Blog ini akan digunakan untuk mengekspresikan tulisan-tulisan baik ilmiah ataupun fiksi. Tulisan sebagian berkaitan dengan peternakan dan kesehatan hewan. Semoga bermanfaat.
Saya suka banget lihat video ini..mengupas tentang inseminasi buatan pada sapi perah dengan cara yang baik dan denngan alat yang ideal. Bagus untuk pelajaran bagi kita.
Bagian pertama video membahas bagaimana tetang bagaimana anatomi reproduksi sapi betina (reproductive anatomy of the cow). Berikut ini videonya:
Bagian kedua video membahas tentang deteksi birahi (Heat Detection). Keberhasilan deteksi birahi menjadi salah satu kunci keberhasilan inseminasi buatan. Berikut ini videonya:
Bagian keiga video membahas tentang alat-alat untuk inseminasi buatan (artificial insemination equipment) dan handling semen (penangan semen beku) mulai dari (Heat Detection). Handling alat ib yang baik dan handling semen yang benar juga merupakan salah satu kunci keberhasilan inseminasi buatan. Berikut ini videonya:
Video keempat dan kelima membahas tentang teknik pembibitan pada sapi perah (Breeding technique) dan Indikator Kunci keberhasilan Reproduksi (reproductive key performance indicators).
Berikut ini video Breeding technique:
Berikut ini video Indikator Kunci keberhasilan Reproduksi:
Demikian sedikit tentang Video lengkap Intruksi Inseminasi Buatan Pada Sapi Perah. semoga bermanfaat
Dalam
satu siklus birahi normal secara alami, dari sekian ribu oosit yang
bertumbuh kembang hanya satu saja yang akan menjadi sel telur dan
dibuahi oleh satu sel spermatozoa dari sekitar 25 juta sel dalam satu
kemasan straw semen beku. Jadi hanya satu ekor saja yang terlahir
menjadi individu baru, sementara yang lainnya ‘terbuang’ sia-sia, baik
itu oosit maupun sel spermatozoa. Sungguh suatu hal yang teramat sangat
disayangkan, sumber daya alam yang melimpah ruah ini belum diberdayakan.
Baca lagi meningkatkan efisiensi reproduksi dengan spermatozoa
kapasitasi.
Logika perhitungan menunjukkan bahwa hasil perolehan
embrio dalam satu tahun dari seekor induk donor dengan rekayasa proses
menggunakan satu hormon (PGF-2α) dua kali lipat dibanding dengan tanpa
menggunakan hormon, yaitu (17-18) : 36 embrio. Mengacu pada logika ini
diharapkan bahwa dengan melibatkan dua macam atau lebih hormon
(gonadotropin, GnRH, PGF-2α) dalam program superovulasi. Dari seekor
induk donor dalam satu tahun minimal diperoleh angka harapan perolehan
embrio in vivo sejumlah dua kali lipat dibanding dengan menggunakan
hanya satu hormon saja, yaitu 36 : 72 embrio. Atau dengan perkataan lain
empat kali lipat dibanding tanpa menggunakan hormon, yaitu (17-18) : 72
embrio.
Angka
harapan perolehan 72 embrio per tahun inilah yang sementara ini menjadi
acuan dalam program superovulasi. Sehingga satu ekor induk diprogram
superovulasi empat kali atau setiap 3 bulan sekali dalam satu tahun dan
diharapkan setiap kali program memperoleh minimal 18 embrio. Mengacu
pada lama siklus birahi rata-rata 21 hari, maka program superovulasi
dilakukan setiap periode sekitar 4-5 siklus atau 5-6 kali pengamatan
birahi normal yang teratur. Artinya setiap setelah beristirahat selama
3-4 siklus dilakukan program superovulasi.
Setelah satu tahun
berproduksi melalui program superovulasi, tahun berikutnya induk donor
diistirahatkan atau tidak produksi embrio. Induk donor ini kemudian
dibuntingkan dan melahirkan sebagaimana biasanya, agar fungsi
endokrinologis reproduktif berjalan kembali secara alami. Mengacu pada
aturan pada umumnya, yaitu masa produktif sapi adalah sampai dengan umur
10 tahun atau telah 8 kali beranak dengan calving interval 1 tahun dan
beranak pertama umur 2 tahun. Selain itu sebagai induk donor
dipersyaratkan minimal telah beranak 2 kali atau sekitar umur 3 tahun.
Maka masa produktif sapi donor menjadi sekitar 7 tahun. Bila seekor
induk diprogram superovulasi berselang seling dengan istirahat
(bunting), berarti masa produktivitas embrio selama hidupnya adalah 3-4
kali. Kalau setiap tahun dapat diperoleh 72 embrio, maka selama hidup
seekor sapi induk mempunyai angka harapan produktivitas minimal 216-288
embrio. Pengertian embrio adalah sebagai benih yang akan menjadi
pedet yang terlahir dari sapi induk resipien. Suatu jumlah yang cukup
fantastis dan spektakuler, dari satu ekor induk donor yang notabene
superior nilai genetisnya dalam satu tahun mempunyai anak keturunan
sekitar 216-288 ekor pedet, ditambah 3-4 ekor pedet hasil kelahiran
sendiri dalam masa istirahat tidak produksi embrio. Dibanding bila
bunting secara alami hanya diperoleh satu ekor pedet saja dalam satu
tahun. Maka jumlah 216-288 plus 3-4 ekor pedet merupakan peningkatan
efisiensi reproduksi yang cukup signifikan. Meskipun ada kemungkinan
angka keberhasilan itu kurang dari 100%. Sebagaimana diketahui bahwa
bakal calon sel telur telah tumbuh sejak masa janin dalam bentuk
primitif primordial germinative cell. Terus bertumbuh seiring
bertambahnya usia dan semakin pesat tumbuh kembang dalam jumlah ribuan
pada masa dewasa kelamin dengan berbagai tahapan ,antara lain oosit
primer, sekunder sampai tahapan folikel primer, sekunder, tersier dan
folikel de Graaf. Lebih dari itu setiap episode siklus birahi terdapat
satu sampai tiga gelombang folikuler tergantung tingkat fertilitas
masing-masing sapi induk donor. Secara teoritis setiap siklus
birahi dan bahkan setiap gelombang folikuler dapat dilakukan program
superovulasi. Maka dapat diperhitungkan berapa angka harapan perolehan
embrio dalam satu tahun dari satu ekor induk donor. Dengan mengacu pada
angka harapan perolehan 18 embrio setiap kali program superovulasi,
berarti dalam satu tahun 365 hari, rata-rata siklus birahi 21 hari dan
rata-rata terdapat dua gelombang folikuler, akan didapat tidak kurang
dari 648 embrio. Suatu angka efisiensi reproduksi yang cukup fantatis
dan spektakuler. Bandingkan dengan tanpa rekayasa superovulasi
bahwa dalam satu tahun hanya diperoleh satu ekor pedet keturunannya.
Suatu harapan, tantangan dan peluang. Bioteknologi reproduksi adalah
salah satu cabang disiplin ilmu yang berkaitan dengan ranting ilmu lain,
antara lain fisiologi reproduksi, embriologi, endokrinologi,
farmakologi, genetika, dll yang semua melekat erat pada profesional
dokter hewan. Mampukah menjawab harapan, tantangan dan peluang ini ?
Lebih dari itu jangan sampai kecabangan bioteknologi reproduksi ini
jatuh ke tangan orang tertentu, dikerjakan oleh fihak-fihak lain yang
tidak profesional dalam bidang teresebut. Tanggung jawab moral secara
profesional dan proporsional tetap harus berada di tangan profesi dokter
hewan. Sumber: artikel drh. M. Arifin Basyir (vet-indo.com)
Usaha meningkatkan produksi peternakan dilakukan untuk
mengatasi kurangnya konsumsi protein hewani dan rendahnya penghasilan
masyarakat Indonesia. Salah satu usaha kea rah tersebut adalah penerapan
teknologi modern dalam reproduksi. Teknologi yang dimaksud adalah
Inseminasi Buatan (IB) dan transfer embrio (TE) (Toilihere, 1987).
Transfer
embrio adalah suatu proses dimana embrio dipindahkan dari seekor hewan
betina yang bertindak sebagai donor pada waktu embrio tersebut belum
mengalami implantasi, kepada seekor betina yang bertindak sebagai
ppenerima sehingga resepien tersebut menjadi bunting (Hartantyo, 1987).
Transfer
embrio banyak dibicarakan di Indonesia pada akhir tahun 1982, sejak
datangnya seorang tamu penceramah dari Amerika Serikat yang menyampaikan
suatu bahasan mengenai TE. Ceramah diadakan di Balai Penelitian Ternak
Ciawi yang diikuti oleh para cendekia peternakan dari kalangan perguruan
tinggi, lembaga penelitian maupun Direktorat Jenderal Peternakan
(Martojo, 1987). Sedangkan teknologi transfer embrio untuk
pertama kali diintroduksi pada sapi di Cicurug Jawa Barat pada tahun
1984 dengan menggunakan embrio beku import dari Texas, USA. Transfer
dilakukan pada 77 ekor resepien dengan cara pembedahan lewat daerah
kampong oleh tim dari Granada Livestock Transplant Co, USA (Putro,
1994). Manfaat Transfer Embrio Beberapa manfaat dari teknologi transfer embrio adalah: 1.
Untuk meningkatkan populasi ternak unggul. Seekor sapi betina hanya
mampu menghasilkan 7 keturunan selama hidupnya, sedangkan dengan
penerapan TE maka seekor sapi betina mampu menghasilkan 448 keturunan
selama hidupnya. (Rutledge, 1987). 2. Import dan eksport embrio
sebagai ganti ternak dewasa sehingga biasanya menjadi lebih ekonomis.
Transfer embrio juga memungkinkan hewan melahirkan anak dari spesies
lain, misalnya kuda melahirkan zebra, domba melahirkan kambing seperti
yang terjadi di Louisville Zoo (Atmawidjaja, 1987). 3. Manfaat
lainnya adalah memperoleh keturunan dari induk yang kurang fertile,
induk yang dimaksud adalah betina yang menderita oobstruksi tuba falofia
yang bilateral total dan betina yang menderita adesi fimria bilateral
total (Martojo, 1987). Prosedur Transfer Embrio Seleksi Hewan Donor dan Resepien Seleksi
sapi betina donor untuk transfer embrio harus mempertimbangkan
faktor-faktor ekonomis dan genetic yaitu mempunyai produktivitas yang
tinggi, sehat, mempunyai siklus birahi yang regular mulai pubertas.
Angka servis tiap konsepsi tidak lebih dari 2. Mempunyai kinerja yang
baik, dan tidak pernah mengalami kesulitan melahirkan maupun gangguan
reproduksi yang lainnya. Sedangkan syarat hewan resepien adalah sapi
muda yang bebas penyakit, kinerja yang bagus, dan proses kelahiran
sebelumnya mudah. Kandidat resepien perlu diperiksa dengan cermat
kondisi kesehatan tubuh maupun status reproduksinya (Putro, 1994). Superovulasi Hewan Donor Superovulasi
adalah suatu usaha yang dilakukan untuk mendapatkan ova lebih banyak
dibandingkan dengan keadaan normalnya dengan memberikan hormone dari
luar (Hartantyo, 1987). Superovulasi memerlukan sediaan gonadotropin
yang kaya akan atau meniru efek FSH (follicle stimulating hormone).
Disamping itu FSH harus ada dalam periode yang cukup untuk memacu
pertumbuhan dan pematangan akhir folikel. Sediaan FSH, PMSG (Pregnant
mare’s serum gonadotropin) dan HCG (human chorionic gonadotropin)
merupakan agen gonadotropin yang lazim digunakan untuk superovulasi.
Hasil superovulasi meliputi jumlah embrio dan kualitas embrio sangat
bervariasi dan sulit diramalkan. Respon hewan terhadap preparat
gonadotropin tergantung dari musim, bangsa, makanan, macam preparat yang
dipakai, berat hidup, umur, fase dari siklus birahi, dan frekuensi
pemberian dan dosis gonadotropin yang digunakan (Hartantyo, 1987). Preparat
gonadotropin dapat diberikan pada fase luteal yaitu hari ke-8 sampai 12
siklus birahi yang diikuti dengan pemberian preparat prostaglandin
F2-alfa (PGF2-alfa) untuk melisiskan corpus luteumnya; pada fase
proestrus yaitu hari ke-16 sampai 20 siklus birahi tanpa diikuti dengan
pemberian PGF2-alfa. Jika superovulasi menggunakan PMSG maka PGF2-Alfa
diberikan 48 jam setelah menyuntikkan PMSG, namun jika menggunakan FSH,
maka PGF2-Alfa diberikan pada hari ke-3 atau bersamaan dengan pemberian
FSH yang ke-5. Dosis FSH yang telah digunakan pada sapi Bali adalah 24
mg untuk setiap ekor sapi, yang dibagi menjadi 8 dosis dan diberikan 2
kali sehari selama 4 hari berturut-turut (Putro, 1986; Hartantyo, 1987). Di
Indonesia PMSG lebih banyak digunakan karena dapat diperoleh dengan
mudah dan lebih murah dibandingkan dengan FSH-P. Pregnant mare’s serum
gonadotropin merupakan glikoprotein komplek yang mempunyai aktivitas
biologi seperti FSH dan LH; dimana aktivitas FSHnya lebih besar. PMSG
mengandung asam sialat 10,8% yang berfungsi mencegah degradasi
glikoprotein hormone oleh hati (Bindon and Piper, 1986). Pada spi
PMSG mempunyai daya kerja yang cukup panjang waktu paruhnya, yakni
antara 2-5 hari, sedangkan residunya tetap ada dalam sirkulasi darah
sampai 10 hari. PMSG bekerja dengan kemampuannya mencegah atau
menghambat proses atresia dari folikel ovaria (Putro, 1994). Sediaan
PMSG di Indonesia dapat diperoleh dengan mudah, dengan merk dagang
Folligon. Dosis PMSG yang dianjurkan pada sapi adalah 1:500-3.000 IU
yang disuntikkan secara intramuskuler tiap donor sapi. Untuk membantu
proses ovulasi dan mencegah terjadinya folikel anovulasi kadang-kadang
perlu diberikan HCG awal birahi dengan dosis 1.500-3.000 IU per ekor
(Anon, 1991). Waktu paruh PMSG yang panjang menimbulkan problema
overstimulasi ovaria. Problem ini dapat diatasi dengan injeksi intravena
antibody monoclonal terhadap PMSG (anti-PMSG) pada saat inseminasi.
Anti-PMSG akan menetralisir PMSG yang ada dengan menurunkan 85%
konsentrasi PMSG di darah dalam waktu 1 jam dan sampai konsentrasi yang
tidak dapat dideteksi lagi dalam waktu 2 jam. Salah satu anti-PMSG yang
dapat diperoleh di pasaran adalah Neutra-PMSG (Putro, 1994). Sinkronisasi Birahi Sinkronisasi
birahi adalah suatu usaha yang dilakukan untuk mengendalikan siklus
birahi sekelompok hewan betina sehingga birahi terjadi dalam waktu yang
bersamaan atau paling tidak dalam waktu 2 atau 3 hari. Dalam program TE
teknik sinkronisasi birahi dapat dipakai untuk menyeragamkan stadium
siklus birahi antara hewan donor dan hewan resipien. Pemindahan embrio
dapat dilaksanakan dengan berhasil ke dalam uterus hewan resipien jika
stadium siklus birahinya bersamaan dengan keadaan uterus hewan donor
(Toilihere, 1981). Sinkronisasi perlu dilakukan setelah perlakuan
superovulasi agar waktu ovulasi terjadi dalam waktu bersamaan. Untuk
keperluan ini perlu adanya induksi luteolisis dengan agen luteolitik.
Agen luteolitik yang sudah teruji manfaatnya adalah PGF2-Alfa. Birahi
pada sapi yang sudah di superovulasi akan timbul dalam waktu 36-48 jam
setelah pemberian PGF2-Alfa. Untuk perlakuan sinkronisasi birahi betina
resipien perlu diketahui terlebih dahulu siklus birahinya, karena corpus
luteum sapi peka terhadap PGF2-Alfa hari ke-5 sampai 14 siklus birahi.
Jika pada waktu korpus luteum peka diberi perlakuan maka birahi akan
timbul 1-4 hari atau rata-rata 2 hari setelah penyuntikan PGF2-Alfa.
Jika kita belum mengetahui siklus birahi sapi tersebut maka dilakukan
penyuntikan PGF2-Alfa 2 kali dengan interval 10 hari (Hartantyo, 1987). Sediaan
prostaglandin yang tersedia di pasaran antara lain: Estrumate
(Cloprostenol, ICI Pharm. Co, Cambridge, UK) dosis luteolitiknya 500 mg;
Reprodin (Luprostiol, Bayer Indonesia) dosis luteolitiknya 15 mg;
Lutalyse (Dinoprost tromethamine, Upjohn, Kalamazoo, USA); dan Prosolvin
(Luprostiol, Intervet Int. B.V., Bormeer, Holland) dosis luteolitiknya
15 mg. aplikasi sediaan prostaglandin tersebut dianjurkan dengan cara
injeksi intramuskuler (Putro, 1994). Perkawinan Hewan Donor Perkawinan
hewan donor dapat dilakukan kawin alami atau inseminasi buatan (IB).
Apabila dikawinkan secara IB maka diperlukan dosis ganda yang
aplikasinya satu dosis diberikan 6 jam setelah menunjukkan gejala birahi
dan satu dosis lagi diberikan 6 jam kemudian (Hartantyo, 1987; Putro,
1986). Pemanenan Embrio dari Donor Koleksi
embrio hewan donor dapat dilakukan pada hari ke-6 sampai 8 setelah
perkawinan, pada waktu embrio sudah berada pada kornua uteri. Pemanenan
embrio yang sudah pernah dilakukan pada sapi Bali yaitu pada hari ke-7
setelah perkawinan.
Perlengkapan yang diperlukan untuk pemanenan embrio adalah: 1. Sterio mikroskop 2. Foley cateter 3. Larutan PBS 4. Pipa kaca berbentuk Y 5. Cawan petri 6. Selang dan jarum suntik Hewan
donor dipersiapkan terlebih dahulu dengan jalan disuntik acethyl
promazin dosis 6 mg per ekor.Selanjutnya sapi dimasukkan ke kandang
jepit, daerah sekitar vulva dibersihkan dan diberi desinfektan dan
alcohol 70%. Anastesi epidural dilakukan segera sebelum katerisasi,
dengan Lignocaine 2% dosis 4-6 ml. Manfaat anastesi yang diberikan
adalah untuk mengurangi rasa sakit, mencegah pengejanan maupun
pengeluaran kotoran yang mengganggu pelaksanaan pembilasan. Cara Pemanenan: 1. Stilette Cassou Insemination Gun dimasukkan ke dalam kateter supaya menjadi kaku, selanjutnya kateter diberi pelumas. 2.
Dengan palpasi rectal, kateter dimasukkan perlahan-lahan melewati
vagina, cerviks, terus ke kornua uteri sampai 2/3 panjang kornua. 3.
Selanjutnya balon kateter diisi udara atau air sebanyak 5 ml, kemudian
stiletto gun ditarik. Pipa kaca berbentuk hurup Y dipasang, dimana
ujung-ujungnya telah terpasang selang penghubung. 4. Larutan PBS dimasukkan tiap-tiap 30-60 ml tergantung besar hewan sampai menghabiskan 500 ml setiap kornua. 5.
Hasil bilasan uterus ditampung dalam beker gelas dan dibiarkan
mengendap selama 30 menit, selanjutnya supernatannya dibuang dan sisanya
dievaluasi di bawah sterio mikroskop. Evaluasi embrio dilakukan
di bawah sterio mikroskop dengan pembesaran lebih dari 40 kali. Embrio
yang didapat harus mempunyai stadia yang relative sama; yaitu stadium
morula (32 sel), morula kompak (blastomer memadat menjadi masa yang
lebih kompak), dan blastosis awal (mempunyai blastosel). Adanya embrio
yang stadium pertumbuhannya kurang dari 32 sel menunjukkan adanya
kelambatan pertumbuhan. Embrio yang didapat dari media pembilas diambil
menggunakan mikropipet, selanjutnya dimasukkan ke dalam straw mini atau
medium bening yang transparan. Transfer Embrio ke Betina Resipien Transfer
embrio segar maupun beku ke resipien dilakukan pada hari siklus birahi
yang sama dengan umur embrio (karena embrio dipanen pada umur 7 hari)
maka siklus birahi resipien yang dapat dipakai adalah 7 ± 1 hari setelah
birahi atau birahi hewan donor dan resipien minimal dalam 24 jam
(Heath, 1982). Transfer dilakukan langsusng ke kornua uteri
kurang lebih 5-10 cm dari bifurkasio uteri. Resipien yang tidak
menunjukkan gejala birahi setelah 3 siklus birahi yang diharapkan dapat
dilakukan pemeriksaan kebuntingan per rectal untuk menentukan berhasil
tidaknya program transfer. Pemeliharaan resipien yang telah bunting sama
seperti pemeliharaan-pemeliharaan pada hewan bunting pada umumnya. Sumber: I Nyoman Sumandia, Dosen FKH Universitas Udayana, Bali
Inseminasi
buatan pada hewan peliharaan telah dilakukan sejak beberapa abad yang
lampau. Seorang pangeran Arab yang berperang melawan pangeran lain
(tetangganya) pada permulaan abad ke-14, dengan menggunakan suatu tampon
kapas, telah mencuri semen dari dalam vagina seekor kuda betina
musuhnya yang baru saja dikawinkan dengan pejantan terkenal yang cepat
larinya. Tampon tersebut kemudian dimasukkan ke dalam vagina kudanya
sendiri yang sedang birahi, dan ternyata kuda betina tersebut menjadi
bunting dan melahirkan anak yang tampan dan cepat larinya. Sesudah itu
tidak ada catatan mengenai pelaksanaan inseminasi buatan atau penelitian
kea rah penggunaan teknik tersebut.
Tiga
abad kemudian, yaitu pada tahun 1677, Anton Van Leeuwenhoek, sarjana
Belanda penemu mikroskop dan muridnya Johan Hamm merupakan orang pertama
yang melihat sel-sel kelamin jantan dengan mikroskop buatannya sendiri.
Mereka menyebut sel-sel kelamin jantan yang tidak terhitung banyaknya
itu sebagai “animalculae” yang berarti jasad-jasad renik hewani yang
mempunyai daya gerak maju progresif. Di kemudian hari sel-sel kelamin
jantan tersebut dinamakan spermatozoa. Pada tahun berikutnya, 1678,
seorang dokter dan anatom Belanda, Reijnier (Regner) de Graaf menemukan
folikel dalam ovarium kelinci. Penelitian ilmiah yang pertama
dalam inseminasi buatan pada hewan peliharaan dilakukan oleh fisiolog
dan anatom Italia terkenal yaitu Lazaro Spallanzani pada tahun 1780.
Setelah berhasil menginseminasi amphibian ia memutuskan untuk
melanjutkan percobaannya pada anjing. Anjing-anjing betina dikandangkan
dalam rumahnya sendiri dan sesudah lewat 20 hari, seekor anjing betina
memperlihatkan tanda-tanda birahi yang nyata. Anjing tersebut
diinseminasi dengan semen (pada suhu tubuh) yang dideposisikan langsung
ke dalam uterus dengan menggunakan spuit lancip. 62 hari sesudah
inseminasi induk anjing tersebut melahirkan 3 anak yang kesemuanya bukan
saja serupa dengan induknya tetapi juga mirip anjing buatan yang
dipakai semennya. Pada tahun 1782 percobaan Spallanzani diulangi
oleh P. Rossi (Italia) dengan hasil memuaskan. Semua percobaan ini
membuktikan bahwa kebuntingan dapat terjadi dengan menggunakan
inseminasi dan menghasilkan turunan yang normal. Spallanzani
selanjutnya membuktikan bahwa daya membuahi semen terletak pada
spermatozoa, bukan pada cairan semen. Hal ini dibuktikan dengan
menyaring semen yang baru ditampung, cairan yang melewati saringan tidak
mempunyai daya membuahi sedangkan yang tertinggal di atas filter
mempunyai daya fertilisasi yang tinggi. Inseminasi buatan pertama
kali digunakan pada peternakan kuda di Eropa pada tahun 1890 ketika
seorang dokter hewan Prancis, Repiquet menasehatkan pemakaian teknik
tersebut sebagai suatu cara untuk mengatasi kemajiran. Pada waktu itu
dalam beberapa peternakan kuda di Eropa persentase konsepsinya sangat
rendah sehingga dilakukan penelitian-penelitian dalam usaha untuk
mengatasinya. Profesor Hoffman dari Stuttgart, Jerman menganjurkan
inseminasi buatan sesudah perkawinan alam. Setelah perkawinan alam,
vagina dikuakkan dengan speculum dan semen diambil dengan spuit,
kemudian dicampur dengan susu sapi dan diinseminasikan lagi ke dalam
uterus hewan tersebut. Pada tahun 1902, Sand dan Stribolt dari
Denmark, setelah berhasil memperoleh 4 konsepsi dari 8 kuda betina yang
diinseminasi, menganjurkan inseminasi buatan sebagai suatu cara yang
ekonomis dalam penggunaan dan penyebaran semen dari kuda jantan yang
berharga dan untuk memajukan peternakan pada umumnya. Dalam
perkembangan selanjutnya tercatat Rusia menjadi Negara pertama yang
menggunakan metode inseminasi buatan secara serius sebagai suatu cara
untuk memajukan peternakan. Peneliti Rusia yang terkenal dan pelopor
terkemuka di bidang inseminasi buatan adalah Profesor Elia Ivannoff.
Ivannoff yang pertama kali berhasil melakukan inseminasi buatan pada
sapi dan domba. Selain inseminasi pada kedua ternak tersebut, inseminasi
pada kuda juga berhasil di bawah pengawasannya. Di Askaniya-Nova pada
tahun 1912 inseminasi pada 39 ekor kuda betina menghasilkan 31 konsepsi,
sedangkan dengan perkawinan alam hanya diperoleh 10 konsepsi dari 23
kuda betina. Dengan keberhasilan inseminasi buatan oleh Ivannoff
tersebut telah mengundang banyak perhatian dan kemudian mendorong
pemerintah Rusia mendirikan laboratorium kedokteran hewan pada
Departemen Pertanian dengan tujuan utama untuk mempelajari fisiologi
pembuahan dan melatih dokter-dokter hewan dalam teknik inseminasi
buatan. Pada tahun 1914 seorang guru besar fisiologi manusia di
Roma, Giuseppe Amantea melakukan penelitian-penelitian mengenai
spermatologi. Ia menggunakan anjing, ayam dan burung merpati sebagai
hewan percobaan. Dan penemuan terbesarnya yang membantu perkembangan
inseminasi buatan adalah vagina buatan (artifisian vagina) pertama pada
anjing, dan selanjutnya vagina buatan tersebut dapat digunakan dan
dikembangkan banyak peneliti di Rusia untuk membuat vagina buatan untuk
sapi, kuda dan domba. Penemuan vagina buatan ini merupakan suatu
sumbangan yang sangat berharga dan satu langkah maju dalam inseminasiu
buatan, karena dengan menggunakan vagina buatan semen yang
diejakulasikan dapat ditampung seluruhnya dan juga dapat menghindari
kontaminasi dan kemungkinan infeksi dari vagina hewan betina. Penggunaan
inseminasi buatan secara besar-besaran pada sapi dilakukan oleh
Milovanov (Rusia) sejak tahun 1931. Sampai tahun 1936 di Rusia telah
dilakukan inseminasi buatan pada 6,45 juta ekor domba dan 230.000 ekor
sapi. Pada tahun 1938, angka-angka ini meningkat menjadi 120.000 kuda,
1,2 juta sapid an 15 juta domba. Di Rusia, inseminasi pada domba telah
menjadi sangat popular dan kebanyakan peternakan dan kawanan domba
inilah satu-satunya cara beternak yang digunakan. Di luar Rusia,
Denmark menjadi negara yang pertama-tama memulai dan menganjurkan
pekerjaan-pekerjaan secara sistemik mengenai inseminasi buatan.
Professor Eduard Sorensen dan Jens Gylling-Holm mengorganisir koperasi
inseminasi buatan yang pertama di Denmark pada tahun 1936. Pada
tahun 1949 ditemukan teknik pembekuan semen sapi oleh C. Polge, A.U.
Smith dan A.S. Parker di Inggris. Penemuan ini mempercepat kemajuan
inseminasi buatan. Mereka berhasil menyimpan semen untuk jangka panjang
dengan membekukannya sampai -79 ⁰C dengan menggunakan CO₂ padat (dry
ice) sebagai pembeku dan glycerol sebagai pengawet. Penggunaan nitrogen
cair kemudian ternyata lebih praktis dan semen dapat lebih tahan lama
hidup dengan suhu penyimpanan -196 ⁰C. Kemajuan inseminasi buatan
dilaporkan pada tahun 1970 telah berhasil menginseminasi lebih dari 30
juta ekor sapi di Eropa, 20 juta di Rusia, 10 juta di Amerika Utara dan 2
juta di Amerika Selatan. Sejarah dan Perkembangan inseminasi Buatan di Amerika dan di daerah Tropis Inseminasi
buatan di Amerika Serikat diperkenalkan pada tahun 1937 dan koperasi
inseminasi buatan yang pertama didirikan pada tahun 1938, namun teknik
inseminasi buatan ini baru dapat diterima oleh masyarakat peternak pada
tahun 1945. Sampai pada tahun 1950 barulah terlihat pengaruh-pengaruh
genetic terhadap populasi ternak sapi. Pada tahun 1956 sebanyak 21 %
sapi perah di Amerika Serikat diinseminasi secara buatan, pada 1969
meningkat menjadi 52 % atau 8 juta sapi. Selain bertujuan untuk
meningkatkan populasi, perkembangan inseminasi buatan di Amerika juga
dimanfaatkan sebagai alat untuk mengendalikan penyakit dan menaikkan
mutu genetik. Meski demikian inseminasi buatan ini tidak dipakai secara
luas untuk menaikkan mutu ternak sapi perah di Amerika Serikat.
Perkembangan inseminasi buatan komersial pada sapi perah di Amerika
Serikat merupakan hasil sumbangan dari Institut Pertanian dan
Universitas-universitas di seluruh negeri itu. Sedangkan
perkembangan inseminasi buatan pada beberapa negara berkembang sesudah
tahun 1960 atau setelah informasi tentang inseminasi buatan diketahui.
Selama periode 1960-1970 banyak publikasi yang menyarankan pentingnya
peningkatan persediaan makanan, terutama makanan yang berasal dari
ternak untuk memenuhi kebutuhan konsumsi populasi manusia yang bertambah
banyak. Sebagai akibatnya banyak perhatian yang dicurahkan untuk
pengembangan dan penerapan teknik-teknik beternak modern, seperti
inseminasi buatan untuk mengintensifkan produksi ternak. Perkembangan
yang menonjol dalam periode 10 tahun tersebut adalah: inseminasi buatan
pada babi telah berkembang di Hongkong, Srilanka, Tiongkok Selatan,
Thailand, Filipina, Jamaica, Australia dan Burma. Selain itu berkembang
inseminasi buatan pada kerbau di India dan Pakistan. Inseminasi
buatan pada babi di Burma, Jamaika, Thailand dan Taiwan menunjukkan
hasil-hasil positif. Perkembangan inseminasi buatan pada babi sangat
pesat terjadi di Hongkong dimulai sejak tahun 1958-1959. Inseminasi
buatan pada domba tidak mempunyai arti praktis di daerah-daerah tropis
demikian pula inseminasi buatan pada kambing tidak mendapat perhatian. Di
India, inseminasi buatan pada kerbau mencapai 54,2 % konsepsi,
sedangkan di Pakistan persentase kerbau betina yang tidak kembali minta
kawin mencapai 80,9 %. Di jamaika, pelayanan inseminasi buatan
berkembang atas usaha dan rangsangan program pengembangan peternakan
dari pihak pemerintah. Target program tersebut adalah meningkatkan
produksi susu menjadi 3 kali lipat pada tahun 1975. Sebagian besar
pelaksanaan inseminasi buatan masih menggunakan semen cair. Semen beku
dan nitrogen cair sebagai bahan pengawet baru diperkenalkan pada tahun
1962. Kenya memberikan suatu gambaran perkembangan inseminasi
buatan pada sapi secara mantap. Antara tahun 1948-1958 jumlah sapi yang
diinseminasi menanjak dari 10.503 menjadi 101.345 dan mencapai 259.219
pada tahun 1967. Peningkatan ini dari 6 kali lipat selama 10 tahun
meningkat menjadi 18 kali lipat dalam masa 18 tahun.