektif mencegah candidiasis.

No comments: